
" OMG!!! kamu kenapa Tiff??" Amber menjerit melihat Tiffany yang di papah Jonathan. Hans sigap membantu Jonathan mendudukan Tiffany di kursi. Segera di periksanya kaki Tiffany. Tampak ada warna kemerahan di dekat mata kaki. Sepertinya kaki Tiffany terkilir saat jatuh karena dia menggunakan high heels.
Hans mengambil kotak P3K yang selalu di bawanya, dikeluarkan semprotan EthylCloride dan menyemprotkan ke kaki Tiffany. Yang punya kaki tampak tidak peduli dengan keadaan sekitar, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Apa yang terjadi?" Amber berbisik kepada Min Hyuk.
"Tanyakan saja pada Tiffany kronologi lengkapnya, yang jelas dia jatuh tak sengaja disenggol staff yang sedang buru-buru." Min Hyuk tidak ingin memberikan keterangan lebih, dia tahu dia tidak punya kewajiban untuk menjelaskan apa yang terjadi.
Hans pun tetap diam dan hanya sibuk mengobati Tiffany, dia menunggu waktu yang tepat untuk bertanya setiap detilnya termasuk jas yang di pakainya, karena Min Hyuk dan Jonathan masih memakai setelan lengkap. Namun sangat tidak mungkin bertanya disaat sekarang jika melihat keadaan Tiffany.
*******
Do Hwan duduk dengan muka tidak bersahabat. Dia benar-benar gusar. Teman-temannya ikut duduk tanpa berbicara apapun. Setelah sekian lama tinggal dalam keheningan, Jerry memberi kode kepada Edward untuk bicara. Karena sebagai leader, Edward di sengani teman-temanya termasuk Do Hwan.
"Kang Do Hwan, aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu, tapi kita harus tampil di segmen penutup, jadi aku minta tolong kamu bersikap profesional yaaa??" Edward sama sekali tidak menyinggung kejadian tadi di koridor.
Do Hwan menghembuskan nafasnya, menutup wajah dengan kedua tangannya kemudian mengacak acak rambutnya.
" Maafkan aku,ayo kita tampilkan yang terbaik." Do Hwan berdiri dan tersenyum ke arah teman-temannya.
********
"Apa menurutmu Kang Do Hwan itu menyukai Tiffany??" Min Hyuk memecahkan kesunyian saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Aku tidak tahu."
"Tapi,Tiffany kan memang dekat dengan TheFive."
"Siapa gadis yang terus menempel pada Do Hwan?" tanya Jonathan tidak menanggapi Min Hyuk
"Ahhh,itu Irene. Solois pendatang baru yang cukup mencuri perhatian karena dia cantik sekali. Dia dulu trainee di agensi Do Hwan."
Jonathan menatap keluar jendela. "Ini semakin menarik," gumannya.
*****
"Sebaiknya kamu segera istirahat, kalau ada apa-apa hubungi aku." Hans mengantar Tiffany sampai kedalam rumahnya.
"Kamu yakin gak perlu ke rumah sakit??" Amber tampak khawatir.
"Gak usah, ini juga cuma terkilir sedikit, gak apa-apa." Tiffany mencoba menenangkan Amber yang memang selalu khawatir berlebih jika melihat Tiffany sakit.
" Apa aku perlu menginap disini??" Amber kembali bertanya.
"Amber, aku ini gak apa-apa.Kalian kok seperti memperlakukan aku seperti sedang sakit parah."
"Memang kamu gak sakit parah, tapi wajahmu tampak seperti orang yang kena penyakit kronis." Hans bersuara. "Ayo Amber kita pergi, biarkan Tiffany istirahat."
Hans berdiri dari tempat duduknya di ikuti Amber.
"Kamu berhutang penjelasan padaku Tiff." Hans berbalik dan pergi meninggalkan Tiffany sendiri.
"Cleck" pintu berbunyi, tanda Hans dan Amber benar- benar sudah pergi. Tiffany meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar. Dilihatnya ada 6 panggilan tak terjawab dan pesan dari Do Hwan, serta pesan dari Jonathan.
"Kabari aku jika sudah di rumah" pesan Do Hwan, Tiffany lanjut membaca pesan Jonathan tanpa membalas pesan Do Hwan.
" Kompres kakimu dengan es ."
__ADS_1
"Istirahat yaaa."
"Iya, makasih ya kak Jonathan." Tiffang membalas pesan dari Jonathan.
Tiffany melangkah perlahan ke kamarnya. Dia membasuh wajahnya di kamar mandi dan berganti baju. Kemudian duduk di atas kasurnya ,mengambil ponsel dan mengetikkan "Irene" di mesin pencari. Tak lama munculnya profil, foto serta artikel-artikel tentang Irene. Dia membaca profil Irene dengan teliti, di dapatinya jika Irene dulu satu agensi dengan Do Hwan, dan kemudian keluar karena gagal debut.
Irene baru memulai debutnya beberapa bulan lalu. Tiffany kemudian mencari nama sosmed Irene dan memeriksa postinganya. Dia menemukan postingan foto lama Irene bersama TheFive, mereka nampak berfoto di salah satu tempet makan, dan disitu ada Do Hwan yang duduk di samping Irene.
"Ternyata mereka memang sudah kenal lama, bahkan sebelum aku mengenal kak Do Hwan."
Tiffany mengecek Followers Irene dan di dapatinya jika Do Hwan mengikuti Irene.
"Dia saja tidak follow aku di sosmed. " Tiffany menggigit bibirnya. "Eh tunggu, kok aku jadi stalker gini sih?!" Tiffany segera menutup profil sosmed Irene dan meletakan ponselnya di meja samping tempat tidur kemudian merebahkan dirinya.
"Apa sebenarnya hubungan kak Do Hwan dengan Irene??"
*******
Do Hwan terus mengecek ponselnya, berharap ada pesan dari Tiffany, tapi nihil.
"Seharusnya, dia sudah di rumah." Do Hwan menatap arlojinya. Dia sendiri sudah pulang ke rumah duluan saat acaranya selesai dan memilih untuk tidak ikut makan bersama staff dan member lainnya. Dia mencoba menelepon Tiffany sekali lagi tapi ponselnya sudah tidak aktif. Do Hwan khawatir Tiffany salah paham dengan Irene, dia juga khawatir dengan keberadaan Jonathan.
Do Hwan mondar-mandir gelisah. Dia kemudian meraih kunci mobilnya dan segera mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
"Tingtongtingtong!!"
Do Hwan menekan bel rumah Tiffany. Dia benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengannya. Do Hwan pun tahu mungkin Tiffany sudah tidur karena ini sudah larut, tapi dia tidak ingin hubungannya dengan Tiffany jadi jauh.
Tiffany yang sudah terlelap kaget .
"Siapa sih??"
"Cleck" pintu terbuka dan Tiffany segera menarik Do Hwan kedalam kemudian menutup pintu.
"Kak Do Hwan apa-apaan sih, kenapa kemari????"
Tanpa menjawab pertanyaan Tiffany Do Hwan segera memeluk gadis itu. Tiffany kaget, dan dia tidak membalas pelukan Do Hwan, dia hanya diam saja.
"Maafkan aku," bisik Do Hwan. "Maafkan aku."
"Kenapa minta maaf Kak??"
"Maafkan aku ...." Do Hwan mengeratkan pelukannya. Dia benar-benar tidak ingin Tiffany pergi meninggalkannya.
"Nngg, Kak Do Hwan,duduk dulu ya. Kakiku sakit." Tiffany merasakan kakinya berdenyut karena lama berdiri. Do Hwan melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Tiffany, menuju ke ruang tamu.
"Kak Do Hwan, kenapa kakak harus kemari?? jika di lihat orang bisa bahaya," kata Tiffany tanpa menatap Do Hwan.
"Kau tidak menjawab teleponku, dan juga tidak membalas pesanku."
"Tadi ada Kak Hans dan Amber disini."
"Tiffany, apa hubunganmu dengan Jonathan??"
"Tiffany, tatap aku. Apa hubunganmu dengan Jonathan? mengapa kalian begitu dekat??" intonasi Do Hwan sedikit naik.
"Terus kakak denga Irene bagaimana??!!" Tiffany menatap Do Hwan dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
__ADS_1
"Aku tidak punya hubungan apa-apa dengannya, sama sekali tidak ada!"
"Ooh, tapi bisa saling gandengan mesra begitu di depan umum???!!"
"Siapa yang gandengan?? Dia yang datang merangkul lenganku. Ku mohon Tiffany percaya padaku, aku tidak ada hubungan apapun pada Irene, apalagi perasaan khusus." Do Hwan meraih tangan Tiffany.
"Aku iri padanya......."
"Apa??"
"Iyaa, aku iri pada Irene. Dia bisa merangkul Kak Do Hwan di mana saja dia mau, bahkan di depan banyak orang tanpa takut di ekpose paparazi, sementara aku??? bahkan untuk jalan berdua saja sangat sulit."
Tiffany menahan tangisnya, entah mengapa dia begitu kesal jika mengingat dia tidak memiliki keberanian seperti Irene.
"Tiffany sayang,kau kan tahu posisi kita. Lagi pula aku hanya menyayangimu, bukan Irene!!" Do Hwan membelai kepala Tiffany lembut.
Tiffany tiba-tiba berdiri.
"Jangan pergi!!!" Do Hwan meraih tangan Tiffany memintanya untuk kembali duduk.
"Aku mau ambil minum."
Tak lama Tiffany datang membawa sekaleng cola dan meletakannya di depan Do Hwan.
"Tiffany, kamu percaya padaku, aku tidak menyukai siapapun selain kamu." Do Hwan kembali berusaha meyakinkan Tiffany.
"Tapi aku tidak suka melihat Kak Do Hwan di rangkul gadis itu!!"
"Sama, aku juga tidak suka melihatmu begitu dekat dengan Jonathan Kim."
"Aku kan sudah bilang, aku dan Kak Jonathan dekat karena kita syuting drama bareng."
"Tapi kalian terlihat begitu dekat, apalagi tadi, berani-beraninya dia menyentuhmu di depan mataku." suara Do Hwan terdengar kesal. "Mulai sekarang jangan gunakan baju terbuka jika bersama laki-laki lain,apalagi dengan Jonathan ."
"Tadi kak Jonathan hanya membantuku, lagi pula bajuku kan disiapkan Amber. Ini juga bukan kali pertama aku memakai pakaian seperti itu."
Do Hwan diam sejenak, dia berusaha mengontrol emosinya, jangan sampai dia terlihat kekanakan hanya karena cemburu.
"Bagaimana keadaamu,apa baik-baik saja?? tadi kamu jatuh lumayan keras." Do Hwan mengalihkan topik pembicaraan
"Baik- baik saja, hanya kakiku terkilir."
Sontak Do Hwan berjongkok di kaki Tiffany dan memeriksanya
" Apa sudah di kompres?"
"Iya sudah."
"Kamu hati-hati yaaa, jangan buat aku khawatir." Do Hwan sudah kembali ke tempat duduknya.
"Tiffany, jangan memilih laki-laki lain. Tetaplah disisiku, dan jangan mengabaikanku karena itu bisa membuatku gila." Do Hwan menggengam tangan Tiffany, dan kemudian mengecup kepala Tiffany lembut.
Tiffany yang sedari tadi menahan tangisnya,memeluk Do Hwan dan menangis di dada Do Hwan. Dia merasa kesal karena harus menyaksikan perempuan lain merangkul pria yang dicintainya. Dia tidak Ingin Do Hwan bersama orang lain.
"Sudah,jangan menangis sayang .Aku akan selalu bersamamu." Do Hwan mengusap rambut Tiffany.
Sesaat setelah tangis Tiffany reda, Do Hwan memegang kedua pipi Tiffany sambil saling menatap.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Tiffany Liu. Sangat mencintaimu!" kemudian dia mengecup bibir Tiffany lembut.