
Irene meremas-remas kertas dalam genggamannya.
Dia sibuk memikirkan sesuatu sampai tanpa sadar dia telah melemparkan kertas yang di pegangnya ke lantai dengan keras.
Dia tersadar dari lamunannya saat Jong Min managernya masuk ke ruangan.
"Mengapa mukamu kusut seperti itu?"
"Gak!!"
"Seharusnya kamu senang, karena sekarang popularitasmu sedang naik."
"Aku bisa minta bantuanmu?" Irene menatap managernya.
"Apa?"
"Carikan informasi tentang hubungan Kang Do Hwan dan Tiffany Liu."
"Maksudmu?" Kening Jong Min berkerut heran.
"Aku ingin kamu mencari tahu ada hubungan apa Kang Do Hwan dengan Tiffany Liu. "
"Kenapa kamu ingin tahu soal itu?" Jong Min kembali bertanya. " Apa ada yang mengusikmu?"
"Sudah, cari tahu saja. Kamu terlalu cerewet!!" Irene pergi meninggalkan Jong Min yang masih bingung dengan permintaan Irene.
"Hei, Irene!!Kamu mau kemana??!"
Irene tidak mempedulikan panggilan managernya itu, dia segera membuka pintu dan berjalan keluar.
"Tsk!!! dasar gadis bar-bar tidak ada sopan santun!" umpat Jong Min.
***********
Ruang latihan XeonEnt.
"Kerja bagus semuanya. Kita istirahat sebentar dulu," kata Edward dengan nafas ngos-ngosan.
"Bruk!!!"
Do Hwan menjatuhkan badannya ke lantai. Keringat membanjiri tubuhnya.
"Hei Do Hwan, kau sedang sakit ya? Wajahmu tampak pucat," tanya Jungsu sambil duduk di samping Do Hwan.
"Ha?! Gak apa-apa."
"Aku pergi ganti baju dulu, bajuku basah."Do Hwan bangkit dan berjalan ke luar. Tapi alih-alih ke ruang loker untuk mengambil baju gantinya, dia malah menuju ke jejeran bangku panjang dekat kaca lebar transparan yang menampilkan pemandangan taman di luar bangunan.
Do Hwan duduk sambil memandang ke luar yang nampaknya sedang gerimis. Sontak terasa seperti ada sesuatu yang hilang darinya. Kepingan hati yang sudah di curi oleh sosok gadis yang sangat di rindukannya saat ini. Sudah hampir sebulan dia tidak bertemu dengannya. Bahkan pesan dan telepon Do Hwan tidak pernah di gubris Tiffany lagi.
" Hei, sedang apa?"
Seorang gadis cantik berdiri disamping Do Hwan.
"Mau apa kamu?" Do Hwan bertanya tanpa menatapnya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang."
" Makanlah sendiri. Aku tidak akan makan bersamamu."
"Tapi kau nampak kurus sekali Kak Do Hwan. Ayolah makan denganku."
"Apa kau tidak mengerti dengan perkataanku?!" Do Hwan berdiri dan langsung berbalik hendak pergi.
"Mengapa kamu membenciku seperti ini?"
"Mengapa kamu selalu mengabaikanku?? apakah aku tidak punya kesempatan untuk berdiri di sampingmu?"
Do Hwan berbalik menatap gadis itu.
" Aku tidak membencimu Irene, tapi kamu tidak memiliki kesempatan untuk bersamaku, karena hanya ada satu wanita yang bisa berdiri di sampingku." Dia langsung berbalik dan berjalan menjauh dari Irene yang matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Aku mencintaimu Kang Do Hwan!!!! Aku sudah menyukaimu sejak kita pertama kali bertemu, bahkan sebelum kamu bertemu dia." Irene tidak bisa menahan air matanya. Do Hwan tetap melanjutkan langkahnya walaupun dia mendengar perkataan Irene.
****
__ADS_1
"Waah, dia tampan sekali."
Para staff wanita saling berbisik sambil menatap dengan pandangan terpukau pada seorang pria berkacamata hitam.
" Maaf, Tiffany Liu dimana yaa?" tanya pria tersebut sambil melepas kacamata hitamnya.
"Tifanny? dia sedang di ruang ganti di sebelah sana," kata seorang staff sambil menunjuk ke suatu arah.
"Oke, makasih ya." Pria itu tersenyum menampilkan lesung pipitnya.
Dengan langkah lebar dia segera menuju ke tempat yang di tunjukan staff tadi.
"Toktok!!"
"Kak Jonathan??!" Tiffany berseru kaget saat melihat siapa yang baru saja mengetuk pintunya.
"Surprise!!!" Jonathan masuk sambil menjinjing kantung plastik berisi kotak makanan.
"Kok bisa kemari sih?"
" Aku dengar katanya kamu sedang syuting buat video klip lagu baru kamu, jadi aku datang memberi semangat!!"
" Jonathan, apakah kamu yang memesan prasmanan makan siang untuk para staff?" Hans masuk, sambil membawa sepiring dessert.
"Wah, Kak Jonathan pesan makan siang untuk para staff juga?" Tiffany benar-benar terkejut mendengarnya.
"Hehe, iya. Anggap saja ini sebagai tanda aku mendukungmu." Jonathan menepuk lengan Tiffany pelan.
"Ah iya, apa kalian tidak mau berfoto di depan food truknya? sepertinya bagus untuk di posting di sosmed." Hans memberikan saran.
Mereka berdua pun berfoto di depan food truk yang membawa makan siang pesanan Jonathan yang di iringi suara para staff yang menggoda mereka berdua.
Jonathan memang sengaja melowongkan waktunya untuk datang mengunjungi Tiffany. Hatinya senang melihat gadis itu sudah ceria lagi.
*****
"Jonathan Kim Mengunjungi Tiffany Liu di Lokasi Syuting MV"
Do Hwan mengerang membaca sebuah artikel di internet. Artikel itu cukup mendapat perhatian dari para netizen. Terlebih ada foto Jonathan dan Tiffany yang berpose begitu akrab di muka food truk. Banyak komentar yang mendukung mereka menjadi pasangan. Bahkan ada yang mengatakan jika Jonathan dan Tiffany sebenarnya sudah berkencan.
Hati terasa sakit saat melihat itu semua. Ada perasaan marah yang menggelayutinya. Wajahnya nampak memerah.
******
" Kerja bagus Tiffany, istirahat yaa. Sampai jumpa."
Hans yang mengantarkan Tiffany segera melajukan mobilnya keluar dari basement.
"Tunggu Tiffany!" sebuah tangan menahan tangan Tiffany untuk berhenti. Tiffany yang kaget, refleks mematung. Dia mulai ketakutan.
"Siapa dia?? jangan-jangan orang mesum," batin Tiffany takut. Dia sudah memikirkan rencana untuk kabur ataupun berteriak meminta pertolongan.
"Ini aku Tiffany, Kang Do Hwan."
"Apa??"
Tiffany segera berbalik. Nampak Do Hwan menggunakan hoodie dengan topi dan masker.
"U-untuk apa kemari?" Tiffany mundur selangkah. Dia tidak bisa menjauh karena sebelah tangannya di pegang Do Hwan. Dia tidak mau membuat gerakan-gerakan yang bisa menarik perhatian orang.
"Bisakah kita bicara?"
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, semua sudah jelas." Tiffany membuang muka, menghindari kontak mata dengan Do Hwan. Hatinya mulai bergejolak lagi. Rasa sakit yang sudah susah payah berusaha di hilangkannya sepertinya mulai berdenyut lagi.
" Tolonglah Tiffany, beri aku waktu untuk bicara denganmu. Ku mohon," pinta Do Hwan dengan suara memelas.
"Jangan Tiffany, jangan. Tetap kuatkan hatimu. Jangan luluh." Tiffany berdebat dalam hati.
"Aku mohon Tiffany, sebentar saja."
"Baiklah, tapi lepaskan tanganku."
"Tapi....."
"Tenang saja, aku tidak akan lari kok. Kita naik ke atas, lebih aman bicara di rumahku. Disini bisa di lihat orang."
__ADS_1
Do Hwan melepaskan tangannya. Tiffany segera menuju ke lift seorang diri, sementara Do Hwan menunggu di bawah sekitar 10 menit untuk naik ke atas menyusul Tiffany.
"Jadi, apa yang mau di bicarakan?" tanya Tiffany tanpa basa-basi saat mereka sudah berada di dalam apartemennya.
"Aku minta maaf padamu Tiffany. Mungkin aku tidak pantas mengatakan ini padamu setelah apa yang telah ku perbuat. Tapi maukah kamu memaafkanku?"
"Aku sudah memafkan Kak Do Hwan. Aku tidak marah dan sekarang aku sudah baik-baik saja."
"Tiffany....a-aku masih sangat mencintaimu."
Tiffany tersenyum sinis mendengarnya.
"Kenapa bisa seorang Kak Do Hwan bisa berbuat seperti ini?! Kak Do Hwan sudah go public bersama Irene dan sekarang ada disini untuk bilang bahwa Kakak mencintaiku?? "
" Aku tidak pernah mencintai Irene. Aku tidak pernah punya hubungan apa-apa dengan Irene. Ku mohon percayalah padaku Tiffany." Do Hwan menatap Tiffany dengan penuh harap.
"Sudahlah Kak Do Hwan, antara kita benar-benar sudah berakhir. Aku tidak peduli siapa yang kamu cintai." Tiffany berusaha keras menahan emosinya. Sedikit saja dia lengah, di jamin dia akan terisak dan akan tampak menyedihkan di depan Do Hwan.
"Jangan seperti itu Tiffany, tolonglah!!!" Do Hwan semakin gusar.
Tiffany sebenarnya berjuang dari awal untuk tidak memeluk Do Hwan. Lebih dari sebulan dia berusaha melupakan Do Hwan, tapi kenyataannya hatinya di penuhi rasa rindu pada sosok pria yang telah memikat hatinya itu. Apalagi hari ini Do Hwan muncul di hadapannya dengan penampilan yang terlihat begitu kacau. Dia terlihat kurus, dan tampak lelah.
" Aku hanya mencintaimu Tiffany. Tidak ada orang lain. Apa yang di beritakan itu tidak benar." Do Hwan masih berusaha meyakinkan Tiffany.
" Tidak benar??!! lalu kenapa Kak Do Hwan tidak membantahnya?? Kenapa malah mengiyakan berita itu?!!"
"I-itu, aku berada di posisi sulit Tiffany. Temanku dan TheFive di pertaruhkan disini. Ku mohon mengertilah dengan posisiku."
" Mengerti dengan posisi Kak Do Hwan?? lalu bagaimana dengan perasaanku? apa Kak Do Hwan mengerti dengan itu??!!"
Tiffany berdiri dari tempat duduknya.
"Mengapa harus aku yang di korbankan disini?? apakah ada yang mengerti bagaimana kecewanya aku??"
"Tiffany...."
"Apa kamu ingat Kak, dulu kamu pernah bertanya apakah aku akan memaafkanmu jika berbuat salah?? saat itu aku menjawab, aku akan memaafkanku kecuali kamu selingkuh." Tiffany menarik nafasnya, berusaha untuk tetap mengatur nada bicaranya. " Sekarang jawabanku tetap sama, aku tidak akan memaafkan mu untuk ini. Apapun alasanmu."
Do Hwan ikut berdiri dan langsung memeluk Tiffany.
"Jangan Tiffany. Aku mohon berikan aku kesempatan," kata Do Hwan dengan suara serak, airmatanya pun menetes.
Sementara Tiffany hanya diam saja. Dia tidak merespon apapun.
"Aku sangat mencintaimu Tiffany. Ku mohon jangan tinggalkan aku."
"Pergilah Kak Do Hwan, kita sudah ber- "
"Jangan katakan itu Tiffany, jangan!!!" Do Hwan memotong perkataan Tiffany. Dia melepaskan pelukannya kemudian menangkupkan kedua tangannya di pipi Tiffany.
"Jangan katakan itu padaku sayang. Aku tidak mau kita berpisah.Tidak!!"
Hati Tiffany semakin terluka melihat mata Do Hwan yang berair. Seorang Kang Do Hwan yang selalu terlihat dingin kini terlihat begitu rapuh.
"Kak Do Hwan....." Tiffany menghapus air mata Do Hwan. "Ini yang terbaik untuk kita berdua. Kita memang tidak di takdirkan untuk bersama."
"Tidak Tiffany. Aku tidak mau!! Tatap mataku Tiffany. Kamu masih mencintaiku kan?"
Tiffany hanya diam saja.
"Berikan aku waktu sebentar lagi Tiffany, dan aku akan menyelesaikan masalahku dengan Irene. Kita bisa bersama lagi.'
Tiffany meraih tangan Do Hwan, menggengamnya erat.
" Kak Do Hwan, kita sudah berakhir. Kita tidak bisa bersama lagi. Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Pergilah!"
"A-apa katamu?? gak!! kamu bohong kan?"
Tiffany tersenyum pilu.
"Pergilah Kak. Kita benar-benar sudah berakhir."
Tiffany melepaskan tangan Do Hwan dan berbalik masuk ke kamarnya. Sementara Do Hwan mematung menatap kepergian Tiffany. Dia berharap gadis itu akan berbalik dan mengatakan bahwa dia juga masih mencintai Do Hwan. Tapi Tiffany tidak pernah berbalik bahkan mengunci dirinya di kamar. Do Hwan melangkah keluar dari apartemen Tiffany dengan lunglai.
Tiffany mengintip dari celah pintu kamarnya memastikan jika Do Hwan sudah pergi. Dia keluar dari kamar menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
"Bruk!!"
Tiffany menjatuhkan dirinya di lantai. Dia duduk bersimpuh menangis dengan keras. Hatinya terasa sakit dan hancur. Ada sepenggal penyesalan mengapa dia harus menyangkal perasaannya pada Do Hwan, mengapa dia tidak memeluk pria yang begitu di rindukannya selama ini. Ingin sekali dia tetap bersama Do Hwan, tapi dia tahu sangat tidak mungkin baginya hadir di antara hubungan Irene dan Do Hwan . Walaupun Do Hwan tidak ada hubungan apa-apa dengan Irene, tapi publik mengetahui jika mereka berpacaran. Nantinya jika mereka putus dan Tiffany muncul sebagai kekasih Do Hwan, cap sebagai orang ketiga akan melekat padanya yang akhirnya akan menghancurkan karir yang sudah di bangun dengan susah payah.