Why Must There Be Love ?

Why Must There Be Love ?
Rasa


__ADS_3

Cahaya matahari pagi masih malu-malu timbul dari ufuknya,seakan-akan pria yang malu untuk mengungkapkan rasa kepada wanita yang ia cintai,suara kokokan ayam masih terdengar samar,bak alarm yang setia membangunkan manusia dari tidur nyenyak nya.



Bryan menggeliat dari ranjangnya,menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri,meluruskan tubuhnya yang pegal setelah tidur semalaman.


Ya benar,walaupun sudah istirahat panjang semalaman—mulai dari setelah shalat Isya sampai adzan Shubuh berkumandang,tetapi tubuhnya seperti ditimpa gajah,remuk redam—pegal disana-sini.


Wajar saja,karena healing bersama Zara kemarin membuat tubuhnya lelah,Bryan tidak menyangka bahwa Zara mempermainkannya semalam,yang berawal dari satu permintaan terakhir yang sederhana,nyatanya berubah menjadi cabang-cabang permintaan yang membuat Bryan mau tidak mau harus menurutinya.


Kemarin awalnya Zara hanya meminta untuk menonton film terbaru di bioskop,namun entah kenapa ketika telah selesai menonton ia malah meminta hal-hal lainnya dengan permintaan-permintaan yang bermacam-macam,yang mana membuat Bryan menyetujui semua permintaannya,dan karena itu lah yang menyebabkan tubuh Bryan menjadi sangat capek dan lelah.


Tetapi bagi Bryan hal yang menimpanya tersebut tidak terlalu berarti,karena yang terpenting baginya ialah,kemarin adalah hari terakhir baginya untuk memenuhi seluruh permintaan Zara.


Dan mulai hari ini,ia sudah bebas dari segala hal tentang gadis tersebut.


Bryan langsung bangkit dari ranjangnya,bergegas ke kamar mandi untuk bersih-bersih,lalu mengambil air wudhu kemudian Bryan langsung melaksanakan shalat Shubuh di rumah—rumahnya jauh banget dari masjid.



Pukul 06.00 pagi,Bryan sudah mandi dan telah rapi dengan seragam sekolah yang ia pakai beserta seluruh peralatan-peralatan sekolah yang akan ia bawa untuk belajar,kini ia telah memulai sarapannya dengan 2 buah roti selai coklat yang ditemani oleh segelas susu bervitamin,ia menikmati sarapannya tersebut dalam senyap,ia hanya diam saja menikmati sarapannya sambil melihat para pembantu-pembantu nya yang mondar-mandir sibuk bekerja membereskan pekerjaan rumah tangga di rumah mewahnya.


Sepuluh menit sarapan,akhirnya Bryan telah menyelesaikannya,setelah ia meminum susunya ia langsung bangkit mengambil tas dan jaketnya,beranjak dari meja makan menuju ke dapur utama,mendatangi bi Asih.

__ADS_1


"Bi,Bryan berangkat dulu ya" ,pamit nya kepada bi Asih yang terlihat tengah mencuci piring kotor bekas sarapan tadi,


"Eh cepat banget den...Kamu mau kemana ?" ,tanya bi Asih heran melihat anak majikannya yang terlalu cepat berangkat ke sekolah,


"Mau ke rumah Andre bi...Hmmm, mereka belum bangun ya ? Atau gak pulang ke rumah ?" ,tanya Bryan kembali yang heran menyadari ketidakhadiran orang tuanya saat sarapan tadi,


"Oh itu den,hmm,...Anu,me...Mereka" ,dengan gagap bi Asih tidak mampu menjawab pertanyaan dari Bryan,takut Bryan marah dan berubah menjadi kalap,


"Kenapa bi ? Mereka gak pulang ke rumah ya ? Yaudah aku nanya itu doang kok,bibi gausah takut ya" ,ucap Bryan yang tampak sangat tenang,tidak lagi terpancing emosi nya saat ada sesuatu yang menyangkut tentang kedua orang tuanya.


"Bi...Bryan pamit ya,Assalamualaikum..." ,pamitnya sambil mencium tangan bi Asih dengan sopan,


"Iya den...Waalaikumsalam..." ,jawab bi Asih melepas kepergian anak majikannya tersebut.


Motor sport Bryan melaju cepat di jalanan kota yang tampak masih terlihat sangat lengang,cahaya lampu depannya menyorot lurus ke depan,bak panah yang telah difokuskan arahnya ke tujuan.



Bryan sangat terkejut melihat kehadiran Zara yang tiba-tiba,ia dengan beraninya berdiri di tengah jalan mencoba memberhentikan motor Bryan dengan cara merentangkan kedua tangannya,ia tidak takut semisalnya Bryan tidak sadar dan malah menabraknya,entah bakalan jadi apa nasibnya setelah itu.


"Lo ngapain disitu ha ? Lo mau mati ?" ,teriakan Bryan yang sangat kuat menandakan bahwa ia sangat marah sekarang,marah karena sikap Zara dan karena terkejut dengan aksi bahayanya barusan.


"Eh lo marah yan ?" ,pertanyaan polos Zara membuat Bryan turun dari motornya,dia tidak tahu pertanyaannya tadi bak membangunkan singa yang sedang tertidur,

__ADS_1


"Denger baik-baik ra...Gue marah dengan sikap lo,gue kesal sama pertanyaan lo barusan,dan gue gak suka lo masih ada di hidup gue" ,panjang lebar Bryan jelaskan di harapan Zara,seluruh unek-unek hatinya tentang Zara pun sudah ia lampiaskan dengan baik melalui kata-kata pedas nya yang meluncur deras dari mulutnya.


Bukannya meminta maaf,malahan Zara menangis,air matanya dengan mudah meleleh dan meluncur turun membasahi kedua pipinya,


"Yan,hiks..Hiks,gu..Gue ga bisa dibentak yan,gue takut" ,ucapnya sendu sambil melihat jalanan aspal,tidak berani menatap sorot mata tajam milik Bryan yang sekarang tampak seperti menindas dirinya.


Bryan menarik nafas panjang,mencoba tetap bersabar dengan manusia yang ada di hadapannya sekarang ini


"Yan...Maafin gue" ,ucap Zara sangat tulus,membuat hati siapapun yang mendengarnya pun akan luluh.


Ya,begitu juga Bryan, "huh..Yaudah deh gak apa-apa,udah lah jangan nangis lagi,makin jelek lo kayak gitu" ,ucap Bryan tulus juga,tetapi sambil menoyor dahi Zara pelan,mungkin gemas dengan sifat zara yang sangat mudah berubah.


"Anjir lo,sakit tauk" ,ucap Zara kembali sambil tersenyum kesakitan,mengusap dahinya yang sakit akibat toyoran pelan dari Bryan,hal itu pun sontak membuat Bryan jadi merasa bersalah dan kasihan terhadapnya,


"Eh maaf ra,soalnya gue gemas liat sifat lo" ,jelas Bryan membantu Zara mengusap dahinya.


Deg...Tiba-tiba perasaan aneh muncul begitu saja di hati keduanya.Ya kedua-duanya,Bryan dan Zara.Tetapi dengan cepat mereka halau pikiran aneh tersebut yang menghinggap barusan.


"Yaudah,berangkat bareng gue" ,pinta Bryan kepada Zara,sebagai bentuk permintaan maafnya atas kejadian barusan.


"Eh,beneran ? Makasih Bryan,memang gue tadi halangin lo biar dapat tumpangan...Hehe" ,jelas Zara cengengesan yang membuat mata Bryan sontak melotot terkejut,


"Emang lo ya,ada-ada aja tingkah lo" ,ucap Bryan sambil menghidupkan mesin motornya,langsung saja Zara menaikinya juga.Deru suara motor sport milik Bryan terdengar jelas walaupun bergesekan dengan suara angin pagi, 'duh,niatnya ke rumah Andre malah gajadi...Yaudah deh gapapa,janji ini terakhir' ,ucap Bryan dalam hatinya—masih tetap fokus dengan jalan raya,

__ADS_1


'Waaa...Gue gatau gimana perasaan gue sekarang' ,ucap Zara juga di dalam hatinya.Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing—saling diam selama perjalanan ke sekolah.


Hah...Mereka tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka ini,apakah cinta ? Atau benci ? Tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutannya.


__ADS_2