
Kantin tidak terlalu ramai pagi ini,dikarenakan banyak siswa-siswi SMA Bakti yang sudah sarapan di rumah mereka masing-masing,yang membuat perut mereka masih terasa kenyang sehingga hanya sedikit orang yang berminat ke kantin,itu pun adalah orang-orang yang belum sempat sarapan di rumahnya karena berbagai alasan yang bermacam-macam,itu pun hanya berkunjung sebentar untuk membeli cemilan atau pun minuman,dan kemudian memakan & meminumnya di kelas maupun di taman sekolah.
Tetapi untuk pagi ini terasa unik sekali,karena ada 2 orang siswa yang betah sekali berada di dalam kantin,duduk sambil mengemil di meja pojok,dan tidak ada seorang pun yang berani mendatangi mereka hanya untuk sekedar menyapa atau bahkan mengusik.Ya,karena mereka semua tahu bahwa meja pojok tersebut adalah kepunyaan geng Samudra dan kebetulan meja tersebut sekarang diisi oleh ketua dan wakilnya langsung.
"Gue lanjut ceritanya ya,pokoknya lo dengerin gue sampai selesai" ,ucap Bryan yang dijawab dengan anggukan kecil dari kepala Andre,
"Dan gue pengen lo kasi gue solusi atau jalan keluarnya,paham lo ?" ,lanjutnya mengingatkan kembali sahabatnya satu itu yang terlihat melanjutkan acara ngemil nya, "iya-iya gue paham" ,jawab Andre terpaksa karena ia merasa Bryan telah menggangu acara ngemil nya dengan pernyataan-pernyataan yang berulang-ulang dari Bryan .
"Jadi ndre,gini........." ,ucap Bryan memulai kembali cerita masa lalunya.
\*Flashback
• 10 Tahun yang lalu
'Pletak...Kreeengg...' ,terdengar suara guci mahal yang terjatuh dari atas meja,diikuti oleh suara interupsi teriakan dari seorang perempuan paruh baya yang terlihat sedang meringis kesakitan memegang bahu kanan nya yang tertabrak oleh guci yang jatuh tersebut,
__ADS_1
"Dasar perempuan gak becus,mana peran kamu sebagai ibu ha ? Jangan terlalu sibuk dengan kerjaan kamu itu" ,teriak seorang pria berbadan tegap yang terlihat ngos-ngosan seperti kehabisan nafas,wajar saja ia seperti kehabisan nafas karena ia yang melemparkan guci yang jatuh tadi ke arah perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya sendiri.
"Kamu juga...Mana peranmu sebagai ayah ha ? Mana kamu disaat Bryan butuh sosok ayah ? Kamu juga sama,lebih mentingkan pekerjaan ketimbang anakmu sendiri" ,terdengar teriakan balasan yang diucapkan oleh istrinya,walaupun dengan suara serak karena tadi sempat berteriak dan menangis kesakitan,tetapi teriakannya barusan mampu terdengar di seisi rumah.Perempuan tadi mencoba bangkit dari jatuhnya dengan memegang kuat-kuat ujung dari sebuah kursi yang ada di dekatnya,wajahnya masih terlihat seperti merintih kesakitan akibat peristiwa yang menimpanya barusan.
Rumah mewah yang tadinya rapi dan bersih,seketika telah berubah bak kapal pecah,barang-barang mahal berserakan di atas lantai,sepasang suami istri ini bagaikan dua musuh bebuyutan yang sudah lama tidak berjumpa,tetapi entah kenapa tiba-tiba bisa berjumpa,sorot mata yang tajam dengan raut wajah yang serius menambah kesan amarah mereka yang sedang di ujung tanduk.
Tanpa mereka sadari,di pojok ruang tamu,tepatnya di balik sekat dinding pembatas,terlihat putra semata wayang mereka,putra mereka satu-satunya kini sedang menahan air matanya agar tidak keluar membasahi kedua pipinya.Bryan Nathan,bocah berumur 7 tahun itu mengintip dari sela-sela dinding yang menjadi sekat pembatas,menyaksikan perseteruan kedua orang tua yang sangat disayanginya,dadanya menahan perih melihat kejadian yang ada di depan matanya tersebut,matanya yang menahan tangisan untuk tidak keluar pun akhirnya tidak bisa menahannya lagi,kini matanya sudah mulai memerah,genangan air yang sudah ia tahan mati-matian untuk tidak keluar pun kini mulai muncul,jiwanya sangat tergoncang,tangannya bergetar hebat,terlihat dari gelas kosong bekas susu yang telah diminumnya kini bergetar.
Tanpa ia sadari,gelas yang ia genggam tadi jatuh ke lantai,kacanya pecah berserakan menabrak lantai,beberapa serpihan nya tepat mengenai kaki Bryan,yang menyebabkan ia mengaduh kesakitan, "aww...Bi Asih" ,teriakan dari Bryan barusan menyadarkan seisi rumah,bi Asih berlari tergopoh-gopoh dari dapur menuju ke tempat Bryan yang kini terduduk kesakitan,menahan perih akibat luka dari serpihan kaca yang menancap di kaki nya,begitu juga dengan kedua orang tuanya,mereka berlari juga menuju ke tempat Bryan.
"Bryan,mana yang sakit ?" ,kali ini mamanya yang bertanya sambil melihat pembantunya berusaha mengobati luka di kaki Bryan,
"Bi,bawa aku ke kamar bibi aja ya,aku mau sama bibi dulu,sakit bi" ,rintihnya tanpa memperdulikan kekhawatiran dari kedua orang tuanya dan mengacuhkan setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh keduanya,tak perlu menunggu lama akhirnya bi Asih langsung menggendong Bryan,membawanya pelan-pelan menuju ke kamar miliknya,meninggalkan kedua orang tuanya yang sekarang terlihat murung.
Bryan terkulai lemah setelah diletakkan bi Asih di atas nakas miliknya,ia terlihat tak berdaya sekarang,setelah sempat meminum air hangat yang diberikan oleh pembantunya,kini ia memandang sayu wajah pembantunya itu,wajah yang ia kenali sebagai pengganti ibu nya,wajah tua yang selalu mengurus kehidupannya bak mengurus anak kandungnya sendiri,membuat hati Bryan terenyuh ingin memiliki ibu kandung seperti Bi Asih.Ya benar,Bryan sudah menganggap bi Asih lah sebagai ibu kandungnya,bukan mamanya yang asli.
__ADS_1
Waktu ke waktu terus bergulir begitu saja,kesunyian melanda rumah mewah tersebut setelah kejadian yang menggemparkan menimpa Bryan,tidak ada suara yang tercipta sama sekali,seluruh orang yang berada di rumah tersebut mengunci mulut mereka masing-masing,saling menyibukkan diri mereka sendiri dengan berbagai pekerjaan yang dapat dilakukan.
Begitu juga yang terjadi di dalam kamar bi Asih,bahkan kesunyian nya melebihi ruangan-ruangan lain yang ada di dalam rumah tersebut,hanya ada Bryan dan bi Asih disitu.
Bryan,bocah berusia 7 tahun itu tampak sangat lemah,raut wajahnya menggambarkan kesedihan yang amat mendalam,wajar saja karena tadi ia menyaksikan secara langsung pertengkaran kedua orang tuanya,ditambah lagi dengan rasa sakit yang ia dapat dari serpihan-serpihan kaca yang menempel di kakinya yang mungil,membuat malam itu menjadi malam yang kelam bagi Bryan.
Rasa sakit,kecewa,sedih,dan lelah bercampur menjadi satu sebagai beban hidup bagi Bryan.
Bryan hanya 2 tahun menikmati kebahagiaan yang hakiki bersama kedua orang tuanya,setelah keduanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing,tiba-tiba mereka seakan berubah,ia seperti tidak dipedulikan keberadaannya lagi.
Mulai dari saat itu,ia sering sekali melihat atau mendengar pertengkaran ataupun perselisihan kedua orang tuanya,bahkan kadang sampai adu pukul,membuat Bryan merasa tak kuat lagi hidup di dunia ini,kebahagiaannya sudah sirna begitu saja,pikirannya saat itu hanya ingin mati.
Tetapi karena kebaikan Bi Asih lah membuatnya batal melakukan hal tersebut,kebaikan bibi itu tidak sekedar tugas pembantu kepada majikannya,namun juga sebagai orang tua pengganti untuknya.
Pengalaman pahit tersebut membuatnya tak percaya lagi dengan cinta,ia tak memahami lagi apa itu cinta dan definisinya,ia tak mempedulikan lagi ketulusan dan tujuan adanya cinta.
__ADS_1
Pengalaman pahit tersebut juga yang membuat sifat dinginnya tumbuh,sifat yang ia rasa cocok baginya,sifat yang menggambarkan betapa ia tak mempedulikan apapun lagi,dan sifat yang menurutnya mampu mengobati sedikit rasa keterpurukannya.