When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 18


__ADS_3

" Tiffany,semangat ya hari ini." Mr. Koh menepuk lengan Tiffany pelan.


"Iya....!!"


"Eh sudah lihat berita belum ??"


"Apa ??"


"Ituloh tentang penyanyi pendatang baru itu, Irene dan member TheFive."


Tiffany yang sedang berjalan mencari Amber, tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa Staff.


"Haa?? Irene ? TheFive? apaan sih?" pikirnya penasaran. Di rogohnya ponsel dari sakunya hendak memeriksa berita hari ini, tiba - tiba ada yang menutup matanya dari belakang.


"Ih,siapa sih??" Tiffany meraba - raba tangan yang menutupi matanya, dia kemudian mencubitnya.


"Ahahh !!!! sakit !!! " jerit yang empunya tangan.


"Rasain!!!Kak Jonathan iseng sih."


Jonathan meringis sambil mengusap - usap tangannya yang di cubit Tiffany.


"Kok bisa tahu kalau itu aku??"


"Ya siapa lagi yang punya tangan lebar seperti Kak Jonathan??!!"


"Ini hari terakhir kita syuting loh Tiff." Jonathan berjalan bersama Tiffany. "Nanti, masih bisa ketemu kan ?? "


"Iyalah masih, kan Kak Jonathan punya nomor telepon ku, nanti bisa hubungi aku kalau mau ketemu."


"Kalau main ke rumah mu?"


"Mmmm, boleh sih, selama kak Jonathan siap buat di gosipkan. Hehehe."


"Ini saja sudah di gosipkan kok."


"Tiffany, Jonathan ayo foto bareng sama kru dan staff lainnya," ajak seorang kru sambil berlari melewati mereka berdua.


Tanpa sadar Jonathan menggandeng Tiffany dan mengikuti kru tersebut.


"Ciee, ciee, gandengan."

__ADS_1


"Eheemm, bau-baunya ada yang cinlok nih."


"Suiit,suiitt." Goda para kru dan staff yang sudah berkumpul untuk foto bersama. Jonathan langsung salah tingkah, sementara Tiffany tersipu malu. Mereka pun berfoto bersama sebagai kenang - kenangan.


*****


"Heii Edward, kau sudah lihat ini???!!!" Tae Oh berlari ke arah Edward kemudian menyodorkan ponselnya. Edward melotot melihat ponsel Tae Oh, dia seakan- akan tidak percaya dengan apa yang baru di bacanya. Dia mengedarkan pandangan, mencari seseorang. Dan tampaklah orang yang dicarinya sedang duduk di sudut dengan mata terpejam. Bergegas di hampirinya orang tersebut. Tae Oh hanya menatap mereka penasaran.


"Ikut aku," ajaknya .


" Jelaskan ini apa Kang Do Hwan??" Edward menunjukan ponselnya kepada Do Hwan ketika mereka tiba di toilet pria. Do Hwan memincingkan matanya kemudian matanya tiba - tiba terbelalak


" Apa -apaan ini??!!!!" Do Hwan merebut ponsel Edward dan membaca apa yang tertulis. "Berita sampah!!!!!! sialan, siapa yang berani memberitakannya!!" Wajah Do Hwan menegang, dia meremas remas rambutnya.


"Jadi apa berita itu benar??"


" Apa aku sudah gila??!! hahh?!! itu berita bohong!!" Do Hwan hampir berteriak. Dia kemudian berlari ke tempat dia duduk tadi. Di carinya ponselnya, kemudian dia menelepon Tiffany. Tapi teleponnya tidak aktif.


"Apa dia masih syuting??!! apa dia sudah membaca berita itu???? aahhhh!!!!" Do Hwan menghentakan kakinya, sialnya lagi dia dan TheFive sedang berada di luar negeri karena besok mereka ada konser, sehingga dia tidak bisa segera menemui Tiffany dan menjelaskan semuanya. Dia benar - benar frustasi sekarang.


*****


Tiffany membaca artikel di ponselnya berulang kali, dia memastikan jika dia tidak salah baca. Dan benar, dia memang tidak salah membaca berita itu.


Dalam artikel itu terdapat beberapa foto yang memperlihatkan Do Hwan sedang memeluk Irene.


Tiffany membuang nafas dan mematikan ponselnya. Dia menatap kosong ke luar tanpa dia sadari Hans memperhatikannya dari kaca spion.


"Mau pulang atau ke acara makan malam?" Tanya Hans.


" Ke acara makan malam lah, ini kan makan malam terakhir dengan para kru, masak aku pulang sih."


"Kamu baik- baik saja?" Hans kembali memastikan keadaan Tiffany karena raut mukanya tampak berubah.


" Iya , aku baik -baik saja."


****


Makan malam perpisahan para artis dan kru drama berlangsung meriah, mereka tertawa dan menikmati suasana kebersamaan setelah hampir lima bulan menghabiskan waktu di lokasi syuting. Drama mereka juga mendapat rating dan respon yang baik dari masyarakat. Jonathan yang duduk di samping Tiffany sering melirik ke arah gadis itu, seakan sedang menyelidik sesuatu.


"Matamu bisa jereng jika menatapku dengan cara seperti itu terus Kak Jonathan," ucap Tiffany sambil menyuapkan potongan buah ke mulutnya

__ADS_1


"Haisssh, jangan menyumpahi ku dong." Jonathan menyikut Tiffany.


" Tiffany, Jonathan, apa kalian tidak ada rencana untuk melajutkan hubungan ke arah yang lebih resmi?? Kalian terlihat cocok sekali," goda seorang kru yang di iyakan oleh yang lainnya.


"Hahaha, tenang saja, jika ada level selanjutnya pasti kalian akan tahu juga,iya kan Tiff?" Jonathan kembali menyikut Tiffany yang hanya tersenyum.


Acara makan malam pun selesai dengan bahagia.


"Kamu langsung pulang??" tanya Jonathan.


"Iya."


"Kamu beneran gak apa-apa kan??"


"Apaan sih Kak Jonathan, aku baik-baik saja kok."


"Ya sudah, sampai nanti yaaa."


Mereka pun berpisah, Tiffany segera menuju ke mobilnya.


"Langsung pulang ya Kak," pinta Tiffany pada Hans.


*****


" Apa dia benar baik-baik saja??" Jonathan menatap mobil Tiffany yang keluar meninggalkan tempat parkir. Di lihatnya ponselnya yang terdapat berita soal Do Hwan. Jonathan sebenarnya sudah mengetahui berita ini sejak di lokasi syuting tapi dia tidak ingin Tiffany mengetahuinya, yang akhirnya hanya akan merusak moodnya sehingga mengganggu penampilan Tiffany. Dia benar-benar khawatir dengan gadis itu.


****


Tiffany membuka pintu rumahnya, segera menuju kamar, dan masuk ke kamar mandi. Di nyalakannya shower dan duduk di bawahnya dengan masih berpakaian lengkap. Dia duduk merenung, dadanya sesak menahan marah, sedih dan semua rasa kecewanya pada Do Hwan.


Dia berdiri di depan cermin di kamar mandinya, sudah hampir sejam dia berada di bawah shower, tapi tak ada setetes air matanya yang keluar. Ingin rasanya dia menangis terisak bahkan berteriak agar bisa merasa lebih baik tapi entah kenapa matanya enggan mengeluarkan air mata. Di tatapnya bayangan dirinya di cermin , nampak begitu menyedihkan.


Dia berganti baju dan berbaring di ranjangnya tanpa mengeringkan rambut, tapi matanya tidak mau terpejam.


"Pleaseee, menangis. Ayo menangislah Tiffany," bisiknya pada dirinya sendiri sambil memukul - mukul dadanya. Hatinya benar-benar sakit.


Tiffany mencoba menutup matanya, tapi saat matanya tertutup bayangan saat dia bersama Do Hwan muncul. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama, Do Hwan yang lembut dengannya. Saat Do Hwan menggenggam tangannya dan saat Do Hwan menggatakan bahwa dia mencintai Tiffany.


Tangan Tiffany memegang liontin bintang yang dipakainya, liontin hadiah dari Do Hwan. Tak pernah dia bayangkan Do Hwan bisa menyakitinya dengan cara seperti ini.


"Apakah ini yang kau bilang mencintaiku Kang Do Hwan??"

__ADS_1


Tak kunjung bisa tidur, Tiffany pun mengambil ponselnya yang sejak tadi di matikan. Saat dia menyalakannya masuk beberapa pesan dari Do Hwan, tapi di abaikannya pesan- pesan itu. Dia kembali melihat berita tengang Do Hwan dan melihat foto-foto Do Hwan bersama Irene. Satu hal yang di inginkan Tiffany saat ini, yaitu menangis sepuasnya.


__ADS_2