When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 5


__ADS_3

"Sudah tidur?"


"Belum, masih di jalan pulang."


"Oh, cepat istirahat. Besok mau jajan denganku?"


"Ice cream?😁"


"Tidak!!lusa kau ada show, suaramu bisa


serak."


"😭😭😭😭😭"


"Besok ku traktir kopi + cinnamon roll,


jam 10 ku jemput. "


"Ay..ay kapten."


"Serius amat Tiff,sedang chat dengan siapa??" Amber mendekatkan kepalanya ke arah ponsel Tiffany, sontak Tiffany mengunci Handphonenya.


"Ih Amber, apaan sih?! kepo deh," protes Tiffany merajuk.


"Habisnya kau asyik banget utak atik handphone," ucap Amber ."Sedang Chat dengan gebetan yaaa....?!" Amber mencoba menggoda Tiffany..


Hans melirik ke arah Tiffany lewat kaca spion depan.


"Gak, aku cuma lihat lihat postingan di IG kok," desah Tiffany. " Kak Hans, bisa cepetan dikit gak? aku capek banget."


Hans menginjak gas, mempercepat laju mobilnya. Dia tidak berkata apa-apa, tapi Tiffany tahu kata "Pacar" terlalu sensitif bagi Hans. Managernya itu selalu mewanti-wanti Tiffany soal itu. Karena itu Tiffany tidak ingin Hans ataupun Amber tahu bahwa saat ini dia sedang dekat dengan Do Hwan.


Yah, sedang dekat. Entah sejak kapan,tapi setelah masa promosi mereka lalu, Do Hwan dan Tiffany sering saling mengirim pesan, dan beberapa kali keluar bersama. Walaupun Tiffany tidak yakin dengan perasaan Do Hwan kepadanya, karena Do Hwan masih tampak dingin dan tidak menunjukan tanda-tanda ada perasaan padanya. Tingkah laku Do Hwan padanya sangat berbeda dengan member TheFive lainnya. Jika mereka senang menggoda Tiffany, memanjakannya, Do Hwan malah biasa- biasa saja. Bahkan pesan yang dikirimkan Do Hwan pun biasa sekali.Saat mereka keluar bersama itu hanya sekedar minum kopi, atau menikmati cinnamon roll kesukaan Tiffany. Selebihnya mereka lebih sering hang out dengan member TheFive.


 


\*


 


Paginya, Tiffany sudah menunggu Do Hwan yang janji menjemputnya. Gadis cantik itu mengenakan kaos putih , celana pendek warna pink, sneaker putih, topi hitam, tak lupa masker dan kacamata.


"Aku di parkiran basement."


Masuk sebuah pesan dari Do Hwan, Tiffany pun bergegas turun. Sampai di basement dia mencari mobil putih milik Do Hwan.


" Cerah amat," komen Do Hwan saat Tiffany masuk ke mobilnya.


" Secerah hari ini,hehehe." Tiffany menggoda Do Hwan.


" Tapi hari ini mendung, sepertinya mau hujan," kata Do Hwan sambil menyetir mobilnya.


Tiffany hanya diam saja, dia sudah terbiasa dengan sikap Do hwan.


Do Hwan sendiri tampak ganteng dengan celana jeans selutut, dan kemeja putih, serta topi. Mereka menuju ke Cafe langganan mereka. Do Hwan memakirkan mobilnya di tempat parkir.


"Biasa??"

__ADS_1


"Ice Americano," jawab Tiffany.


"No!!, tidak boleh minum es. Ini juga mau hujan. Hot Americano, ok?!" ucap Do Hwan, kemudian keluar dari mobil. Tiffany hanya bisa manyun. Tak lama kemudian Do Hwan datang sambil membawa dua cup kopi dan sebuah kotak yang isinya cinammon roll untuk Tiffany dan sandwich untuk dirinya.


Jika cuma berdua, mereka selalu minum kopi di mobil, untuk menghindari paparazi yang nantinya akan menimbulkan gosip.


" Bagaimana persiapan show besok?" tanya Do Hwan sambil mengunyah Sandwichnya


" Yaah sudah ok,aku juga cuma tampil nyanyi 2 lagu."


"Kak Do Hwan sendiri ,hari ini tidak ada jadwal??"


"Nanti sore aku ada latihan bersama yang lain."


" Sama Kak Edward?"


"Iya..kenapa?"


"Gak....."


"kamu kok sering tanya soal Edward,suka ya??" tanya Do Hwan tiba-Tiba.


"Uuhukkk!!"


Tiffany tersedak Cinnamon Roll, wajahnya memerah, dan tampak sulit bernafas, dia memukul mukul dadanya. Do Hwan pun panik dan membantu menepuk nepuk punggung Tiffany, dia meraih Air Mineral dan memberikanya kepada Tiffany.


"Gak apa-apa?" tanya Do Hwan Khawatir.


Tiffany hanya mengangguk sambil melap mulutnya dengan Tissue. Airmatanya menetes, Do Hwan yang melihat itu spontan mengarahkan telunjuknya menghapus air mata Tiffany.


" Apaan sih kak Do Hwan,itu cuma karna tadi susah nafas, makanya airmatanya keluar," ucap Tiffany melepaskan tangan Do Hwan.


Mereka Terdiam sesaat.


"Jadi, kamu suka dengan Edward??" Do Hwan kembali bertanya.


"Ihh..kok di tanya lagi, emang kak Do Hwan penasaran yaa kalo aku suka sama kak Edward ato gak??"


Do Hwan yang sebelumnya menatap kedepan, langsung mengarahkan tatapanya ke arah gadis di sampingnya.


"Suka atau gak??!"


"Suka....," jawab Tiffany.


Do Hwan terdiam, menghembuskan nafasnya kuat,dan kembali menatap ke depan.


"Aku juga suka sama Kak Tae Oh, Kak Jerry, Kak Jungsu dan Kak Do Hwan...," kata Tiffany tersenyum.


Do Hwan kembali menatap Tiffany kesal. Iya, dia kesal karena merasa di permainkan oleh gadis di sampingnya. Do Hwan menyalakan mobilnya. Dia masih diam, sementara Tiffany sesekali melirik ke arah Do Hwan. Atmosfer dalam mobil itu membuatnya tidak nyaman. Entah kenapa sepertinya Do Hwan Marah.


"Kak Do Hwan....."


Tidak ada jawaban.


"Kak Do Hwan....marah yaa??"


Do Hwan tampak serius menyetir, sementara di luar hujan mulai turun dengan deras. Tiffany pun diam.Dia memperhatikan jalan yang sepertinya menuju ke arah apartemennya.

__ADS_1


" Aku bahkan belum menghabiskan Cinnamon rollku, dan sudah mau di antar pulang??!!" batin Tiffany, dia mulai kesal, karena dia pun bingung kenapa Do Hwan tiba-tiba bersikap seperti itu.


"Kak Do Hwan....."


Hening, hanya suara guruh hujan yang sayup terdengar.


"Kak Do Hwan!!!!" panggil Tiffany dengan nada meninggi, namun tetap tak di tanggapi Do Hwan.


" Oke Fix aku di cuekin," guman Tiffany. Kekesalannya pun kian memuncak. Tiffany adalah tipe gadis yang sangat tidak suka jika dia di abaikan.


Dia pun memberengut, dan air matanya pun menetes. Dia benar benar kesal dengan Do Hwan.


Tiba-Tiba Do Hwan menepikan mobilnya. Dia menatap gadis yang sedang diam diam menangis di sampingnya. Dia merebahkan kepalanya ke setir mobil, mengangkat tangannya perlahan ke arah kepala Tiffany dan mengelus kepala gadis yang kemudian terisak. Tiffany menangis tersedu.


"Kenapa menangis???" tanya Do Hwan, tangannya turun ke arah pipi Tiffany, menyeka air matanya lembut. Sekarang giliran Tiffany yang tidak membalas pertanyaan Do Hwan. Dia masih terisak menahan marah. Do Hwan masih tetap memandang Tiffany lekat sambil tangannya mengusap pipi Tiffany. Di luar hujan turun dengan derasnya.


"Maafkan aku.....," ujar Do Hwan. Tiffany tetap diam.


Tangan Do Hwan berhenti mengelus pipi Tiffany, dan langsung menggenggam tangannya.


"Deg!!!!"


Jantung Tiffany berdetak kencang. Tapi dia tetap tidak mau membalas tatapan Do Hwan. Rasa kesalnya belum hilang.


Do Hwan mengeratkan genggamannya. Selama ini, sudah beberapa kali ada skinship antara Do Hwan dan Tiffany, tapi hanya sebatas Do Hwan mengelus kepala Tiffany ataupun Tiffany merangkul Do Hwan,karena member TheFive apalagi Edward sering melakukannya. Bagi mereka Tiffany sudah seperti Adik mereka. Tapi ini pertama kalinya Do Hwan memegang tangan Tiffany. Hangat rasanya.


Tiffany pun selesai dengan tangisannya. Dia menyeka sisa-sisa air matanya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih di genggam Do Hwan. Saat dia melirik ke arah Do Hwan, tampak Do Hwan masih dengan posisinya menyandarkan kepala di setir namun matanya terpejam.


"Apa dia tidur..?" batin Tiffany, dia menarik perlahan tangannya yang di genggam Do Hwan, tapi segera di genggam dengan kuat Olehnya. Do Hwan membuka matanya, menatap Tiffany.


"Sudah selesai...?"


Tiffany diam, dia tidak berani menatap Do Hwan. Do Hwan tampak begitu dingin. Tiffany tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.


"Kenapa menangis??" tanya Do Hwan Lagi.


" Gak...," jawab Tiffany pelan.


" Aku tidak suka, jika kamu bilang menyukai orang lain....," kata Do Hwan ,membuat Tiffany kaget dan langsung menatap ke arah Do Hwan.


" Aku menyukaimu, dan aku tidak senang mendengar kau menyukai orang lain." Do Hwan mengangkat kepalanya dan menatap ke depan, tapi tetap tidak melepaskan genggamannya.


"Kak Do Hwan...."


"Aku memang tidak bisa menggegam tanganmu di bawah sinar matahari, mengajakmu makan di restoran berdua, atau hanya sekedar berjalan jalan bergandengan tangan seperti pasangan yang lain tapi aku janji bisa membuatmu merasa yakin di sukai oleh orang yang tepat. Untuk itu, ayo berkencan!!!!"


Tiffany hanya bisa diam mendengar pernyataan Do Hwan, dia benar benar tidak percaya jika si Ice Prince itu menyukainya.


" Lihat, di luar hujan deras banget, langitnya menghitam, sepertinya kau salah pake baju, cuaca hari ini tak secerah bajumu," ucap Do Hwan, dia akhirnya melepas tangan Tiffany. Tiffany melongo dengan tingkah Do Hwan, dia bahkan belum mengatakan sepatah katapun padanya.


"Isshhh...Kak Do Hwan apa-apaan sih?!kan tadi ramalan cuaca bilang hari ini bakalan cerah." Tiffany memperbaiki duduknya.


"Cup!" Do Hwan tiba tiba mengecup pipi Tiffany yang sontak terdiam kaget.


"Jadi nona cuaca cerah,bagaimana? kau mau berkencan denganku?" ucap Do Hwan begitu dekat dengan wajah Tiffany.


Perlahan Tiffany menganggukan kepalanya, dia tidak bisa berkata apapun. Dia kaget dengan pengakuan Do Hwan, dan lebih kaget lagi dengan apa yang baru saja Do Hwan lakukan. Do Hwan kembali ke posisinya dan meraih tangan Tiffany, menggengamnya dengan erat. Karena dia hanya bisa menggenggam tangan itu di saat seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2