
Suasana rumah mewah milik keluarga Zara tampak seperti biasanya,sepi.Hanya ada beberapa pembantu yang terlihat tengah membersihkan rumah dan 2 satpam yang menjaga di pos jaga gerbang.Rumah 3 lantai ini bak istana yang ada di Eropa,karena desainnya yang langsung dibuat oleh salah satu arsitek terkenal dari Italia.Tetapi kesan kemewahan dan desainnya yang menakjubkan hanyalah angin kosong bila dibandingkan dengan suasana yang ada di dalam rumah tersebut,sepi tanpa ada suara yang berarti,kesunyian merambat di seluruh penjuru rumah.
Mereka bertiga langsung memasuki rumah,30 menit perjalanan lumayan membuat badan mereka terasa lelah,ingin cepat-cepat meluruskan badan di queen size mahal dan empuk milik Zara.Setelah mereka memasuki kamar Zara,tanpa merasa malu Amel langsung bertingkah seperti ia lah yang punya rumah,lari dan melompat ke atas queen size Zara,dan meluruskan badannya yang terasa lelah. "Buset lo,gue yang tuan rumah,lo yang tidur duluan" ,ucap Zara heran melihat tingkah sahabat nya satu ini,disusul dengan gelak tawa dari Siska,
"Heh...Kenapa lo ketawa ?" ,tanya Amel juga heran melihat perubahan sikap dari Siska yang tadinya datar saja selama perjalanan kini tertawa,
"Eh mel,lo tuu yaa dimana-mana,gatau malu " ,ucap Siska menjelaskan penyebab ia tertawa yang ternyata adalah karena tingkahnya Amel, "stttt..." ,suara dari Amel keluar bersamaan dengan tangannya yang mengisyaratkan untuk diam.
Setelah percakapan sementara tadi,kini mereka bertiga duduk di sofa kamar,di depan mereka tersajikan jajan-jajanan pinggir jalan yang mereka beli tadi,jumlah yang sangat banyak ini memang sengaja mereka beli dengan alasan sebagai cadangan makanan jika mereka kelaparan saat begadang nanti.
"Guys....Gue mulai curhat yaa" ,kata Zara memulai percakapan di antara mereka setelah beberapa saat tadi hanya terdiam menikmati cemilan,
"Oh oke ra,lo mulai aja,kami dengerin kok" ,ucap Amel sebagai isyarat memberikan izin kepada sahabatnya tersebut untuk memulai sesi ceritanya,
"Entar kasi gue jalan keluarnya ya" ,ucapnya kembali yang kini direspon Siska dengan anggukan kepala,sebagai isyarat menyetujui permintaan dari Zara.
"Jadi,gini guys..." ,Zara memulai ceritanya.
__ADS_1
\*Flashback
• 11 tahun yang lalu
Suasana rumah pagi ini tetap seperti suasana pada hari-hari biasanya,sepi.Pagi hari yang seharusnya menjadi awal kegiatan dengan keramaian yang sudah mulai terlihat,malah seperti tengah malam dengan tanpa adanya suara,hanya ada keheningan saja yang menyelimuti suasana rumah ini.
Zara,gadis kecil berusia 6 tahun ini tampak lesu seperti biasanya,menuruni anak tangga satu persatu dengan lemas,melihat ke bawah seperti biasanya,dan hanya mendapati beberapa pembantu rumah seperti biasanya juga. "Non,ayo sini makan,bibi suapin" ,terdengar suara panggilan dari bawah yang ternyata berasal dari Bi Siti,pengasuh utama Zara.
"Hmm....Iya bi" ,jawabnya lesu sambil beranjak dari tangga menuju ke meja makan tempat Bi Siti telah menunggunya.
Hanya 7 menit berselang,akhirnya sarapan Zara selesai, "Zara,kamu kenapa ? Bilang dong ke bibi,mana tau bibi bisa bantu" ,ucap Bi Siti membujuknya setelah melihat Zara selesai meminum air yang ada di hadapannya itu, "Beneran gapapa bi ? Bibi emang tahu solusinya ?" ,tanyanya kembali kepada bibi yang selalu megurusnya itu,
"Iya sayang,makanya kamu cerita dulu yaa" ,jawabnya tersenyum lebar sembari mengelus lembut rambut hitam milik Zara,
"Zara kangen papa dan mama bi,pengen ketemu sama mereka sekaliiii aja" ,ucapan yang keluar dari mulut Zara barusan disertai dengan tetesan air mata dari keduanya berhasil membuat hati Bi Siti seperti tertabrak sesuatu,ia seperti ikut juga merasakan kepedihan yang Zara simpan selama ini,Zara yang ia ajari untuk menjadi perempuan yang kuat kini seakan-akan ajarannya sirna ditelan waktu,Zara tidak kuat lagi membendung perasaan sedihnya yang telah lama ia tahan,perasaan sedih yang bisa dibilang sudah terlalu menumpuk di dalam hati kecilnya.
Bi Siti bingung harus melakukan apa sebagai solusinya.Ketika ia ingin mengatakan perasaan rindu Zara kepada majikannya,kedua majikannya tersebut telah pergi seperti orang yang terburu-buru menuju ke kantornya masing-masing,hal yang pasti bakalan terjadi setiap harinya.Begitu juga di malam hari,ketika majikannya pulang kerja,ia kira disitulah waktu yang tepat untuk mengatakannya,tetapi tetap tidak jadi karena kedua majikan nya tersebut langsung memasuki kamar mereka. Sama seperti pagi hari,hal yang bakal terjadi setiap harinya.
__ADS_1
"Kamu yang sabar yaa,papa sama mama itu sebenarnya sayang banget sama kamu,tapi mereka juga harus pergi kerja buat nafkahin kamu ra,kasi jajan dan mainan buat kamu,dan juga supaya kamu bisa sekolah sayang" ,ucapnya panjang lebar kepada Zara,mencoba menenangkan hati Zara yang terlihat sedang kacau.
"Bi...Papa sama mama bisa gak sayang sama Zara kayak sayangnya bibi ke aku ?" ,tanyanya pelan setelah menghapus air mata nya yang kembali menetes membasahi kedua pipinya.
"Pasti bisa kok sayang,kamu percaya yaa sama bibi,kamu tetap jadi perempuan yang kuat oke" ,jawabnya meyakinkan anak tunggal majikannya tersebut,sembari tetap memberikan senyuman penyemangat kepada Zara agar tetap menjadi perempuan yang kuat seperti yang telah diajarkannya. "Oke bi" ,ucap Zara percaya diri sambil mengacungkan jempol kanannya,perlahan senyuman keyakinan juga mulai muncul kembali di sudut bibir Zara.
Setelah sarapannya selesai,Zara meminum air putih dan langsung beranjak meninggalkan dapur utama rumah menuju ke kamarnya,ia langsung menuju ke istana boneka miliknya yang tepat berada di pojok kanan kamarnya.
Gadis berusia 6 tahun tersebut mulai memainkan berbagai macam boneka-bonekanya.Mulai dari barbie,teddy bear,pegasus,hingga karakter boneka lainnya.Zara hanya bermain sendirian di kamarnya,namun apa yang ia lakukan sekarang menurutnya adalah hal yang sangat menyenangkan.
Sedangkan kejadian lain sedang berlangsung di dapur rumahnya,orang tua Zara keluar dari kamar mereka secara bersamaan dengan sudah berpakaian rapi persiapan sebelum ke kantor mereka masing-masing,bi Siti yang melihat kedua majikannya tersebut dari dapur pun mulai beranjak untuk mendatangi keduanya yang sekarang telah duduk di meja makan untuk sarapan,mulai mengolesi selai di roti tawar mereka.
"Pak,buk...Saya mau ngomong sebentar" ,ucap bi Siti sedikit menundukkan kepalanya sebagai pertanda hormat kepada majikannya, "mau ngomong apaan bi ?" ,tanya Rani mamanya Zara sambil tetap mengolesi selai pada rotinya,
"Hmmm...Saya mau ngomong tentang Zara pak,buk" ,ucap bi Siti semakin menundukkan kepalanya lebih dalam,entah mengapa tiba-tiba ada jeda waktu yang terjadi setelah bi Siti berbicara tadi.
Lima menit tanpa adanya balasan dari kedua orang tua Zara,keduanya tampak sibuk sarapan dengan roti mereka masing-masing dan sama sekali tidak memperdulikan ucapan dari bi Siti barusan,membuat bi Siti akhirnya paham bahwa keduanya tidak ingin membicarakan tentang anak mereka,langsung saja bi Siti pamit meninggalkan kedua majikan nya tersebut,beranjak kembali menuju ke dapur utama.Tak lama setelah bi Siti kembali ke dapur,kedua orang tua Zara juga langsung pergi meninggalkan rumah mereka setelah menyelesaikan sarapannya.
Bi Siti yang melihat kejadian tersebut pun hanya bisa menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan,bingung harus melakukan apa lagi kepada kedua majikannya tersebut demi Zara,gadis berusia 6 tahun yang butuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
Kekuatan yang ada di hati Zara memang sangat membekas di dalam dirinya,namun tetap saja ada satu celah kosong yang menjadikan perasaan kesepiannya bisa saja makin membesar sesuai dengan waktu yang berjalan.Perasaan tersebut membuatnya jadi ingin merasakan kasih sayang dan cinta dari seseorang,agar ia dapat merasakan kehangatan yang ada di dalamnya walaupun hanya sekali selama hidupnya.Wajar saja,jika ia berani mengungkapkan perasaannya tersebut langsung kepada cowok yang ia sukai.Dan kini,ia sudah mulai merasa bahwa cowok tersebut juga akan membalas cinta dan kasih sayang yang hangat kepadanya.