
Siang hari yang sangat panas,terik matahari menyinari bumi tanpa ada sedikitpun awan yang menghalanginya,cahayanya sudah berbeda dari pagi hari tadi,dari yang hangat menjadi panas.
Tampak sebuah motor sport melaju cepat membelah jalan raya yang lumayan ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang,kecepatan motor tersebut menandakan pemiliknya ingin segera sampai di tempat tujuan.Ya,dialah Bryan,15 menit yang lalu bel pulang sekolah berbunyi,tanpa pergi kemana-mana lagi,Bryan langsung melangkahkan kakinya menuju ke parkiran sepeda motor,setelah mengambilnya ia langsung mengegas motor tersebut cepat,ingin rasanya ia segera sampai di rumah,kepalanya cukup pusing dengan pelajaran kimia tadi.
"Kamu yang sudah buat Bryan ngelawan sama orang tuanya" ,bentak Natasha tepat setelah melemparkan salah satu guci mahal dirumahnya sampai pecah,
"Wah wah...Pinter banget kamu ya,bukankah kamu sebagai ibunya yang harus mengayomi Bryan setiap hari ?" ,tak mau kalah dari Natasha,Andi juga membentak istrinya tersebut dengan jari telunjuknya menunjuk tajam ke arah mata Natasha,sudah lama mereka tidak akur lagi semenjak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing,memang benar semuanya untuk anak mereka,tetapi mereka lupa untuk mengayomi dan membimbing Bryan sebagai orang tua yang baik kepada anaknya.
"Assalamualaikum" ,ucap Bryan tepat setelah membuka pintu utama rumahnya, "waalaikum salam den " ,jawab pembantunya setelah menutup kembali pintu yang dibuka Bryan tadi,
"Bi,mereka ribut lagi ya ?" ,tanya Bryan pelan kepada pembantu yang sudah dianggapnya sebagai ibu tersebut, "hmm...Iya den,kamu yang sabar yaa" ,jawab bibinya dengan raut wajah sedih,wajar saja seperti itu,karena dia selalu menyaksikan pertengkaran dari kedua orang tua Bryan sekaligus psikis Bryan yang agak terganggu dengan hal tersebut, "huft...Yaudah deh,aku ke kamar ya bi" ,ucapnya sambil melangkahkan kaki menaiki anak tangga satu per satu menuju kamarnya.
__ADS_1
Gedebug...Emosi yang sudah ditahan Bryan dari tadi pecah begitu saja setelah melempar barang yang ada di dekatnya ke lantai, "ahh,kenapa hidup gue kayak gini" ,teriaknya sambil menjambak rambut tebalnya sangat kuat,terlihat Bryan sangat terpukul dan frustasi melihat kedua orang tuanya yang selalu bertengkar,hal yang sangat jauh dari apa yang diharapkannya selama ini,orang tua yang perhatian dan penyayang kepada anaknya.
Tuk tuk tuk... "Den,ini makan siangnya bibi bawain,kamu makan yaa,bibi izin masuk boleh ?" ,kata bibi nya yang membawa nampan makanan berisi lunch buat anak majikannya itu,
"Ya bi,gapapa masuk aja" ,jawabnya pelan karena sudah lelah setelah berteriak parau tadi.
"Ini den,kamu makan yaa" ,kata bi Asih setelah meletakkan nampan tadi ke atas meja, "iya bi,bentar lagi kok aku makan" ,jawab Bryan masih pelan,berusaha menenangkan pikiran dan suasana hatinya yang sedang kacau balau,begitu juga dengan bi Asih yang lebih memilih untuk keluar kamar meninggalkan Bryan,memberikannya waktu untuk bisa menenangkan hati dan pikirannya,tak lama setelah bi Asih keluar dari kamarnya,Bryan yang merasa sudah mulai lapar pun langsung memakan lunch nya tadi,ia mulai lapar akibat faktor emosi nya yang pecah barusan.
Namun semuanya berubah cepat,bahkan sangat cepat,dari keharmonisan yang hangat menjadi pertengkaran yang menyeramkan,itu semua dimulai setelah bunda Bryan,Natasha memilih untuk bekerja juga dan tidak menjalankan dengan baik kewajibannya sebagai istri dan ibu di rumah tangganya,dengan alibi dia bekerja untuk menambah nafkah untuk keluarganya,padahal hal tersebut bisa dibilang tidak masuk akal karena keluarga Bryan sudah dianggap keluarga konglomerat.
Hari-hari Bryan berubah menjadi suram,setiap hari pasti dia mendengar orang tuanya bertengkar atau setidaknya ada barang rumahnya yang pecah,awalnya Bryan sangat frustasi dengan apa yang menimpanya tersebut,dan hampir ia memilih untuk bunuh diri,tetapi setelah berpikir panjang akhirnya dia tidak jadi melakukannya,waktu ke waktu terus berjalan,Bryan sudah tidak menganggap lagi pertengkaran tersebut,sudah jadi hal yang biasa saja baginya,semua itu hasil dari kesedihan dan kesabarannya melihat pertengkaran dari dua orang yang sangat di sayang nya dengan status orang tua.
__ADS_1
Sikap cuek dan dingin yang ada di dalam dirinya memang sudah melekat sejak ia lahir,tetapi semakin menjadi semenjak pertengkaran kedua orang tuanya,untungnya Bryan sangat pintar menyembunyikan semua kesedihan yang ia miliki dengan segudang prestasi yang diraihnya di sekolah.Tetapi tetap saja,semua itu baginya tidak terlalu berarti tanpa adanya perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya lagi,hidupnya sangat kesepian dan terasa hampa,tanpa ada yang mengerti perasaan ia sesungguhnya.
Bryan merebahkan badannya di atas king size miliknya setelah selesai memakan lunch nya,ia merasa sangat lelah,badannya terasa seperti remuk redam bak tertimpa oleh tronton besar,begitu ia merebahkan badannya di atas nakas miliknya,langsung saja rasa nyaman mulai meliputinya,semua beban yang sedang ia tanggung terasa seperti menguap dari tubuhnya bak asap yang terbang tinggi ke atas langit dan menguap menghilang begitu saja tertiup oleh angin.
Bryan masih mencoba menenangkan hati dan pikirannya walaupun tidak sekacau balau seperti tadi,kedua telapak tangannya ia tangkupkan di atas dahinya,matanya lurus ke atas atap-atap kamar,sorot matanya sangat tajam menatap apa saja yang ada di atas kepalanya,bayang-bayang kehidupan yang ia jalani hari ini melintas satu per satu di pikirannya,terutama tentang Zara dan kedua orang tuanya.
Waktu pun terus bergulir begitu saja,diikuti oleh Bryan yang sudah mulai menutup matanya,mulai terlelap dalam tidurnya,setelah ia mungkin merasa lelah dengan apa yang sudah terjadi di dalam kehidupannya selama ini.
__ADS_1