
Hari Minggu di Puncak, pagi hari yang indah dengan udaranya yang sangat sejuk, ditemani oleh embun-embun yang berada di atas daun-daun yang rimbun, menambah kesan pagi hari yang asri oleh lingkungan sekitarnya, dan juga matahari yang masih terlihat seperti malu-malu untuk menampakkan wujudnya di langit, tetapi seiring waktu berjalan, sinar mentari pagi pun perlahan mulai muncul, menyelimuti alam sekitar dengan sinarnya yang terang, sekaligus memberikan kehangatan yang ia miliki kepada apa saja yang ada di bumi.
Sebagian besar tenda-tenda para anggota geng Samudra dan anak ceweknya masih tertutup rapat, pertanda belum ada dari mereka yang bangun dari tidurnya dan bersedia untuk keluar dari tenda, menghirup udara pagi yang segar di Puncak.
Bryan, sang ketua geng terlihat berjalan meninggalkan tendanya, beranjak menuju ke lokasi sisa-sisa api unggun semalam, sambil membawa ceret, gelas, sendok, dan beberapa bungkus gula dan teh.
Setelah sampai ia langsung duduk menjeplakkan bokongnya tepat dibawah sebuah kardus bekas sebagai alas duduknya, setelah itu langsung saja ia mengambil beberapa potong kayu bakar yang terlihat masih bagus di sekitar tempat ia tengah duduk, lalu ia menumpukkan semuanya menjadi satu agar tidak berserakan, membentuk sebuah bukit, bukit kayu bakar.
Kembali ke tenda, tepatnya di kawasan tenda anak perempuan, Zara melangkah keluar dari tendanya, tubuhnya ia regang-regangkan seperti tengah senam begitu ia menjejakkan kakinya di rumput-rumput perkemahan, selain itu ia juga agak menggigil, tampak dari giginya yang bergemelatuk dan dari bulu-bulu romanya yang berdiri, wajar saja jika ia begitu, karena memang udara pagi di Puncak selain sejuk, tetapi juga sangat dingin.
Ia melangkahkan kakinya kembali setelah selesai meregangkan otot-otot pada tubuhnya, beranjak meninggalkan tenda menuju ke arah lapangan besar perkemahan sembari tangannya yang memeluk tubuhnya sendiri karna kedinginan, dan mencoba untuk menyalurkan energi hangat kepada tubuhnya sendiri di tengah-tengah terpaan angin pagi yang sejuk lagi dingin.
Sudut mata Zara tiba-tiba melihat siluet seseorang yang tengah duduk di dekat api unggun, Zara yang melihatnya pun sontak terheran-heran, ia heran karena 'siapa sih yang pagi-pagi dingin begini udah duduk-duduk aja, sendirian lagi'.
Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk mendatangi orang tersebut, membelokkan arah perjalanannya yang sebenarnya menuju ke area lapangan besar perkemahan, menuju ke lokasi orang yang tengah duduk tersebut.
Tak berselang lama, akhirnya ia sampai juga di dekat lokasi orang tersebut, yang ternyata adalah seorang cowok, tetapi karena rasa penasarannya Zara yang begitu tinggi, ia jadi ingin tahu lebih, siapa orang tersebut dan apa yang sedang dia lakukan pagi-pagi begini.
__ADS_1
Langsung saja ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan mendekati si pria yang ternyata tengah menyeduh air panas, membuat secangkir teh manis hangat, cocok diminum untuk cuaca pagi begini dengan udaranya yang masih dingin.
Tiba-tiba Bryan seperti mendengar suara jejak kaki seseorang, ia mendengarnya secara samar-samar dari bunyi ranting-ranting kayu yang patah diinjak oleh seseorang yang mendekat ke arahnya tersebut, merasa ada seseorang yang mendekatinya, kini ia memutar arah kepalanya menuju ke belakang, mencoba mencari tahu siapa orang tersebut.
Jleb.....Dua pandangan mata tiba-tiba bertemu secara tidak sengaja, tatapan mata Bryan yang tampak terkejut dan tatapan matanya Zara yang terlihat heran, kedua tatapan tersebut bertemu tepat sepersekian detik sebelum akhirnya mereka berdua pun sadar dan langsung membuang tatapan mereka ke sembarang tempat, mereka takut diri mereka akan salting karena tatapan barusan.
"L..Lo ngapain disini yan ?" , tanya Zara spontan setelah ia mengembalikan tatapannya kepada Bryan, "eh, justru gue yang nanya ke elo, ngapain lo kesini ?" , bukannya menjawab pertanyaan dari Zara, Bryan malah menanyakannya kembali,
"ya gue kesini karena penasaran, gue kira siapa tadi orang yang duduk-duduk sendirian pagi-pagi begini, eh rupanya elo" , jawabnya panjang lebar sembari duduk tepat di samping Bryan,
"eh ngapain lo duduk ?" , tanyanya kembali setelah heran melihat Zara yang secara tiba-tiba telah duduk tepat di sampingnya,
Bryan yang melihat tingkahnya tersebut pun hanya diam sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, ia merasa heran dengan tingkah aneh bin konyol nya Zara, "eh yan...Lo ngapain geleng-geleng kepala ? Sakit lo iya ? Hahaha", Zara bertanya kepada Bryan sembari tertawa karena juga merasa aneh dengan tingkahnya Bryan,
"enak aja lo ketawain gue ya, ntar lo tuh kena karma jadi lo yang sakit, hahaha", ucapan dari Bryan barusan menjadi balasan darinya kepada Zara, ditambah lagi dengan interupsi tertawanya yang membuat wajah Zara berubah menjadi agak manyun,
"ish...Lo tuh ya jelek banget doanya" ,ucap Zara kesal sambil mencubit kecil lengannya Bryan, yang mana perbuatannya tersebut sontak membuat Bryan mengaduh kesakitan dan berupaya untuk meredam rasa sakitnya dengan mengelus dan meniup-niup secara perlahan di bekas cubitan tersebut.
__ADS_1
"Aduh...Sakit ra", ucap Bryan yang dibalas Zara dengan juluran lidahnya, bak tengah mengejek Bryan yang sedang kesakitan akibat cubitan barusan yang bisa dibilang sangat sakit,
"biarin, makanya lo jangan gitu tadi", ucap Zara yang kini membantu Bryan menyembuhkan rasa sakit akibat cubitan tadi, yaitu dengan memijat-mijat lengannya Bryan,
"yaudah iya maaf", ucap Bryan yang memilih untuk mengalah daripada kembali berdebat dengan Zara, daripada energinya habis untuk berdebat hal yang tidak penting di pagi hari begini, lebih baik baginya untuk mengalah saja. Toh, cowok kan memang biasanya selalu ngalah dari cewek.
"Lo mau ra ?" ,tawar Bryan sembari menunjukkan jari telunjuknya ke arah segelas teh manis hangat,
"ehm...Emang boleh ?" , tanya Zara yang sedikit agak kaget atas tawaran tak biasa dari Bryan,
"ya boleh lah, itung-itung ucapan terima kasih gue ke elo karena mau pijitin gue, selain itu yaa biar lo jadi teman gue disini, bosen juga sendiri dari tadi" ,
ucap Bryan panjang lebar kepada Zara,
"jadi gimana ? Lo mau ?" , tanyanya kembali kepada Zara yang dijawab dengan senyuman manis dan anggukan kepala darinya pertanda ia menerima tawarannya Bryan.
"Hmm...Yaudah, lo bantuin gue yaa buatnya lagi", ucap Bryan sembari membalas senyumannya Zara,
__ADS_1
"okee yan" , jawabnya dengan mengacungkan kedua ibu jarinya, tak lupa pula dengan senyuman manisnya.
Hari Minggu pagi di Puncak, dengan suasana nya yang asri dan udara nya yang dingin namun sejuk, di sekitaran api unggun, terlihat Bryan dan Zara saling membantu membuat teh manis hangat, ditambah dengan raut bahagia dari keduanya, yang mana tampak dari senyuman indah yang terukir jelas di sudut bibir keduanya, bak pangeran tampan dengan putri cantiknya yang tengah bersama-sama.