
Pulang dari latihan, Edward segera mengutak-atik komputernya. Dia mencari artikel-artikel yang bisa di gunakan untuk melawan Irene. Karena dia tahu, jika Do Hwan, Jerry ataupun Tae Oh membantah segala tuduhan yang di tujukan Irene, itu belum cukup. Harus ada bukti pendukung untuk memperkuat bantahan itu.
" Apa ya?" Edward mengetuk-ngetuk dahinya yang menandakan dia sedang berpikir keras.
"Irene, Irene, kamu cantik-cantik kok jadi penjahat sih?"
"Ahhhrggg!!!! pusing aku."
Edward berdiri dari kursinya dan merebahkan dirinya di sofa. Dia menyalakan ponselnya dan main game.
"Baru ingat." Edward menekan angka 9 di ponselnya.
"Ya, halo??" terdengar suara seorang gadis diseberang.
"Halo,Adik kecilku yang cantik, secantik bunga sakura di musim semi," kata Edward sambil cengengesan.
"Hahaha,makasih Kakakku yang tampan,setampan Shrek."
Sontak Edward memanyunkan bibirnya saat mendengar kalau dia setampan Shrek.
" Wah, sudah berani ya sekarang, ngatain Kakaknya seperti Shrek. Awas kalau ketemu ku jewer nanti kamu."
"Ampuuunnnn, hahaha. Ada apa Kak?"
" Akhir minggu sibuk gak Tiff?"
Edward memang sengaja menelepon Tiffany, dia pikir dia harus bertemu dengannya dan memberitahu apa yang terjadi sebenarnya.
"Akhir minggu aku harus mengisi acara variety show Kak."
"Kamu tetap kerja di akhir minggu? rajin amat."
"Hehehe, soalnya minggu lalu jadwalku banyak yang di tunda karena aku sakit, jadi harus di kejar biar bisa rampung semua."
"Oh iya, kamu memangnya sudah benar-benar sehat?'
"Iya, Kak."
"Ya sudah, beritahu aku kapan kamu kosong ya, aku ingin sekali bertemu Adikku sayang."
"Iya Kak, bye." Tiffany memutuskan sambunganya.
"Hmm, apa yang harus ku lakukan kalau begini??" Edward memejamkan matanya berusaha untuk berpikir tapi dia malah tertidur dengan pulasnya.
******
Tiffany meletakan ponselnya. Dia kembali melanjutkan membaca scriptnya.
" Tiff, ada tawaran buat jadi pengisi acara talk shownya Renata." Hans membuka IPadnya, memperhatika jadwal Tiffany. "Tapi sepertinya jadwal kamu sudah penuh deh."
__ADS_1
"Emang kapan Kak?"
" Senin depan."
"Ya udah, ambil ajah. Gak apa-apa kok."
"Tapi Tiffany, jadwal kamu itu sudah padat sejak pagi, bahkan senin itu kamu harus bangun dari subuh."
"Gak apa-apa Kak, lagi pula aku kuat."
Hans meletakan IPadnya di meja. Dia memutar tubuhnya menghadap ke arah Tiffany.
"Tiff, kamu bukan robot. Kamu juga harus istirahat. Bisa-bisa kamu tumbang jika terus di paksakan seperti ini."
"Gak bakalan Kak Hans." Tiffany masih tetap bersikeras. Dia memamg sengaja mengambil banyak job biar dia bisa mengalihkan perhatiannya ke pekerjaannya dari pada mengingat kelanjutan hubungannya dengan Do Hwan.
"Ada apa sebenarnya?" Hans menatap gadis di depannya dengan lekat.
"Maksud Kak Hans?" Tiffany berusaha menghindari tatapan Hans.
"Kau tahu, akhir-akhir ini kamu bertingkah aneh."
"Aneh gimana? Kak Hans ada-ada ajah."
"Apa ini karena Kang Do Hwan??!"
Tiffany mencubit pahanya untuk menyembunyikan rasa kagetnya.
"Mungkin kepada orang lain kamu bisa berpura-pura Tiff, tapi denganku tidak."
"Aku tahu hubunganmu dengan Kang Do Hwan."
"A-pa? " Tiffany kini tidak bisa lagi berpura-pura. Dia yang ahli dalam menyembunyikan ekspresi tidak bisa berbuat lebih di hadapan Hans.
" Jadi, apa kamu seperti sekarang gara-gara Kang Do Hwan?" Hans menanti jawaban Tiffany.
" Mmmm, gak Kak," Tiffany menundukan kepalanya tidak berani menatap Hans.
"Hufttt!!! Tiffany sudah cukup aktingnya. Aku sudah tahu semuanya sejak lama. Dan aku juga tahu kamu sakit karena melihat Do Hwan punya hubungan dengan Irene kan?!!" Hans meninggikan suaranya.
"Kenapa kamu gak cerita padaku Tiff?"
"Kenapa kamu memendam semuanya sendiri?"
Tiffany menggelengkan kepalanya. Dia menggigit bibirnya. Dadanya tiba-tiba terasa sesak.
" Apa karena aku melarangmu untuk pacaran, jadi kamu menyembunyikannya dari padaku?" Hans membuka kancing tangan kemejanya dan menggulungnya sampai ke sikut.
"Tiffany, dengarkan aku," Hans mencoba mengatur nada suaranya. Dia tahu Tiffany tidak bisa di perlakukan dengan keras. " Aku melarangmu pacaran demi kebaikanmu juga."
__ADS_1
" Apa kamu tahu, bagaimana marahnya aku membaca serangan haters saat kamu putus dengan Soo Hyun?"
" Aku adalah saksi yang melihat perjuanganmu dari awal."
Hans menerawang, menatap ke atas.
"Apa kau ingat, betapa kerasnya perjuanganmu?? Kamu latihan dengan keras sampai kulit kakimu melepuh karena harus latihan dance berjam-jam dengan sepatu yang tidak nyaman. Kamu yang harus menahan rasa sakit hanya demi bisa tampil di penilaian akhir agar kamu bisa debut sebagai penyanyi solo."
" Kamu memulainya dari nol dengan kemampuanmu sendiri, dan perjuangan yang tidak mudah. Kamu pikir apa alasan kenapa aku menawarkan diri untuk menjadi managermu?" Hans berhenti sejenak, menarik nafasnya dan berkata, "karena aku melihat perjuanganmu, aku melihat berapa banyak kamu menangis di ruang latihan, aku melihat bagaimana kamu meringgis menahan rasa sakit di tubuhmu."
" Kak Hans....," Tiffany kini menatap Hans, matanya berkaca-kaca.
"Karena itu, aku tidak ingin ada pria yang tidak tahu perjuanganmu untuk sampai di titik ini menghancurkan mimpimu. Kamu harus bersinar Tiff, kamu harus meraih mimpimu." Hans memegang tangan Tiffany, yang baginya sudah seperti adiknya sendiri.
"Tapi, jangan menyimpan bebanmu sendirian Tiff. Aku merasa menjadi penjahat dengan hanya melihat keadaanmu sekarang. Bagiku kamu lebih dari seorang rekan kerja, kamu keluargaku. Aku akan selalu ada untukmu Tiff."
"Bruk!!!"
Tiffany memeluk Hans erat. Airmatanya menetes. Dia tidak menyangka jika Hans yang begitu tegas, ternyata bisa sepeduli itu padanya.
Tiffany ingat pertama kali dia bertemu Hans. Saat itu , hari pertama dia menjadi Trainee di Agensinya. Tak sengaja dia menabrak Hans yang merupakan staff pendamping bagi para Trainee.
Satu hari, ketika Tiffany baru selesai latihan. Dia melepas sepatunya dan merintih menahan perih karena telapak kakinya melepuh. Sepatu yang di pakainya saat itu memang sangat tidak nyaman untuk di pakai latihan. Tapi mau bagaimana lagi, Tiffany hanyalah seorang remaja yang hidup pas-pasan dengan Ayahnya yang sakit-sakitan.
Tiba-tiba ada yang tangan yang terjulur di hadapannya sambil memegang salep.
"Pakai ini untuk obati kakimu," kata si empunya tangan yang tidak lain adalah Hans.Sejak saat itu Hans banyak membantu Tiffany.
Bahkan ketika di hari di mana Tiffany akan segera debut. Saat itu, tidak ada manager yang kosong di agensi. Sampai kemudian Hans mengajukan dirinya untuk menjadi manager Tiffany walaupun banyak yang ragu dengan kemampuannya.
Hans memang yang terbaik bagi Tiffany. Sosok manager sekaligus Kakak bagi Tiffany.
*******
Setelah menyelesaikan semua jadwalnya, Tiffany segera pulang ke apartemennya.
Dia berdiri menatap jejeran penghargaan yang dia terima selama karirnya yang di tata rapi di ruang tamu.
Tidak mudah baginya untuk bisa menjadi seperti sekarang. Perkataan Hans tadi siang, membuat dia memutar kembali kenangannya saat dia baru memulai karirnya.
Memulai semuanya dari awal sebagai seorang penyanyi solo. Tiffany ingat sekali, banyak yang meremehkan dia karena dia tidak terlalu mahir untuk menari.
Dia harus latihan dengan keras demi mengimbangi teman-temannya. Dia bahkan selalu menjadi yang paling pertama datang dan paling terakhir pulang selesai latihan.
Mimpinya untuk menjadi seorang penyanyi sukses harus terwujud, walaupun di kemudian hari dia lebih sukses menjadi aktris karena kemampuan aktingnya.
Dia ingat perjuangannya dulu yang begitu menguras tenaga dan air mata. Seringkali dia menangis sendirian di ruangan loker setelah di marahi pelatihnya karena tidak bisa menari dengan benar ataupun saat dia hampir putus asa. Bahkan dia harus bisa menahan perasaan sakit dan dukanya saat Ayahnya meninggal, karena dia tidak bisa mengantarkan Ayahnya ke pemakaman sebab dia harus tampil di ujian akhir yang menentukan nasibnya. Tidak ada yang tahu betapa mendalam kesedihan Tiffany saat di pulang ke kampung halamannya, dia hanya menemui kuburan Ayahnya yang selama ini mendukungnya.
Saat ini dia sudah sukses menjadi seorang aktris ternama yang populer. Dia harus tetap menjaga mimpinya itu. Mimpi yang tidak di raihnya hanya dengan semalam dan jalan yang mulus.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan mimpiku, aku harus bisa."