
Irene memasuki pintu masuk Xeon Ent. Dia yang menjadi trainee selama bertahun-tahun di Agensi itu sudah mengenal seluk beluk bangunannya. Termasuk tempat latihan TheFive. Dia bahkan bisa masuk kedalam dengan mudah, karena mengenal pegawainya dengan baik. Dia segera menuju ke ruang musik. Di mana Do Hwan selalu berada.
"Hai Kak Do Hwan." Irene menyapa Do Hwan yang sedang sibuk memeriksa kertas-kertas musik di depannya.
"Mau apa kamu kesini??" tanya Do Hwan tanpa melirik Irene.
"Datang menemuimu, ada yang mau kubicarakan."
Irene mengambil sebuah kursi, meletakannya didekat Do Hwan dan duduk.
"Apa kamu tidak lihat, aku sedang sibuk. Pergilah, aku tidak punya waktu. " Do Hwan masih fokus dengan kertas-kertasnya sambil sesekali menulis sesuatu.
"Kita harus bicara!!" Irene merebut kertas yang sedang di pegang Do Hwan. Mata Do Hwan berkilat kesal. Dia tidak suka di ganggu saat sedang bekerja.
"Berikan itu Irene!!"
"Gak, kita harus bicara dulu."
"Berikan!!! aku tidak punya waktu untuk meladenimu!!!"
"Gak akan!!! kita bicara 5 menit saja,oke??!"
Do Hwan yang benar-benar kesal dengan Irene menghembuskan nafasnya. Dia tahu Irene bukanlah gadis yang mudah menyerah.
"Kau punya waktu 5 menit, jadi bicaralah....!"
"Berkencanlah denganku!!!" kata Irene.
"Apa kau sudah gila??!!!" Do Hwan menatap Irene.
"Gak,aku hanya ingin kita berkencan!!!"
"Apa kau tidak takut dengan citramu sebagai newbie?"
"Tidak, lagipula kita cukup serasi. Aku cantik dan publik juga tahu kalau kita sudah lama mengenal."
"Dengar Irene, aku tidak akan pernah berkencan denganmu!!!"
"Kenapa??!!kau tidak menyukaiku?? atau ada yang kau sukai???"
Do Hwan tidak menanggapi Irene sama sekali.
"Kak Do Hwan, jawab!!!!apa kau menyukai orang lain??"
Irene meraih tangan Do Hwan tapi segera di tarik oleh Do Hwan. Irene meremas kertas yang di pegang oleh tangannya yang lain.
"Siapa???siapa wanita yang kau sukai itu??!!!"
"Aku sudah menyukaimu sejak lama, tapi mengapa kamu tidak pernah memandangku???"
"Yaaa Kang Do Hwan, jawab aku!!!!!!" Suara Irene bergetar menahan amarah,tapi Do Hwan tidak mempedulikannya sama sekali. Dia malah melihat ke arah komputer dan mengerjakan pekerjaanya.
"A-apa dia Tiffany Liu??"
Jari Do Hwan yang sedang mengetik terhenti sejenak,kemudian dia melanjutkannya lagi.
"Benarkah dia Tiffany Liu???!!! jawab!!!"
Do Hwan berdiri dari kursinya, merebut kertas yang di pegang Irene dengan kasar.
"Keluar dari sini, SEKARANG!!!!!!!!" bentaknya sambil menatap Irene.Wajahnya memerah karena menahan emosinya.
__ADS_1
Irene mundur beberapa langkah dia cukup terkejut melihat kemarahan Do Hwan. Dia kemudian keluar dengan kesal.
"Aku belum kalah Kang Do Hwan. Kau lihat saja, kau pasti jadi milikku. Aku tidak terima kau abaikan seperti sampah."
"Hai Irene!!" sapa Jungsu yang berpapasan dengannya saat di koridor tapi Irene melewatinya tanpa membalas sapaan Jungsu.
"Apa dia tidak melihatku???" Jungsu melanjutkan langkahnya menuju ruang musik. Setibanya di sana, di jumpainya Do Hwan yang terlihat kesal. Wajahnya di tekuk, dan tangannya terkepal.
"Apa ini ada hubungannya dengan Irene??" guman Jungsu.
"Heei Do Hwan, kamu gak apa-apa??"
Do Hwan hanya menggeleng ,kemudian berdiri
"Aku ke toilet dulu."
Do Hwan berjalan keluar meninggalkan Jungsu yang penasaran.
*******
Do Hwan membasuh wajahnya. Amarahnya tersulut saat Irene menyebut nama Tiffany. Dia tahu Irene cukup nekat, dia tidak mau Irene menyakiti gadia yang dicintainya.
Do Hwan mengambil ponsel yang ada disakunya,
"Nanti malam ada waktu?aku ingin bertemu." Do Hwan mengirimkan pesan.
"Bisa, tapi selesai aku syuting yaa?! hari ini aku selesai lebih awal."
Do Hwan tersenyum membacanya, dia kemudian kembali menuju ke ruangan musik. Sesampainya disana sudah ada Edward dan lainnya.
"Are you ok??!!" tanya Edward, sepertinya Jungsu sudah melapor kepada leader mereka.
Do Hwan melirik ke arah Jungsu yang segera berpura-pura melihat ke tempat lain. Do Hwan mengangkat bahunya dan duduk.
Edward kembali bersuara, sementara member lain menunggu jawaban Do Hwan dengan penasaran. Di TheFive mereka selalu punya kebiasaan jika salah satu member ada masalah maka sang leaderlah yang akan menjadi juru bicara.
"Dia terlalu menyebalkan," akhirnya Do Hwan bersuara.
"Yaaah, kau maklumi saja. Kamu kan tahu, dia sudah lama mengejarmu. Tampaknya dia benar-benar menyukaimu."
"Apa kau tidak ada sedikit pun perasaan pada Irene??" Jungsu ikut menimpali.
"Tidak, aku tidak menyukainya," jawab Do Hwan.
"Tapi kenapa??menurutku dia cantik."
"Tidak suka saja."
"Bisakah kita ganti topik lain?? hari ini kita latihan vokal kan??" Do Hwan bertanya, dia tidak suka dengan situasi seperti sekarang.
"Oke!!ayo kita Latihan." Edward mengajak yang lainnya. Dia tahu tidak ada baiknya meneruskan pembicaraan mereka itu sekarang.
******
Irene yang kesal karena di abaikan oleh Do Hwan segera menuju ke mobilnya. Bertahun-tahun dia mengejar cinta si Ice Prince itu tapi nihil. Dan sekarang sepertinya ada gadis lain yang berhasil mencuri hati Do Hwan.
"Kang Do Hwan, berani-beraninya kau." Irene meremas setir mobilnya.
********
Tiffany menepuk-nepuk bahunya yang terasa pegal, tiba-tiba sepasang tangan terulur memijat bahunya.
__ADS_1
"Kak Do Hwan?"
"Kamu capek ya??" Do Hwan melanjutkan memijat bahu Tiffany.
"Sedikit."
"Maaf yah, mengajakmu keluar. Padahal seharusnya kamu istirahat."
"Gak apa-apa."
Saat itu mereka sedang di dalam mobil Do Hwan yang di parkir di tempat parkir restoran fast food yang buka 24 jam.
"Katamu, ada yang mau kau bicarakan?"
Do Hwan menghentikan pijatannya dan menggenggam tangan Tiffany.
"Bagaimana syutingmu??"
"Lancar kak."
"Ohhh..baguslah. Lalu bagaimana dengan Jonathan??"
"Ihhh, apaan sih ??! kok bahas kak Jonathan?"
"Heheh, emang kenapa sayang??" Do Hwan mengelus kepala Tiffany lembut, dia kemudian meletakan kepalanya di bahu Tiffany.
"Kalau nanti aku buat salah, kamu maafin gak?"
"Tergantung...."
"Tergantung apa???"
"Tergantung salahnya apa, yang jelas kalau kak Do Hwan selingkuh maka tiada maaf bagimu."
Do Hwan tertawa mendengarnya.
"Kalau Kak Do Hwan?"
"Aku? aku akan selalu memaafkanmu."
"Kok gitu??"
"Karena aku mencintaimu Tiffany."
Jantung Tiffany berdebar kencang saat mendengar Do Hwan mengatakannya.
"Kamu berdebar yaa??" goda Do Hwan yang masih bersandar di pundak Tiffany.
"Iihhhh, bangun!! kepala Kak Do Hwan berat." Tiffany membangunkan Do Hwan , sementara wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
"Tapi benar, aku akan selalu memaafkan kesalahanmu Tiffany, karena aku mencintaimu."Do Hwan yang sejak tadi tertawa tiba-tiba berubah serius.
"Tolong,jantungku bisa keluar jika kak Do Hwan terus berkata begitu," batin Tiffany menyentuh dadanya.
"Termasuk kalau aku selingkuh kak???"
Do Hwan terdiam mendengarnya. Bibirnya bergetar . Dia menatap Tiffany dalam.Dia tidak menyangka Tiffany akan bertanya seperti itu.
"Tapi aku tidak akan selingkuh kok, jadi tenang saja,hehehe." Tifanny balas tertawa, dia senang melihat ekpressi Do Hwan, akhirnya dia bisa membalas menggoda Do Hwan. Do Hwan yang melihat Tiffany tertawa segera memeluk gadis itu.
"Jangan melihat orang lain. Cukup Lihat aku Tiffany!! hanya aku," bisik Do Hwan.
__ADS_1
"Iya kak."Tiffany membalas pelukan Do Hwan.
Hangat rasanya saat ada di pelukan seorang Kang do Hwan.