
"Jam berapa kita balik??" tanya Do Hwan pada manager mereka . Ini sudah hari ke dua setelah berita itu tersebar dan dia sama sekali tidak bisa menghubungi Tiffany.
"Jam 10 setelah sarapan. Tapi nanti setelah sampai kau harus langsung ke kantor Do Hwan," jawab sang Manager.
Do Hwan tahu, dia di panggil ke kantor pasti untuk membahas tentang berita dia berkencan dengan Irene. Do Hwan pun tahu teman-temannya juga sedang menunggu penjelasan darinya. Tapi itu semua tidak penting, dia tidak peduli, yang di pikirannya dia hanya ingin bertemu Tiffany dan menjelaskan semuanya. Dia tak berhenti mengecek ponselnya, tapi Tiffany sama sekali tidak membalas pesannya. Do Hwan benar - benar khawatir.
***
"Bagaimana bisa kau terkena demam di cuaca panas seperti ini Tiff??" Amber meletakan kain kompresan di dahi Tiffany yang nampak pucat. Tubuhnya menggigil.
Hans mondar mandir.
"Kita kerumah sakit yaa??"
Tiffany menggeleng, dia tidak mau ke rumah sakit, dia tidak ingin ada berita tentang dia yang sakit.
"Terus kenapa ponselmu di matikan? Jika aku dan Amber hari ini tidak datang, kami pasti tidak tahu jika kamu sakit Tiff." Hans mulai mengomeli Tiffany. Tangannya tiba-tiba di pegang Amber yang menggeleng memberi kode agar Hans berhenti mengomeli Tiffany.
"Kalau kamu menganggap kami ini keluargamu, please, hubungi kami jika kamu ada masalah." Hans duduk di tepi ranjang Tiffany. Dia memperbaiki letak selimutnya. Dia dan Amber pagi ini, sengaja datang untuk menjemput Tiffany karena ada jadwal untuk hadir di acara talkshow nanti siang. Tapi ponsel Tiffany sama sekali tidak bisa di hubungi. Saat mereka datang, mereka menemukan Tiffany dengan wajahnya yang pucat dan suhu tubuh yang tinggi.
****
"Kalian bisa langsung pulang dan istirahat, Kang Do Hwan, kau ikut aku ke kantor." Manager TheFive menuju ke mobil, Do Hwan dengan berat hati mengikutinya.
Sesampainya di XeonEnt. Mereka segera menuju ke ruangan direktur. Disana sudah menunggu Irene dan managernya.
"Jadi Do Hwan, Irene, bagaimana? apa yang akan kalian jelaskan kepada kami?"
"Tidak ada!!" jawab Do Hwan cepat. Dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini dan bertemu dengan Tiffany.
"Maksudmu?" Mr. Kwang Direktur Xeon Ent. bertanya.
"Tidak ada yang perlu di jelaskan karena itu semua tidak benar."
" Tapi Kak..." Irene bersuara memelas.
"Begini Do Hwan, situasi sekarang sangat tidak baik, apalagi untuk Irene karena dia baru saja debut, jadi kami meminta bantuanmu dan juga XeonEnt," pinta manager Irene.
"Tolong jangan sangkal berita itu, karena jika kau menyangkal maka akan berdampak buruk bagi Irene."
"Haa?? dia juga tidak peduli dengan imagenya, untuk apa aku peduli, yang jelas aku tidak ada hubungan apa -apa dengannya."
Irene menatap Do Hwan kesal
"Bolehkah kita bicara berdua Kang Do Hwan??" Irene berdiri dan memberi kode agar Do Hwan mengikutinya. Dengan malas Do Hwan pun menurut.
"Apa yang mau kau bicarakan??" Do Hwan melipat kedua tangannya saat dia dan Irene sudah berada di ruangan lain.
"Jangan sangkal berita itu!!!"
"Maksudmu aku harus mengiyakan berita kita berkencan??!"
"Iya..."
"Hahaha!! apa kau sudah gila??! kita tidak pernah berkencan , TIDAK AKAN PERNAH!!!"
"Apa kau yakin???"
__ADS_1
"Tentu saja."
" Tapi aku sangat menyukaimu Kang Do Hwan."
"Aku tidak peduli."
"Kalau begitu, apa kau juga tidak peduli dengan ini??" Irene menunjukan foto di ponselnya. Terlihat Tae Oh dan Jerry sedang memapah Irene. Foto itu tampaknya di ambil secara diam-diam saat mereka makan bersama dan Irene mabuk.
"Apa maksudmu??"
"Aku akan mengirimkan foto ini ke wartawan dan mengatakan bahwa Tae Oh dan Jerry melakukan pelecehan padaku"
"Kau memang wanita gila!!!!!" Kemarahan Do Hwan memuncak, dia benar-benar tidak menyangka Irene bisa selicik itu.
"Bagaimana bisa kau setega itu pada Tae Oh dan Jerry, pada malam mereka bahkan membantu mencarikan taxi untukmu pulang, bahkan mereka selalu baik padamu, tapi kau tega menfitnah mereka??"
"Aku kan sudah bilang, apapun akan ku lakukan asal kau menjadi milikku, jadi sekarang silahkan pilih." Irene tersenyum licik. "Jika kamu menolak, maka kamu akan melihat kehancuran Tae Oh dan Jerry, kemudian TheFive, bersiaplah ucapkan selamat tinggal Do Hwan."
Do Hwan maju dan menarik leher baju Irene, dia mengangkat tangannya hendak menampar Irene, tapi dia sadar, sangat tidak gentleman sekali jika dia harus memukul wanita. Dia melepaskan cengkramannya.
"Kau benar-benar licik. " Kemudian meninggalkan Irene yang tertawa penuh kemenangan.
****
Agensi Kang Do Hwan dan Irene Mengkonfirmasi Jika Kedua Artisnya Berkencan.
"Waaahhh,tidak kusangka Kang Do Hwan ternyata benar- benar berkencan." Amber membaca berita itu dengan seksama.
"Maksudmu??" tanya Hans.
"Iya mereka benar berkencan, agensi mereka berdua baru saja mengkonfirmasinya," Jelas Amber
"Kita tunggu di luar." Hans dan Amber keluar dari kamar dan Tiffany segera membuka matanya saat mendengar pintu kamarnya tertutup. Dadanya tiba-tiba sakit.
Sorenya Hans dan Amber pamit pulang setelah memastikan Tiffany sudah membaik. Demamnya sudah turun.
"Hubungi aku jika ada apa-apa," pesan Hans sebelum pulang.
Tiffany meraih ponselnya dan menyalakannya.
"Dimana? aku ingin bertemu."
Dia mengirim pesan pada Do Hwan.
"Tiffany, apa kau baik-baik saja?ayo bertemu, aku ingin kita bicara."
Do Hwan segera membalas pesan Tiffany, dia benar-benar merindukan Tiffany.
"Kita bertemu di taman dekat sungai."
"Baik, aku merindukanmu sayang."
Tiffany tersenyum pedih saat membaca pesan Do Hwan. Dia segera berganti baju,mengambil kunci mobilnya . Dengan terseok dia ke tempat parkir, matanya berkunang - kunang. Sepertinya memang dia tidak bisa mengemudikan mobil. Di raihnya ponselnya.
"Kak, bisa bantu aku...??"
Beberapa saat kemudian, mobil Jonathan memasuki tempat parkir. Di carinya mobil Tiffany. Tampak Tiffany bersandar di setir mobil dengan wajahnya yang pucat .
__ADS_1
"Tiffany, kamu baik-baik saja??" Jonathan khawatir melihat keadaan Tiffany. "Jangan bilang ini gara-gara berita itu?" gumannya.
"Kak Jonathan, tolong antar aku ke taman dekat sungai, aku harus menemui seseorang," pinta Tiffany lirih.
"Tapi Tiff, keadaan kamu sedang tidak baik."
"Pleaseee....."
Melihat Tiffany yang memelas meminta bantuannya, Jonathan segera memapah Tiffany dan memindahkannya ke kursi di samping kursi supir. Dia kemudian memacu kendaraan itu ke tempat yang diminta Tiffany.
"Berhenti disini."
"Apa perlu ku temani?"
"Gak perlu, kak Jonathan tunggu disini saja." Tiffany keluar dan berjalan perlahan ke arah mobil warna putih yang di parkir tidak jauh dari mobilnya.
Do Hwan membuka pintu mobilnya dan berlari memeluk Tiffany. Dia mencurahkan kerinduannya pada gadis yang sudah hampir tiga hari tidak ada kabar beritanya. Do Hwan melepaskan pelukannya memegang pipi Tiffany dan menatapnya dalam.
"Sayang, kamu sakit??" Do Hwan berubah khawatir saat melihat wajah Tiffany yang pucat.
"Ayo masuk ke mobilku." Do Hwan meraih tangan Tiffany tapi segera ditarik Tiffany dan dia mundur beberapa langkah kebelakang menjauhi Do Hwan. Do Hwan menatap Tiffany dengan heran.
"Tiffany,apa kamu sudah melihat berita itu?? Itu tidak benar sayang." Do Hwan maju mendekati Tiffany tapi saat melihat Tiffany kembali mundur dia pun berhenti.
"Tiffany, sayangku, aku mencintaimu. Hanya mencintaimu, tolong percaya padaku." Do Hwan memohon. Tiffany hanya diam membeku. Dia bahkan tidak menatap Do Hwan sedikitpun. Do Hwan ingin sekali berteriak, mengatakan semuanya tapi dia tidak ingin Tiffany lebih menjauh darinya.
" Tiffany, tatap aku. Kumohon..."
Tiffany menelan ludah, kemudian mengangkat kepalanya memandang Do Hwan. Dia maju perlahan mendekati Do Hwan. Di genggamnya tangan Do Hwan erat. Do Hwan tersenyum tapi kemudian senyumnya hilang saat merasakan ada sesuatu yang di letakkan Tiffany dalam genggamannya. Dia melihatnya dan tampaklah kalung dengan Liontin bintang yang diberikannya sebagai hadiah untuk Tiffany.
"Sayang,apa maksudnya ini??? " Do Hwan kembali menatap Tiffany. "Gak, jangan bilang kamu mau ninggalin aku??"
"Tiffany, jangan seperti ini, aku mencintaimu Tiffany!!"
" Kak Do Hwan, kita sudah selesai, jaga dirimu dengan baik." Tiffany langsung berbalik lari menuju mobilnya.
" Gak, Tiffany jangan pergi!!"Do Hwan mengejar Tiffany tapi segera di hadang Jonathan.
"Biarkan dia pergi."
"Minggir kamu!!!!" Do Hwan mendorong Jonathan tapi tidak membuat Jonathan bergeser.
" Biarkan dia sendiri, apa kamu tahu keadaannya seperti apa??kamu sudah menyakitinya Kang Do Hwan, jadi biarkan dia sendiri." Jonathan meninggalkan Do Hwan yang hanya bisa menatap kepergian mobil Tiffany.
"Aaarghhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!" Do Hwan berteriak meremas rambutnya. Air matanya menetes menatap liontin di tanganya.
******
Jonathan mengemudikan mobil Tiffany ke arah apartemenya. Mereka saling berdiam diri.
"Aku antar keatas yaa." Jonathan menemani Tiffany sampai di depan rumahnya.
"Makasih ya Kak." Tiffany membuka pintunya, saat dia hendak menutup pintu Jonathan menahannya dan memaksa masuk. Dia menarik tangan Tiffany sehingga gadis itu berada di pelukannya.
"Menangislah Tiffany. Aku akan ada untukmu." Jonathan memeluk Tiffany yang mencoba melepaskan pelukannya.
"Lepaskan rasa kecewamu Tiff, jangan kau pendam."
__ADS_1
Tiffany yang sebelumnya memberontak tiba-tiba terisak. Apa yang coba di tahannya selama beberapa hari kini tak bisa dibendung lagi. Hatinya hancur dan kecewa. Do Hwan yang katanya mencintai dirinya telah melukainya dengan dalam. Do Hwan yang dicintainya kini bukan miliknya lagi, dia harus ikhlas melepaskan Do Hwan dengan wanita lain dan dia harus melupakan cintanya.
"Menangislah Tiffany, silahkan menangis sekeras yang kamu mau, tapi setelah ini kamu harus melupakan semua rasa sakitmu." Jonathan membelai kepala Tiffany membiarkan gadis itu menumpahkan perasaanya.