
Eps 17~
Hai para readers....tetap semangat ya🤭
dan tunggu terus kelanjutan dari Left Time✌
***
" Hey! Tunggu aku! " Renata yang mulai tertinggal kini berlari mengikuti langkah kaki lenjang milik Lucas.
Dasar pria sialan !!!
***
Author Pov~
Setelah berlari dengan cukup kencang, akhirnya Renata dapat menyamai langkah kaki Lucas. Tanpa Renata sadari, Lucas melambatkan langkah kakinya disaat Renata belum menyusulnya, dengan maksud agar Renata dapat menyamai langkahnya.
Begitu masuk lobby hotel, Renata dan Lucas telah disuguhkan pemandangan design interior yang begitu menawan dengan nuansa eropa yang sebagian besar berwarna krem, lengkap dengan segala fasilitasnya.
Tanpa memperhatikan kemewahan hotel ini, Lucas langsung menuju meja resepsionis untuk chek in di satu kamar hotel ini. Chek in untuk Renata tentunya.
Selagi Lucas mengurus masalah chek in Renata, Renata hanya bersembunyi di balik punggung Lucas sambil mengamati sekitar. Ia takut jika orang lain beranggapan bahwa mereka akan menghabiskan malam berdua di hotel ini.
Setelah selesai, Lucas langsung berbalik dan tidak sengaja menabrak Renata yang sedang bersembunyi di belakangnya.
Brug..
" Aww...sakit " Ujar Renata sambil memegang hidungnya yang sakit akibat tertabrak badan Lucas.
" Ck, kenapa kau berdiri tepat di belakang ku sih?! " Oceh Lucas.
Dengan seketika, Lucas langsung menarik tangan Renata dan menjauhi meja resepsionis itu.
" Hei, pelan-pelan...Kau mau mengajakku ke mana sih? " Tanya Renata yang sedang menyesuaikan diri karena ditarik oleh Lucas.
" Kemana? Tentu saja kekamarmu bodoh! Kau pikir aku akan mengajakmu kemana hah? " Jawab Lucas.
" Yah, benar juga sih. "
__ADS_1
disisi lain, para pegawai di resepsionis tengah membicarakan tentang mereka. Pasalnya, Lucas dikenal sebagai atasan yang kurang suka dekat dengan wanita. Tetapi, untuk pertama kalinya dalam sejarah. Bos mereka membawa seorang wanita ke hotelnya sendiri dan bahkan memesan kamar. Berita ini kemudian menyebar di kalangan pegawai Lucas dan sampai ke telinga ibunya.
Sementara itu,
Ibu Lucas baru saja menerima kabar dari salah seorang pegawai Lucas.
" Ck..ck..ck..Anak bocahku sekarang sudah besar rupanya. Aku sungguh-sungguh terharu mendengarnya. Kemarin saja, dia menolak mentah-mentah karena Renata sudah memiliki suami. Taunya, dia malah berjuang mendapatkannya." Gerutu Nyonya Liston.
" Wah...selamat ya, Lilian. Nampaknya, kediaman Liston bakalan dapet menantu dan cucu baru nih." Gurau salah satu teman Nyonya Liston.
" Ah, kamu bisa aja Tiana...Terus, keadaan anakmu gimana? Katanya Kevin udah nikah, kapan nih mau kenalin menantumu ke kita? " Sahut Nyonya Liston.
" Ck, kau tau sendiri kan bagaimana anakku itu? Dia emang nggak deket sama aku. Padahal, aku juga kepingin ketemuan sama menantuku. Tapi, cuma neneknya aja yang dikasih tau."
" Sama sekali nggak ada perubahan dari dulu sampe sekarang. Dia masih aja tertutup sama aku dan papanya. Bahkan, dia nggak akan berkunjung kalau nggak ada acara penting di rumah. Yah, ini bukan sepenuhnya salah Kevin sih...Aku jadi menyesal karena dulu terlalu sibuk, sampai-sampai aku melupakan Kevin yang masih perlu kasih sayangku." Jelasnya lagi.
" Udahlah, Tiana....Lebih baik kau coba mendekatinya lagi. Aku yakin hatinya akan luluh perlahan-lahan." Ujar Nyonya Liston berusaha menenangkan Nyonya Tiana.
" Iya, aku harap juga begitu."
Balik ke Renata and Lucas
Karena mereka sudah sampai di tempat tujuan, Lucas langsung memberikan Renata kunci kamarnya dan bergegas pergi.
" Eh, Lucas.Tunggu !!! " Renata menahan Lucas karena baru mengingat hal penting yang harus disampaikannya.
" Ck, jangan menyentuhku ! Ada apa lagi sih ? " Tegas Lucas sambil menepis tangan Renata yang menahannya. Ia tidak mengerti mengapa emosinya jadi memuncak begitu Renata menyentuhnya. Bayangan mengenai wanita yang merupakan ibu dari Ruth tiba-tiba muncul di pikirannya.
" Ih, biasa aja dong ! Tanganku jadi sakit tau ! " Ujar Renata dan memasang wajah cemberut pada Lucas.
" Aku cuma mau bilang TOLONG SIAPIN SATU DRIVER BUAT NGANTER AKU KE RUMAHMU BESOK ! Aku mau ketemu sama Ruth karena udah ada janji mau jalan-jalan sama dia besok." Ujar Renata dengan kesal. Padahal, ia sedang berbohong bahwa ia sudah berjanji pada Ruth. Renata hanya kangen pada anaknya itu dan ingin mengajaknya jalan-jalan.
" Berani sekali kau memerintahku? Kau pikir kau itu siapa ha!? " Balas Lucas dengan nada emosinya.
Renatapun tersentak karena ucapan Lucas yang penuh dengan emosi. Ternyata, dirinya telah membuat Lucas marah besar akibat tingkahnya.
" Baiklah, aku akan memesan taksi saja besok. Maafkan aku ya..." Ujar Renata dengan perlahan menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.
Mendengar perkataan Renata, membuat rasa bersalah terbesit di benak Lucas. Tidak seharusnya ia seemosi itu dan membentak Renata. Bahkan, Renata rela meminta maaf duluan atas kesalahan yang bahkan bukan karena ulahnya. Ini semua karena wanita itu, ia membuat hidup Lucas menderita dan meninggalkannya tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun. Bahkan untuk anaknya yang masih sangat kecil.
__ADS_1
Tanpa berkata apa-apa lagi, Lucas langsung berbalik dan pergi meninggalkan Renata. Ia takut jika ia diam disana lebih lama, Renata akan semakin terluka akibat ulah dan perkataanya. Jadi, ia berpikir lebih baik jika menemui Renata disaat dirinya lebih tenang dan tidak dikuasai emosi, seperti saat ini.
***
Lucas Pov~
Aku langsung pergi dengan tergesa-gesa dari hotel itu. Masa bodoh dengan para pegawai yang menyapaku dan mereka yang membicarakanku diam-diam. Aku sangat memerlukan space untuk diriku sendiri saat ini.
Begitu sampai di mobil, aku terdiam dan merenungkan perbuatanku.
*Sudah lama sekali aku tidak seperti ini. Begitu banyak amarah, rasa benci, dan rasa sakit yang kurasakan. Ketika Renata memegang tanganku, aku merasakan ada seseorang yang menyalurkan kehangatan. Kehangatan yang begitu menenangkan, begitu kurindukan, dan begitu kutakuti. Kehangatan yang sangat mudah hilang, jika ia melepas tangan ku sedetik saja.
Sudah cukup aku merasakannya sekali. Dan sekarang, semua rasa itu tak ingin aku rasakan lagi. Aku selalu menepis semua kehangatan, karena sehabis kehangatan, hanya dingin yang akan aku rasakan*.
" Huft..perasaanku tidak tenang sekali dan dadaku menjadi sesak. Lebih baik aku pulang dan menemui Ruth ku."
Pada akhirnya, aku hanya bisa membawa pulang perasaanku yang tidak tenang ini dan merenunginya. Aku memang laki-laki lemah.
Kediaman Liston*
Cklek....
Aku membuka pintu kamarku. Disana, aku melihat malaikatku sedang tertidur. Ruth malang, yang harus merasakan hidup tanpa ibu.
Wajah yang menggemaskan, sama seperti orang itu. Hingga tanpa sadar, aku terhipnotis dan berjalan mendekatinya.
" Hanya dirimulah yang mengerti perasaanku. Oleh karena itu, aku bisa bertahan sampai saat ini. Berkatmu, aku tidak merasa menderita sendiri karena ulah wanita itu. Kau juga tersakiti olehnya kan nak? Tapi ingatlah, ada ayah yang akan membuatmu bahagia." Pada akhir kalimat, aku mengelus rambutnya yang begitu halus.
Cup...
" Mimpi yang indah ya....."
BERSAMBUNG....
Yah, kok ceritanya jadi galau-galau sedih gini sih??😅
Mungkin karena pengaruh nulis cerita sambil dengerin lagu galau kali ya??🤣🤣
Tenang aja, kedepannya kita skip yang sedih sedih gini. Author mau cerita yang bahagia aja atuh, biar tambah halu 🙄✌
__ADS_1