When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 22


__ADS_3

"Ting🎶, ting🎶. " Do Hwan menekan - nekan tuts piano di depannya asal-asalan. Pikirannya begitu kalut saat ini. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Baginya TheFive adalah segalanya. Tae Oh dan Jerry sudah seperti keluarga baginya. Sementara Tiffany adalah gadis yang begitu di cintainya.


"Dasar rubah licik," desisnya.


"Brak!!!!!!" di tinjunya bagian atas piano dengan sekuat hati. Tangannya berdenyut sakit tapi dia tidak mempedulikannya. Di remas-remasnya rambutnya. Dia benar-benar akan gila jika memikirkan masalah yang di hadapinya saat ini.


" Astaga Do Hwan, kamu kenapa??" Tae Oh yang baru saja datang segera mendekati Do Hwan dengan khawatir.


Do Hwan menggelengkan kepalanya.


"Do Hwan, apa kamu mau aku dan Jerry memberikan klarifikasi jika foto itu di saat Irene sedang mabuk dan kamu hanya menahannya agar tidak jatuh?"


Do Hwan menatap Tae Oh. " Seandainya jika aku bisa," batinnya. Kemudian dia menggeleng dan beranjak dari tempat duduknya. Dia keluar menuju ruangan loker. Membuka loker dan mengambil ponselnya. Dia mengetikan sesuatu.


"Maafkan aku."


Do Hwan segera menghapusnya. Dia menggengam ponselnya dengan keras. Ingin sekali dia menelepon gadis itu hanya untuk sekedar mendengar suaranya dan memastikan dia baik-baik saja. Dia benar-benar frustasi dengan apa yang menimpanya. Dan semua ini karena si rubah licik itu.


"Hei, Kang Do Hwan!" Edward mengagetkan Do Hwan yang sedang berusaha menahan amarahnya.


" Kau masih memikirkan Tiffany??" Edward berdiri di samping Do Hwan " Aku akan menemuinya akhir pekan ini."


Do Hwan segera menoleh ke arah Edward. " Jangan, gak usah."


"Apanya yang gak usah??! Apa kau kira kau bisa melihatmu dengan keadaan sekacau ini?"


"Hei Kang Do Hwan, sebenarnya apa yang membuatmu tidak menyangkal ataupun membantah berita berkencan itu?? kalau kau membantahnya masalahnya tidak akan sepelik ini," sambung Edward yang masih penasaran dengan alasan Do Hwan .


"Malam itu setelah kejadian mendekatiku dalam keadaan mabuk, Tae Oh dan Jerry pergi untuk mengantarkannya pulang, dan sepertinya ada yang memotretnya juga. Irene menggunakan itu untuk mengancamku," kata Do Lirih.


"Apa maksudmu??"

__ADS_1


" Irene mengancamku jika aku tidak mengiyakan kabar kami berpacaran dia akan menyebarkan foto itu dan mengatakan kepada publik jika Tae Oh dan Jerry melakukan pelecehan kepadanya saat dia mabuk."


"Hahh!!!!! dasar wanita jahat!!! aku tidak menyangka jika dia sebusuk itu!!" Edward menghentak-hentakan kakinya ke lantai dengan marah.


" Aku akan pergi menemuinya dan menjambak si nenek sihir itu!!!" Edward terus meracau.


"Kamu itu laki-laki Edward,bagaimana bisa kamu jambak-jambakan??" Do Hwan tersenyum kecil melihat tingkah leadernya itu.


"Tapi aku benar-benar gak nyangka, dia bisa se jahat itu,tahu begitu dari dulu dia tidak ku izinkan untuk dekat-dekat dengan kita."


"Jadi apa rencanamu untuk kedepannya Do Hwan? tidak mungkin kamu akan menjalani ini terus kan?"


Do Hwan mengangkat bahunya. " Aku tidak tahu." Dia menatap langit-langit dengan tatapan nanar.


"Kamu tenang saja ya, aku akan membantumu." Edward menepuk pundak Do Hwan.


"Makasih."


*******


"Dasar nenek sihir," desis Tae Oh.


"Mau ngapain kamu kemari Irene?? ini kan bukan agensi kamu??!!!!!" kata Jungsu Sinis.


Irene yang baru datang hanya tersenyum mendengarnya. Dia tidak peduli dengan empat member lainnya. Dia mendekat ke arah Do Hwan dengan langkah centil.


" Eitsss, mau kemana kamu?!!" Jungsu berdiri dari tempat duduknya dan menghadang Irene.


"Jangan ganggu Do Hwan!! apa belum cukup kamu mengacaukan semuanya!!" Edward bersuara sambil menatap Irene kesal.


"Minggir!!!!" Irene mendorong Jungsu, "minggir Jungsu atau aku panggil wartawan kemari??" Irene tersenyum licik.

__ADS_1


"Biarkan dia Jungsu," kata Do Hwan menantap Irene dengan tatapan tajam. Rahangnya menegang.


Jungsu membiarkan Irene lewat.


"Sabtu ini kita kencan ya Kak?"


"Aku sibuk," Do Hwan berdiri dari tempatnya. "Sebaiknya kamu pulang, jangan mengganggu latihan kami."


"Tapi, aku mau kita kencan!"


" Hei Irene, aku tidak punya kewajiban untuk berkencan denganmu. Jadi, sebaiknya kamu lupakan angan-anganmu itu."


irene memberengut mendengar perkataan Do Hwan.


Dia kesal karena Do Hwan masih tetap menolaknya.


"Sudahlah Irene, biarkan kami latihan. Apa kamu tidak punya kerjaan sampai harus datang ke agensi orang lain?" Jerry mendekat ke arah Irene, dia ingin sekali memberikan gadis itu pelajaran.


"Mau apa kamu?" Irene berjalan mundur menjauhi Jerry.


"Aku akan memberitahu kamu, apa arti 'pelecehan' yang kamu jadikan bahan ancaman kepada Do Hwan." Jerry mengulurkan tangannya hendak menyentuh Irene.


" Kyaaaa!!!"Irene segera lari ketakutan ke luar ruangan di iringi derai tawa ke lima pria itu.


"Cepat kunci pintunya, sebelum si rubah itu datang lagi!" perintah Edward.


Tae Oh segera berlari mengunci pintu ruangan latihan, berharap Irene tidak kembali.


"Sakit jiwa si Irene itu sepertinya!"


"Kita harus segera bertindak. Tidak mungkin kita membiarkan Irene berbuat sesukanya," kata Jungsu.

__ADS_1


"Jadi apa yang akan kita lakukan?"


"Akan aku pikirkan nanti, sekarang kita latihan dulu. Ingat, bulan depan kita ada konser," Edward berdiri dan segera mengajak teman-temannya memulai latiha mereka yang tertunda gara-gara kehadiran Irene tadi.


__ADS_2