When We Were In Love ( A Secret Love)

When We Were In Love ( A Secret Love)
Episode 11


__ADS_3

"522618," ucap Do Hwan saat mereka tiba di parkiran apartement Do Hwan." Password apartemenku, aku akan masuk duluan, nanti kamu menyusul yaa," sambung Do Hwan, kemudian keluar membawa belanjaannya tadi.Tiffany mengangguk.


20 menit kemudian dia masuk kedalam, naik ke lantai 7 dimana apartemen Do Hwan berada.


"Untuk apa dia memberikan password rumahnya? padahal aku bisa membunyikan bel, dan dia tinggal membukakan pintu untukku," guman Tiffany.


Dia pun mengetik password rumah Do Hwan, dan pintu terbuka. Tiffany masuk dan di lihatnya ruang apartemen yang sangat rapi dan di dominasi warna putih . Tampak ada piano di sudut ruangan. Ini pertama kali Tiffany ke rumah Do Hwan. Dia menuju ke Dapur dan dilihatnya Do Hwan yang memakai celemek sedang memotong bawang. Tiffany terpesona melihat kelihaian Do Hwan memegang pisau.


" Ada yang bisa ku bantu kak??" Tiffany mendekat.


"Gak usah, kamu duduk ajah di situ." Do Hwan menunjuk sebuah kursi di dekat meja makan.


"Tapi kan aku numpang makan disini, masa cuma duduk ajah." Tiffany tetap berkeras ingin membantu Do Hwan


"Duduk...!" ucap Do Hwan sambil mengeluarkan daging giling dari tas belanjanya tadi. Melihat Tiffany yang tidak berpindah dan hanya berdiri di dekatnya, spontan Do Hwan mengangkat tubuh Tiffany dan mendudukannya di kursi yang di tunjuknya tadi.


"Kyaaaaa!!! apaan sih kak Do Hwan?" pekik Tiffany.


"Hei Nona Kalau ku bilang duduk, maka duduk saja!" Do Hwan mendekatkan wajahnya ke wajah Tiffany yang langsung berusah menghindar, rasa kagetnya tadi masib belum hilang.


Do Hwan tersenyum melihat sikap Tiffany, dia kemudian mengelus kepala Tiffany dan kembali ke tempat memasak.


"Kamu tamuku hari ini, jadi duduklah disitu , aku akan memasak pasta yang enak untukmu."


Tiffany pun menurut. Dia duduk dengan muka cemberut. Entah mengapa dia selalu kalah dengan Do Hwan. Do Hwan sibuk dengan pekerjaan memasaknya, sesekali dia melirik ke arah Tiffany yang sedang asyik membaca majalah. Hatinya senang melihat gadis itu berada di rumahnya. Akhirnya Do Hwan selesai memasak.Dia menghidangkan Pasta yang terlihat begitu menggugah selera.


"Waah,kelihatan enak!" Tiffany terlihat bersemangat menatap pasta di depannya


"Makanlah,makan yang baik," ucap Do Hwan.


Mereka pun menyantap pasta buatan Do Hwan dengan nikmat.


"Kak Do Hwan pintar masak yaaa," puji Tiffany. Piringnya kini kosong.


Do Hwan tersenyum mendengarnya.


"Tadi bicara apa saja dengan Jonathan?" Tanya Do Hwan.


"Cuma bicara hal yang gak penting sih, cuma seputar strawberry," jawab Tiffany.


"Kamu dekat dengannya??"


"Gak terlalu Kak, tapi kita berdua kan bakalan syuting drama bareng, dan kemarin kita baru photo shoot untuk promosi drama nantinya," jelas Tiffany.


Do Hwan bukan tidak tahu tentang drama yang akan di bintangi Tiffany dan Jonathan. Bahkan berita jika mereka berdua akan membintangi drama yang sama cukup trending karena mereka berdua merupakan bintang drama besar dan hebat. Belum lagi paras mereka, benar-benar terlihat sangat serasi. Bahkan fans sudah mulai menjodohkan mereka, padahal syuting dramanya saja belum di mulai. Do Hwan hanya tidak menyangka jika Tiffany dan Jonathan lumayan dekat, sampai-sampai Jonathan mampu mengenali Tiffany tadi.


"Karena aku sudah di masakin makanan yang enak, sekarang giliranku yang cuci piring." Tiffany berdiri membereskan piringnya.


"Kalau tak di izinkan, aku akan pulang dan tidak mau kemari lagi," ancam Tiffany dengan wajah serius. Do Hwan pun tidak jadi mencegah Tiffany,dia membiarkan gadis itu mengangkat piringnya dan membawanya ke tempat cuci piring.


Tiffany tersenyum penuh kemenangan. Dia mencuci piring dengan bersenandung kecil, tiba2 sepasang tangan memeluk pinggangnya dari belakang dan seseorang menyandarkan kepalanya di bahu Tiffany.


"Ka-kak Do hwan???!" Tiffany sangat kaget, hampir saja dia menjatuhkan piring yang sedang di pegangnya.


"Sebentar saja," ucap Do Hwan Lirih sambil mengeratkan pelukannya. Tiffany pun diam, namun jantungnya berdetak sangat kencang, dia pun bisa merasakan detakan jantung Do Hwan karena Do Hwan memeluknya erat. Mereka diam di posisi itu dalam diam. Do Hwan memejamkan matanya.


"Kamu milikku Tiffany," ucapnya lirih.

__ADS_1


" Kak Do Hwan??"


"Jangan melihat pria lain, cukup lihatlah aku."


Tiffany memegang tangan Do Hwan melepaskan pelukannya dan berbalik menghadap Do Hwan. Dia menatap wajah pria yang biasanya se dingin es namun kini tampak begitu rapuh. Tatapan lembut Do Hwan pada Tiffany yang membuat Tiffany menyukai pria ini. Tatapan yang tidak pernah di dapatkan oleh wanita manapun selain Tiffany. Perlahan Tiffany mengangkat kedua tangannya, meraih wajah Do Hwan.


" Kak Do Hwan,aku menyukaimu. Hanya kamu...." Kemudian dia berjinjit dan mencium lembut bibir Do Hwan.


Do Hwan memeluk Tiffany erat, seakan takut gadis ini akan pergi meninggalkannya.


"TingtongTingtong!!!!"


Bunyi bel mengagetkan Tiffany dan Do Hwan. Do Hwan melepaskan pelukannya dan mereka berdua menjadi salah tingkah.


"Tingtongtingong!!!"


"Haisssh siapa sih itu??!!membunyikan bel seenaknya," gerutu Do Hwan sambil menuju ke arah intercom dan melihat tampak Edward, Tae Oh, Jerry dan Jungsu sedang di depan pintu apartemennya. Sontak Do Hwan segera berlari ke arah Tiffany.


"Gawat Edward dan lainnya sedang di depan!"


"Apa Kak??!, aduh jadi gimana dong??" Tiffany panik.


"Kamu masuk ke kamar aku yaah," Do Hwan menggengam tangan Tiffany dan membawanya ke kamar. "Kunci pintunya," ucap Do Hwan.


Dia segera menuju ke pintu ,sementara bel terus berbunyi. Saat dia hendak membuka pintu, matanya melihat tas Tiffany yang ada di sofa, langsung dia berlari dan menyembunyikan tas itu di tempat sepatunya.


"Kok lama amat buka pintunya??!" protes Edward saat mereka masuk.


"Aku sedang di toilet," jawab Do Hwan. " Ngapain kalian kemari? perasaan kita lagi gak janjian??"


"Gak ah, aku capek,mau istirahat."


"Kamu baru selesai masak yaa??" Jungsu keluar dari arah dapur sambil membawa soft drink.


"Iya, aku baru selesai makan siang."


"Ini topi siapa??" Edward mengangkat topi yang tergeletak di bawah meja. Topi Tiffany.


"Itu topiku," jawab Do Hwan cepat, dia tak menyangka jika Topi Tiffany bisa jatuh.


"Tapi kok baunya seperti bau rambut wanita," ucap Edward sambil mengendus topi itu. "Coba deh kau cium Jerry." Edward mengangkat topi itu dekat ke hidung Jerry.


"Iya benar," Jerry membenarkan perkataan Edward.


"Kalian apaan sih, itu topiku! Kemarin aku baru selesai potong dan cuci rambut di salon, sepertinya bau shampoo di salon itu," kilah Do Hwan.


Tengkuknya mulai berkeringat.


"Tapi aku kok, seperti pernah lihat topi ini," kata Tae Oh sambil berpikir.


"Ya jelaslah pernah lihat, ini kan topiku." Do Hwan merebut topi dari tangan Edward,sebelum teman-temanya semakin curiga.


"Katanya kalian mau main basket?!pergi sana, aku mau istirahat. Kalian mengganggu saja," ucap Do Hwan.


"Baiklah, jadi kau benar-benar tidak ikut yaa Kang Do Hwan???!" tanya Edward.


"Iya, kalian saja, aku capek."

__ADS_1


"Oke ayo kita pergi teman-teman, biarkan pria ini berkencan dengan kasurnya." Edward berdiri di ikuti teman-temannya yang lain, mereka kemudian keluar dari rumah Do Hwan.


"Kalian ngerasa gak sih ,ada yang aneh dengan Do Hwan?" celetuk Tae Oh.


"Iya benar, seperti sedang menyembunyikan sesuatu,"Jerry menimpali.


" Apa ada wanita di dalam rumahnya??!!" tebak Jungsu


"Aaah, gak mungkin. Mana mungkin ada wanita yang bisa meluluhkan si gunung es itu," kata Edward. "Hanya wanita hebat yang bisa mendapatkan hati Do Hwan" tandasnya.


"Toktok!" Do Hwan mengetuk pintu kamarnya.


"Tiffany ...."


"Cleck!!"


Pintu terbuka.


"Mereka sudah pergi Kak??"


"Iya sudah."


"Uhh,, syukurlah," Tiffany menghembuskan nafas lega.


Do Hwan mengelus sayang kepala Tiffany .


"Maaf yaa."


"Maaf untuk apa?"


"Jika saja aku berani buat jujur pada mereka, pasti kamu gak perlu sembunyi seperti tadi."


"Gak apa-apa kok Kak, lagi pula ini demi kebaikan kita berdua." Tiffany tersenyum pada Do Hwan.


"Satu saat nanti, aku akan katakan pada dunia bahwa inilah wanitaku," ucap Do Hwan menggengam erat tangan Tiffany.


💞💞💞💞


Beberapa saat sebelumnya.


Jonathan baru saja memakirkan mobilnya di tempat parkir supermarket saat dia melihat gadis yang tampak tidak asing bagimana. Wajah gadis itu tertutup masker tapi Topi yang di pakainya, beserta gelang tangan itu, "Tiffany???"


Postur tubuhnya memang sama persis dengan Tiffany.


Dia melihat Tiffany sedang bersama seorang laki-laki yang juga menggunakan masker.


"Apa itu managernya??"


Dengan penasaran Jonathan turun dari mobilnya dan mengikuti mereka. Tampak gadis itu menjaga jaraknya ketika di dalam supermarket tapi tetap mengikuti pria itu. Akhirnya setelah beberapa saat tampak gadis itu berjalan menjauh dari teman prianya dan menuju ke arah tumpukan buah strawberry.


Jonathan berjalan mendekat sampai dia berdiri tepat di belakangnya.


"Benar!! ini Tiffany!"


Jonathan mengulurkan tangannya dan menepuk pubdak gadis itu ,yang sepertinya membuat dia kaget.


Yap, benar saja dia Tiffany. Gadis itu nampak kikuk dan panik saat melihat Jonathan. Jonathan pun sengaja bertanya kepada Tiffany dan di jawab dengan tidak meyakinkan. Sampai akhirnya ketika Tiffany pergi Jonathan menyadari sesuatu; Pria yang bersamanya bukan Hans managernya tapi seseorang yang juga berasal dari industri hiburan.

__ADS_1


__ADS_2