
*Seminggu kemudian
Hari Sabtu.Pagi ini udara masih terasa sejuk akibat sisa-sisa hujan deras yang mengguyur kota Jakarta malam tadi,air embun pun tampak menempel pada daun-daun yang ada,menetes satu per satu ke bawah mencoba untuk membasahi tanah kembali,apalagi embun yang menempel di jendela-jendela rumah,pemandangan yang bisa didapatkan dari jendela rumah pun kini terhalang oleh banyaknya embun yang menempel disana,sehingga membuat orang-orang bertambah pekerjaannya,yaitu membersihkan kaca dari embun yang ada.
Sinar mentari mulai menyebarluaskan kehangatannya di berbagai penjuru bumi,dari yang awalnya malu-malu menampakkan sinarnya kini ia lah yang paling berani bertengger di langit menyebarluaskan kehangatan dari sinarnya untuk dinikmati oleh seluruh makhluk yang ada di bumi ini.
Pukul 07.00 pagi,Zara bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya,setelah sempat sarapan sebentar bersama bi Siti,ia langsung bergegas menuju ke bagasi rumah untuk mengambil motor matic nya.Namun alangkah terkejutnya,ia tidak menemukan keberadaan motornya tersebut,jantungnya bak copot saking terkejutnya,raut wajahnya menggambarkan kekhawatiran yang sangat besar akan kehilangan tersebut,khawatir jika motornya dicuri oleh maling dan maling tersebut masih berkeliaran di lingkungan sekitar rumahnya.
"Pak Bandi,sini pak" ,panggil Zara sedikit berteriak sambil melihat ke arah pos satpam,pak Bandi selaku satpam rumahnya pun segera beranjak dari pos jaganya menuju ke bagasi tempat Zara telah menunggu.Zara terlihat sangat panik atas kejadian yang menimpanya ini,sehingga membuat pak Bandi khawatir jika terjadi sesuatu pada diri anak majikannya tersebut.
"Non Zara,ada masalah apa ?" ,tanyanya langsung ketika baru saja sampai di bagasi rumah,
"Pak,motor Zara kenapa ga ada di bagasi sih ? Ada maling ya pak ?" ,tanya Zara kembali tanpa menjawab pertanyaan dari satpam rumahnya tersebut,
"Lah,kok bisa hilang non ? Kapan hilangnya ?" ,kembali lagi pertanyaan terulang tanpa menjawab terlebih dahulu pertanyaan dari lawan bicaranya,kini pertanyaan tersebut dilontarkan oleh pak Bandi,
"Pagi ini pak hilangnya,tadi malam masih ada loh disini" ,jawab Zara terburu-buru dengan intonasi suara yang terkesan khawatir,
"Semalam ada maling ya pak masuk ke rumah ?" ,tanya Zara yang dibalas dengan raut wajah heran dari pak Bandi,
__ADS_1
"Ga ada maling di kompleks perumahan ini non,saya jaga semalaman penuh,ga ada yang mencurigakan" ,ucap pak Bandi dengan intonasi suara yang jelas,yang mengartikan bahwasanya ia memang benar-benar menjalankan tugasnya secara profesional, "aduh,gimana ini yaa" ,ucap Zara masih dengan nada bicaranya yang khawatir,
"Nanti saya periksa semua CCTV rumah non,dan saya akan keliling kompleks dan bertanya ke semua tetangga" ,jelas pak Bandi mengucapkan janjinya kepada Zara,
"Iya deh pak,saya tunggu kabarnya ya" ,ucap Zara menyetujui usulan dari satpamnya tersebut,
"Baik non,saya janji" ,balasnya yang membuat raut wajah khawatirnya Zara perlahan mulai memudar,
"Makasih ya pak" ,balasnya sambil tersenyum tipis, "Sama-sama non" ,jawab pak Bandi singkat,
"Kalau gitu,tolong panggilkan pak Adi dong pak,anterin saya ke sekolah" ,pinta Zara yang langsung disetujui oleh pak Bandi.
Langsung saja ia bergegas menuju ke pos jaga untuk memanggil temannya yang memang memiliki tugas sebagai sopir pribadi keluarga,Pak Adi.
"Di,non Zara minta tolong ke kamu untuk anterin dia ke sekolah" ,ucapnya langsung setelah menepuk pelan bahu pak Adi agar fokusnya berpindah dari handphone kepadanya,
Setelah melihat posisinya Zara,pak Adi langsung bergegas menuju ke bagasi dan langsung memanasi mobil keluarga majikannya,Zara yang menyadari mobil keluarganya sedang dipanasi pun langsung beranjak menaiki mobil tersebut,duduk di kursi belakang sambil meletakkan kepalanya di senderan kursi,kepalanya pening memikirkan nasib motornya yang hilang,pak Adi yang menyadari hal tersebut dari kaca depan pun langsung berusaha menghibur Zara,
"Non,nanti saya juga bantu pak Bandi buat nyari motornya non Zara,non yang tenang yaa" ,ucapnya sambil menolehkan kepalanya ke arah Zara,
"Hmm...Iya pak,makasih yaa pak" ,ucap Zara dengan sorot mata yang lemas,yang dijawab dengan anggukan kecil dari pak Adi,
"Sama-sama non".
Mobil perlahan mulai bergerak meninggalkan rumah untuk pergi menuju ke sekolahnya Zara,kesibukan sudah mulai tampak dengan berbagai macam kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan kota Jakarta,hiruk-pikuk kehidupan di Jakarta mulai tumbuh kembali seiring matahari yang mulai meninggi.
__ADS_1
Begitu juga dengan Zara,gadis 17 tahun itu juga akan memulai kehidupannya kembali sebagai pelajar kelas 12 SMA Bakti.Namun bedanya,ia tidak seperti biasanya yang mana hari-harinya selalu saja ceria,kali ini ia datang dengan wajah terlipat karena murung,sedih memikirkan nasib motornya yang telah hilang pagi ini.Entah siapa yang telah mencurinya dan menyebabkan diri Zara berubah, tak seperti biasanya.
Setelah turun dari mobil,ia langsung memasuki area sekolah,ia melewati taman,musholla,lapangan utama dan lapangan basket dengan wajah yang tertekuk,sepanjang perjalanan menuju ke kelasnya ia selalu menundukkan kepalanya,mungkin hari ini adalah hari yang sangat buruk bagi dirinya.
Amel dan Siska menyambut kedatangan Zara yang baru saja memasuki kelas nya,wajar saja karena Zara datang ke sekolah dengan waktu yang bisa dibilang hampir terlambat,ditambah dengan raut wajah Zara yang menggambarkan kesedihan,tidak seperti biasanya dimana ia selalu datang tepat waktu dan dengan wajah yang selalu ceria setiap saat.
"Eh ra...Lo kenapa ?" ,tanya Amel sembari memegang lembut tangan Zara,yang ditanya pun akhirnya mengangkat kepalanya secara perlahan,
"Motor gue hilang mel,sis" ,ucap Zara lemah dengan raut wajah yang sangat jelas menggambarkan kesedihan,sontak kedua sahabatnya itu pun terkejut setelah mendengarkan kabar musibah yang tengah menimpa diri Zara,
"Gimana ceritanya ? Kok bisa hilang ?" ,tanya Siska setelah mereka bertiga duduk di bangku paling belakang,
"Gue juga gatau,yang penting pas gue mau berangkat tadi,motor gue udah ga ada,padahal seingat gue tadi malam masih ada,bahkan gue parkir motornya di pojok bagasi lagi" ,jelas Zara panjang lebar kepada kedua sahabatnya tersebut,
"Lo yang sabar yaa ra...Kami berdua janji deh bantuin lo nyarinya nanti" ,ucap Amel mengutarakan janjinya kepada Zara,yang disetujui oleh Siska dengan isyarat anggukan kepala darinya,
"Udah lo jangan sedih lagi yaa...Hilang tuh cantiknya nanti" ,ucap Amel mencoba menyemangati diri Zara,
"Iya ra senyum dong,ntar Bryan gajadi suka sama lo gimana ?" ,ucap Siska kali ini ditambah dengan godaan darinya,dan uniknya godaan tersebut berhasil membuat diri Zara akhirnya bisa tersenyum walaupun masih samar,
__ADS_1
"Eh mulut lo tuh ya" ,ucap Zara kesal yang dijawab dengan kekehan dari kedua sahabat nya tersebut.Tetapi walaupun kesal ketika mengucapkannya,sebenarnya ia sangat senang dan membuat hatinya berdebar-debar setelah mendengar nama Bryan,apakah Bryan seperti itu juga ?