
"Oke Cut!!!" Mr. Koh berteriak di balik kamera.
Amber segera mendekati Tiffany dan memakaikan mantel kepadanya.
Tiffany berjalan perlahan, sesaat kemudian dia merasa ada sesuatu yang di letakan di atas kepalanya . Dia menonggak dan nampaklah sebuah cangkir kertas yang di pegang Jonathan di atas kepalanya. Sementara itu Jonathan tersenyum jahil.
"Ihh, Kak Jonathan apaan siih." Tiffany mendorong Jonathan pelan. Jonathan terkekeh , kemudian menyodorkan cangkir kertas tadi yang ternyata berisi kopi hangat untuk Tiffany.
"Makasih Kak."
Hari ini sudah masuk tengah malam, dan mereka masih harus melanjutkan syuting. Mata Tiffany sudah mulai berat, tapi dia harus menunggu waktu takenya.
Sudah hampir 2 bulan mereka syuting, dan seperti yang di prediksi, drama mereka meraih rating tinggi.
mereka kemudian duduk di kursi yang tidak jauh dari ruang ganti.
"Kamu gak capek??" tanya Jonathan, dia tahu seharian ini Tiffany punya banyak jadwal.
"Hmm...,sedikit," jawab Tiffany sambil meminum kopinya . "Ahhhh, hangat."
Jonathan meraih satu tangan Tiffany dan memberikan sesuatu, yang ternyata permen coklat.
"Waww...,Thank you Mr. Santa Claus." Tiffany mengucapkannya sambil memasang wajah imut, kemudian segera memasukan permen itu kemulutnya. Jonathan tersenyum, selama 2 bulan syuting bersama mereka berdua semakin dekat. Mereka sudah tidak canggung untuk menghabiskan waktu break dengan bersenda gurau berdua. Bahkan bisa di bilang mereka selalu bersama. Tiffany pun sudah tidak malu ataupun sungkan untuk sekedar bermanja pada Jonathan.
"Itu kenapa???" Jonathan menunjuk punggung tangan Tiffany yang terluka
"Apa??" Tiffany yang tidak sadar jika tanganya terluka ikut melihat punggung tangannnya. " Aissh, pasti tergores di duri mawar, tadi bunga mawar yang ku pegang masih ada durinya." Dia mengibas-ngibaskan tangannya. Jonathan meronggoh kantung jaketnya, mengeluarkan plester luka, dan menempelkannya ke tangan Tiffany.
" Waah, itu kantong doraemon yaaa?? Hampir semuanya ada," ujar Tiffany, dia benar-benar penasaran karena Jonathan sering sekali mengeluarkan benda-benda yang di perlukan di dalamnya.
"Mau lihat isi kantongku??"
Jonatan melepaskan jaketnya kemudian mengeluarkan isi kantongnya. Permen cokelat, plester luka, permen karet, pena, koin, ponsel, sticky notes, bahkan pin bob ada di dalam kantongnya. Tiffany cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala saat melihatnya.
"Ting!"
Tiffany merogoh kantongnya mengambil ponselnya.
"Masih Syuting?"
"Iya masih."
"Jangan minum terlalu banyak kopi, aku sudah di rumah."
"Iyaaaa, kak Do Hwan tidur saja."
"Good night."
__ADS_1
Tiffany kembali memasukan ponselnya ke saku
"Pacar yaa??" tanya Jonathan.
"Eh gak kok," sangkal Tiffany.
"Kamu punya pacar??"
"Mmmm....,gak Kak."
"Pasti punya, karena setiap break kamu sering sekali mengecek ponselmu hehehe," kata Jonathan.
"Ihhhh...,gak ada, Kak Jonathan. Apaan sih?!" Tiffany mendorong Jonathan.
"Tiffany......." Hans tiba-tiba muncul, Tiffany berharap Hans tidak mendengar candaan Jonathan tadi.
"Iya Kak??!"
"Ibuku sakit, dan di bawa kerumah sakit."
"Sakit apa Kak?"
"Belum tahu."
"Ya udah Kakak segera ke rumah sakit aja."
"Tapi kamu nanti gimana??" Hans terlihat khawatir. Dia khawatir dengan ibunya, dan juga Khawatir dengan Tiffany.
"Tapi Amber tadi sudah minta Izin untuk pulang duluan selesai retouch make up kamu di scene akhir, karena pacarnya ulang tahun."
" Ya sudah, aku naik taksi ajah. Gak apa-apa kok."
"Jangan!!! ini sudah larut, sangat tidak aman buat kamu. Aku akan jemput kamu pas mau pulang nanti telepon saja yaaa."
"Tapi kan Rumah sakit jauh dari sini, kasihan Kak Hans harus bolak-balik." Tiffany tahu Hans juga lumayan capek hari ini.
"Pulang denganku saja." Jonathan menawarkan diri.
"Tapi kan, partnya Kak Jonathan sudah selesai??"
"Ahahaa, sudah sih, cuma Mr. Koh masih memikirkan buat di ulang lagi. Jadi aku harus menunggu juga."
"Mmmm.....," Tiffany berpikir, dia melirik ke arah Hans, tampak dia begitu gelisah karena Khawatir
"Oke, aku pulang bareng Kak Jonathan aja."
"Beneran Tiff??"
__ADS_1
"Iyaaaa, Kak Hans segera ke rumah sakit deh, nanti besok aku jenguk ibu yaaa."
"Baiklah, Jonathan aku titip Tiffany yaa."
"Siap Bos!!!" Ucap Jonathan tersenyum.
Hans pun bergegas meninggalkan lokasi syuting.
********
"Aaahhhhh...capeknyaaa."Tiffany merentangkan tangannya lebar-lebar . Dia benar-benar capek. Hari ini jadwalnya sangat padat, bangun dari subuh bersiap-siap, kemudian ke tempat launching seri make up terbaru dari brand yang sudah mengontrak dia menjadi Brand Ambassador sejak 3 tahun lalu, setelah itu menjadi bintang tamu di acara talk show, kemudian ke lokasi syuting. Jam menunjukan pukul 3 pagi. Dia sudah duduk manis di mobil Jonathan. Jonathan yang duduk di sampingnya sibuk bermain game di ponsel.
"Tidak ku sangka, seumuran Kak Jonathan masih senang main game juga," celutuk Tiffany yang tidak mendapat respon dari Jonathan yang tenggelam dalam permainan gamenya.
"Tidak usah heran Tiffany, Jonathan memang suka lupa umur." Min hyuk yang sedang menyetir di depan bersuara. Tiffany tertawa kecil.
Dia memperbaiki duduknya,menurunkan sedikt sandaran kursi dan mencoba untuk tidur karena jarak ke apartemennya masih lumayan jauh. Tak berapa lama, dia pun terlelap.
Jonathan menghentikan bermain game, mengambil selimut dari kursi belakang dan menyelimuti Tiffany. Wajah gadis itu nampak kuyu. Dia meraih ponselnya dan memotret Tiffany. Min Hyuk yang melihatnya lewat kaca spion hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan artisnya itu.
"Sudah sampai Jonathan! bangunkan Tiffany," ucap Min Hyuk menghentikan mobil di depan gedung Apartemen Tiffany.
"Dia tidak bilang tadi ,dia tinggal di lantai berapa, nomor berapa?"
"Maksudmu??untuk apa juga dia mengatakannya? jangan aneh-aneh deh. Sudah bangunkan Tiffany biar dia bisa istirahat."
" Yaa, kalau aku tahu kan, tidak perlu membangunkannya. Kasihan Tiffany jika harus di bangunkan." Jonathan menatap Tiffany yang masih terlelap.
Min Hyuk segera menoleh ke arah Jonathan.
"Apakah kau sudah gila Jonathan Kim?? kau mau menggendongnya ke dalam?? apa kau kira paparazi akan melepaskanmu begitu saja?? kau yang bangunkan atau aku??!!" suara Min Hyuk mulai meninggi, dia gemas dengan tingkah Jonathan
"Baiklah, baiklah. Kecilkan suaramu." Jonathan kemudian menepuk-nepuk lengan Tiffany pelan, "Tiff, Tiffany, hei bangun, kita sudah sampai." tapi Tiffany tidak bergerak sama sekali.
"Lebih keras Jonathan Kim!" Min Hyuk melotot ke arah Jonathan.
Jonathan mulai mengoyang-goyangkan tubuh Tiffany, "Tiffany....,bangun kita sudah sampai."
Tiffany nampak menggerakan kepalanya, dan membuka matanya perlahan.
"Ah sudah sampai yaa?" ucapnya masih setengah mengantuk. Jonathan hanya menggangukan kepalanya.
" Aku turun dulu ya, makasih atas tumpangannya Kak Jonathan, Kak Min Hyuk, sampai jumpa."
"Bye Tiff." Min Hyuk melambai ke arah Tiffany. Mereka menatap ke arah gadis itu sampai dia masuk ke apartemennya.
"Hoaaaaemmm..., ayo segera pulang. Aku sangat lelah." Jonathan menguap lebar.
__ADS_1
"Seharusnya kita sudah di rumah sejak 6 jam yang lalu, tapi kau terlalu banyak modus. Akhirnya kita harus pulang pagi," sindir Min Hyuk karena Jonathan sudah menyelesaikan scenenya lebih awal tapi memilih untuk tetap di lokasi.
"Yaah, aku hanya bosan jika harus pulang awal. Di lokasi lebih menyenangkan," kilah Jonathan sambil tersenyum senang, dia memang berbohong pada Tiffany soal Mr. Koh yang ingin mengulang scenenya, karena ia sudah menyelesaikannya dengan baik. Dia hanya ingin mengantar Tiffany pulang karena akhirnya dia bisa tahu dimana Tiffany tinggal.