
Tiffany membuka matanya. Dia kemudian duduk dan merenung, memikirkan kejadian yang baru di alaminya. Dia meraba lehernya, dan liontinnya sudah tidak ada. Berarti semuanya memang nyata, bukan hanya sebuah mimpi buruk. Dia memeluk lututnya dan perlahan terisak menangisi hatinya yang hancur.
Hubungannya yang begitu indah bersama Do Hwan, malah harus berakhir dengan tragis. Bahunya berguncang karena isakannya. Tidak ada lagi kisah cinta rahasia antara dia dan Do Hwan, yang ada hanya hatinya yang tersakiti dan Do Hwan yang bahagia dengan hubungannya yang sudah go public bersama Irene.
Setelah puas menangisi dirinya, Tiffany pergi membasuh wajah dan kemudian keluar kamar. Dia terkejut saat melihat ada seseorang yang tengah meringkuk terlelap di Sofanya.
"Kak Jonathan?" Tiffany pergi ke kamarnya mengambil selimut dan menyelimuti Jonathan.
Dia kemudian ke dapur dan menyiapkan sarapan.
********
Jonathan mengeliat dan membuka matanya perlahan. Dia memandang sekitarnya, ini seperti bukan di rumahnya. Dia duduk mengucek - ngucek matanya, baru ingat jika dia menginap di rumah Tiffany. Dia melihat selimut yang menempel di tubuhnya.
"Apa Tiffany yang memakaikannya?"
Dia mendengar ada bunyi-bunyian dari arah dapur.
"Selamat pagi Tiffany," sapa Jonathan pada Tiffany yang sedang sibuk mengaduk-ngaduk wajan di atas kompor.
"Pagi, kak Jonathan. How's your sleep??" Tiffany tetap fokus dengan masakannya, dia tidak menoleh pada Jonathan.
"Lancar jaya, aku bahkan bisa bermimpi bagus,hehehe." Jonathan membuka kulkas dan mengambil botol berisi air mineral. Di teguknya air mineral itu hingga hampir habis.
"Kopi???" Tiffany bertanya.
"1 sendok teh kopi, 1 sendok teh creamer, 1 sendok teh gula." Jonathan segera duduk dan memperhatikan Tiffany yang sedang membuatkan kopinya. Dia meneliti dengan seksama wajah Tiffany. Berusaha mencari tahu perasaan Tiffany pagi ini, tapi dia tidak mendapatkan apapun karena Tiffany memasang wajah poker.
"5 menit lagi sarapan siap." Tiffany meletakan secangkir kopi di depan Jonathan dan kembali dengan kegiatan masak memasaknya.
"Kamu sudah sehat Tiff??"
"Iya Kak,sudah baikan."
"Mmm, baguslah. Hari ini kamu masih libur??"
"Kak Hans sudah mengosongkan jadwalku sampai besok biar aku bisa istirahat. Kak Jonathan sendiri??" Tiffany mengangkat sebuah mangkok berisi Sup ayam ke meja makan. Dia dengan telaten menata makanan di meja makan. Kemudian mengambil piring Jonathan untuk mengisinya.
"Siang nanti aku ada pemotretan," jawab Jonathan.
__ADS_1
"Makasihhh." Jonathan meraih piringnya yang di berikan Tiffany.
"Aahh enaknya." Jonathan menikmati sarapannya dengan lahap. Dia tidak menyangka jika Tiffany pintar memasak. Tiffany tersenyum melihatnya.
"Ahh, kenyang banget. Lupa rasanya kapan aku sarapan se full ini." Jonathan menunjuk ke arah perutnya yang tidak terlihat ada perubahan. Sebenarnya dia ingin sekali menanyakan perasaan Tiffany sekarang tapi dia takut jika suasana hati Tiffany memburuk.
"Aku pamit dulu yaaa Tiffany, pengen cepat-cepat pulang mandi, sudah gerah." Jonathan beranjak dari tempat duduknya. Tiffany yang sedang mencuci piring segera menghentikan pekerjaannya dan mengantar Jonathan ke depan pintu.
"Pergi dulu ya Tiff, bye."
"Bye Kak, hati- hati yaaa."
Jonathan kemudian berjalan ke arah Lift. Saat dia menekan tombol untuk turun, lift terbuka dan tampaklah Hans dan Amber yang terkejut melihat Jonathan.
" Jo-Jonathan?? kamu kok bisa disini???" Amber melangkah keluar dengan wajah ingin tahu.
"Hai Amber, hai Hans." Jonathan tersenyum menyapa dua orang yang memandangnya dengan tatapan penuh selidik.
"Hai,kamu baru datang atau baru mau pulang?"
"Jleb!!!!"
Pertanyaan Hans sontak membuat Jonathan bingung mau menjawab apa.
"Hemmmm,ada bau-bau mencurigakan nih." Amber menatap Hans.
******
"Aaarghhh, Hans itu orangnya kok to the point sekali sihhh." Jonathan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Kenapa dia bisa menebak dengan tepat?!"
"Kenapa juga aku harus kabur yaa?? seharusnya aku jawab saja."
Jonathan tidak berhenti bicara dengan dirinya sendiri. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Amber dan Hans.
"Otakmu geser yaa Jonathan Kim??" Min Hyuk yang sedang menyetir benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Jonathan.
"Haaa?? apa??!! otak ku geser? iya , bakalan geser bahkan tumpah jika kamu nyetirnya sambil lirik-lirik begitu, konsentrasi Min Hyuk !!!!"
__ADS_1
Min Hyuk menggeleng gelengkan kepala, untung saja Jonathan tampan, sehingga bisa menutupi tingkahnya yang lebih cocok jadi komedian.
******
"Tuk,tuk, tuk!!!" suara ketukan jari Hans di meja terdengar mengintimidasi. Lebih tepatnya mengintimidasi Tiffany yang duduk di depannya.
"Jadi Tiffany Liu, bisa kau jelaskan ,mengapa ada Jonathan di apartemenmu pagi-pagi seperti ini?"
"Aku kan sudah bilang, kemarin Jonathan datang kemari karena aku minta bantuannya. Dan karena aku masih belum terlalu sehat ,aku ketiduran. Kak Jonathan sepertinya khawatir jadi dia nginap disini"
"Kenapa kamu gak menghubungiku atau Amber??"
"Iya Tiff, kenapa gak hubungi kita, itu kan lebih aman. Bahaya loh Tiff kalau ketahuan wartawan."
" Hhhhhh!!!" Tiffany menghembuskan nafas. "Aku tahu kalian kemarin lelah banget, makanya aku minta tolong kak Jonathan, lagi pula dia tidur di sofa kok!"
" Mau Jonathan tidur di sofa kek, di dapur atau di dalam lemari, yang di tahu orang-orang itu JONATHAN MENGINAP DISINI!!!" Hans setengah berteriak. Tampak wajahnya memerah menahan rasa marah.
Tiffany menunduk dan memainkan ujung piyamanya . Amber memberi kode pada Hans untuk menahan amarahnya karena Tiffany masih terlihat belum begitu sehat.
"Terus Tiff, kamu dah baikan??"Amber mencoba mengganti Topik. Tiffany hanya mengangguk, tiba-tiba punggunggnya bergetar.
" Ya ampun Tiff, kamu nangis??" Amber segera merangkul Tiffany. " Udah yaaa, gak usah di ambil hati, kamu kan tahu gimana Hans."
Hans memandangi Tiffany dengan rasa bersalah. Dia tidak menyangka Tiffany bisa menangis seperti ini.
" Maafkan aku Tiff, aku hanya tidak ingin ada berita yang tidak baik tentangmu." Hans mendekati Tiffany dan menepuk punggung Tiffany penuh kasih sayang.
Sementara Tiffany masih tenggelam dalam tangisnya. Diapun heran mengapa dia bisa secengeng ini. Padahal ini bukan kali pertama Hans memarahinya. Air matanya tidak mau berhenti menetes. Dia bukan menangis karena di marahi Hans. Dia menangis karena ada sesuatu yang salah dengan hatinya. Ternyata dia bisa serapuh ini. Tiffany yang biasanya selalu ceria kini terlihat rapuh tak berdaya.
" Ahhhhh ngggg!" Erang Tiffany pilu dalam pelukan Amber.
"Apa yang terjadi sebenarnya??" pikir Hans menyaksikan Tiffany yang menangis penuh kesedihan. Dia beranjak ke dapur mengambil segelas air.
"Minumlah Tiff." Dia menyodorkan gelas berisi air kepada Tiffany yang berusaha menyudahi tangisannya. Amber meraih Tissue di meja dan menyeka air mata Tiffany.
"Jika ada yang ingin kau ceritakan kepada kami, ceritalah Tiffany. Kita sudah bersama lebih dari sembilan tahun." Hans mengambil gelas kosong dari tangan Tiffany yang hanya diam. "Kita sudah seperti keluarga Tiff, jangan sungkan," sambungnya.
" Makasih Kak Hans, Amber. Aku baik-baik saja kok," ucap Tiffany lirih sambil tersenyum. Dia bersyukur punya Hans dan Amber disisinya.
__ADS_1
"Begitu dong tersenyum, kamu cantik kalo senyum Tiff ." Amber mencolek pipi Tiffany.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk menceritakannya Tiff. Aku tahu kamu sedang tidak baik-baik saja saat ini." Batin Hans.