When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 15


__ADS_3

Tiffany mengerjap-ngerjapkan matanya, melihat ke sekeliling. Nampak ada cahaya yang masuk di balik tirai jendelanya. Dia duduk dan melihat jam di ponselnya.


"Sudah jam 10 ternyata."


Dia mengucek-ngucek mata, dan turun dari ranjang hendak berjalan keluar, tiba-tiba dia berbalik dan segera meraih ponselnya membuka internet dan memeriksa berita hari ini. Di lihatnya berita entertainment yang di dominasi oleh acara penghargaan semalam. Dia memeriksa dengan teliti. Kemudian menaruh kembali ponselnya


"Ahhh, syukurlah ternyata tidak ada berita tentang itu." Tiffany bernafas lega dan kembali berjalan keluar.


Di teguknya segelas air dengan cepat. Dia duduk dan mengingat kembali peristiwa semalam. Wajahnya merona saat mengingat ketika Do Hwan datang di apartemennya.


"Tingtong!!" Bel rumahnya berbunyi.


"Aaaahhh....ini kan masih pagi, kenapa Hans kemari?? jangan bilang dia mau menginterogasiku."


Tiffany membuka pintu rumahnya dan tampaklah Jonathan di depan pintunya sambil membawa kantung kertas dan kopi.


"Selamat pagi Nona Tiffany, kopi pagi??" Jonathan tersenyum sambil mengangkat Kopi yang di bawanya. Tiffany yang tidak menyangka dengan kedatangan Jonathan,bingung hendak berbuat apa, terlebih ketika dia sadar dia masih berpiyama ria.


"Bisakah aku masuk?? kopinya sebentar lagi dingin."


Jonathan yang melihat Tiffany diam saja tanpa mempersilahkannya masuk berusaha agar tidak tertawa. Tampak sekali jika Tiffany baru bangun, rambutnya masih kusut, dan dia masih memakai piyama.


"Ahhh..iya Kak, masuk." Akhirnya Tiffany mempersilahkan Jonathan masuk. Jonathan segera masuk ke dalam mendahului Tiffany yang sibuk merapikan rambut dan menarik-narik piyamanya.


"Wah, rumahmu rapi sekali Tiffany." Jonathan melihat-lihat keadaan rumah Tiffany.


"Duduk Kak, maaf aku belum mandi, baru bangun." Tiffany malu-malu mengakui jika dia belum mandi.


"Aahh, gak apa-apa, kamu tetap cantik kok." Jonathan menggoda Tiffany.


"Ahh,mau minum apa Kak??"


Jonathan malah tertawa mendengar tawaran Tiffany.


"Ditanya kok malah ketawa sih Kak??"


"Tiff, kamu masih ngantuk yaaa??? aku kan sudah bawa kopi, masak kamu tanya mau minum apa lagi,hahhaha."


Tiffany menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana bisa dia gagal fokus seperti ini.


"Kaki kamu gimana??"


"Sudah mendingan Kak."


Jonathan berjongkok dan memeriksa kaki Tiffany.


"Mmmm, sudah gak terlalu bengkak, tapi sepertinya kamu belum bisa pakai high heels dalam beberapa waktu ini."Jonathan kembali ke posisinya.


"Oh yaaa, Kak Jonathan tahu rumahku dari mana??"


"Loh, aku kan pernah ngantar kamu pas selesai syuting, lupa ya??"


"Iya, tapi kan cuma sampe depan, gak masuk."


"Ooh, aku tanya nomor apartemenmu pada Hans."


"Aah,bentar yaa kak." Tiffany berdiri menuju ke dapur.


"Hei, mau kemana?? aku tidak mau minum apa-apa lagi, kopi sudah cukup!!!!!" Jonathan berseru pada Tiffany tapi tak di dengarkan. Tak lama munculah Tiffany membawa toples kue.


"Siapa juga yang mau ambil minum, aku ambil ini buat teman minum kopi." Tiffany menertawakan Jonathan. Mereka pun berbincang sambil minum kopi dan makan kue.


"Tingtong!!" bel berbunyi.

__ADS_1


"Siapa yaaa??" Tiffany menuju ke intercom dan tampaklah Hans dan Amber, "waduh gawat, apa yang bakal di bilang Kak Hans kalau tahu ada Jonathan" batin Tiffany mulai panik.


"Siapa Tiff?"


"Hans Kak."


"Oh ya udah, buka ajah. Dia tahu kok aku bakal kemari, sudah minta izin dulu sebelum aku kemari." Jonathan seperti bisa menebak apa yang di pikirkan Tiffany.


"Ting-Tong!!"


Bel kembali berbunyi.


Tiffany pun segera membuka pintu.


"Kok lama sih bukanya," gerutu Amber sambil masuk dengan menenteng 2 kantong kresek di ikuti Hans.


" Eh ada Jonathan...," sapa Amber saat melihat Jonathan kemudian langsung ke dapur.


"Hai Amber, hai Hans," Sapa Jonathan. Hans hanya membalas sambil tersenyum kemudian duduk.


"Sudah lama?" tanyanya, dia tidak menyangka jika Jonathan akan datang sepagi itu ke rumah Tiffany.


"Barusan kok."


"Kelihatannya ada yang progressnya cepat nih."


Tiffany langsung di goda Amber saat mereka berdua di dapur.


"Progress apaan sih?" Tiffany membuka bawaan Amber tadi yang isinya macam-macam makanan ."Ini kita mau party atau apa, kok banyak banget??"


"Tanya tuh si Hans yang borong, kayaknya dia mau menyembelih kamu deh, makanya di kasih makan banyak dulu hahahahah," Amber tertawa terbahak-bahak sementara Tiffany memberengut.


"Kamu kok cuma pake piyama?? nanti Jonathan kabur loh."


"Hssstt," Amber pura-pura mengendus, "ihhh pantas baukk!!!" dia mendorong Tiffany pelan sambil menutup hidung.


"Udah aahh, yuk di bawa kedepan kue-kuenya," ajak Tiffany.


Mereka kemudian bergabung bersama Hans dan Jonathan.


"Hari ini kamu offday juga yaaa Jonathan??" tanya Amber


"Gak, nanti siang aku ada kerjaan, karena itu datang jenguk Tiffany pagi."


"Ahhhh kamu sweet banget deh, pacar idaman banget." Amber mencolek Tiffany yang serius memakan cakenya. Dia sebenarnya mendengar apa yang Amber katakan tapi dia tidak mau menanggapi karena Hans ada disitu.


"Benarkah??? tapi sayang tidak ada yang mau jadi pacarku," Jonathan menimpali. Tiffany terbatuk, hampir saja cake yang di makannya keluar.


"Aduh Tiff, pelan-pelan dong." Amber mengomel sambil menepuk-nepuk pundak Tiffany.


"Terus gadis seperti apa yang masuk kriteria tipemu??" Amber kembali melanjutkan topik tadi.


"Mmmmm,,,, seperti apa yaa???" Jonathan seperti sedang berpikir " Seperti........Tiffany," lanjutnya kemudian yang membuat Amber heboh, sementara Tiffany tersipu.


"Aduuuhhh...kamu to the point banget Jonathan. Tapi itu bagus, laki-laki harus gitu." Amber memberi dua jempol pada Jonathan yang terseyum.


"Heii,kamu mau aku benar-benar disembelih Hans," bisik Tiffany sambil mencubit Amber.


Hans sendiri seperti tidak peduli, padahal malam sebelumnya dia sempat memperingatkan Tiffany.


"Aku suka Gadis seperti Tiffany. Yaaah seperti dia," Jonathan menekankan sekali lagi.


"Aduh Kak Jonathan udah deh becandanya." Telinga Tiffany memerah karena perkataan Jonathan.

__ADS_1


"Tingtong!!" bel kembali berbunyi.


Tiffany pergi membuka pintu dan.......


"Surprise!!!!!!!!!" Edward berseru mengagetkan Tiffany.


Nampak di belakangnya ada Tae Oh, Jerry, Jung Su dan Do Hwan.


"Kak Edward??!!!kok bisa??" Tiffany terkejut melihat Edward dan yang lain terlebih ada Do Hwan juga.


"Ya bisalah,kami datang menjenguk Adik kecil kami." Edward tersenyum lebar, kemudian mengambil buket bunga yang di bawa Tae Oh dan memberikanya pada Tiffany. "Baby breath buat si cantik Tiffany."


Tiffany mengambil buket bunga itu, "makasih."


"Mmmm, Tiffany bisa masuk???aku mulai capek berdiri nih." Jungsu bersuara


"Ahahaha, iya,iya silahkan masuk." Tiffany mempersilahkan.


"Waahhh, lagi rame rupanya," celetuk Edward saat melihat ada Hans, Jonathan dan Amber di ruang tamu. "Hai Hans, Amber daaaaaaan......?"


"Jonathan!!" Jonathan meneruskan kalimat Edward.


"Ah iyaaa Jonathan. Terakhir kita bertemu pas konser amal kan?? di back stage pas mengunjungi Tiffany."


"Iya benar, tapi semalam kita juga baru bertemu kok"


"Ahhhh,,iya,iya benar sekali.Aku hampir lupa semalam kamu partner MC Tiffany." Edward tertawa sambil menepuk jidatnya.


Mereka pun duduk dan entah bagaimana Do Hwan duduk di samping Jonathan.


"Rupanya banyak yang sayang Tiffany yaa? sampai-sampai bisa serame ini yang datang menjenguk." Jonathan meminum kopinya yang sudah dingin.


"Iya dong,dia kan Adik kecil kesayangan TheFive." Jerry yang duduk di samping Tiffany mengelus kepala gadis itu.


"Oohh......"


"Kalau kamu ,kok bisa disini?? jangan bilang Tiffany adikmu yaaa??" selidik Tae Oh, Do Hwan melirik Jonathan dengan ekor matanya.


"Bukanlah,!!aku tidak menganggap Tiffany adikku, aku menganggapnya sebagai seorang wanita." Jonathan tersenyum.


"Ya iyalah dia wanita, siapa bilang dia laki-laki??!!" sambar Do Hwan.


"Maksudku,Tiffany lebih cocok jadi pacar daripada jadi adik."


"Waahhh!!!!!"


"Plok-plok!!!!"


Hampir semua yang ada heboh dan bertepuk tangan kecuali Do Hwan, Hans dan Tiffany tentunya. Edward bahkan berdiri dan menyalami Jonathan. Do Hwan mengumpat dalam hati, dia tidak menyangka Jonathan bisa se frontal itu. Sementara Tiffany merasa heran kenapa rumahnya bisa seramai ini.


"Kalian tidak ada jadwal hari ini??" Hans bertanya pada Edward dan lainya.


"Kami sedang dalam perjalanan mau ke tempat latihan, jadi sekalian mampir," jelas Edward.


"Jadi Hans, apa sekarang larangan Tiffany untuk berpacaran di cabut???" Edward bertanya dengan nada menggoda.


"Aah, kalau dicabut aku juga mau loh jadi pacar Tiffany." Jerry ikut nimbrung.


"Yaaa!! kau duduk menjauh dari Tiffany sekarang!!!!" Tae Oh berdiri dan menarik Jerry. "Tadi kau bilang Tiffany Adik, sekarang mau jadi pacarnya, menyingkir kau," Tae Oh berpura-pura mengomeli Jerry.


"Heii..heiiiii !!!sebentar aku belum selesai bertanya, jadi bagaimana Hans??"


"Peraturan itu demi kebaikan Tiffany, jadi tetap masih berlaku ." Tandas Hans tegas.

__ADS_1


__ADS_2