Wonderful Left Time

Wonderful Left Time
Kevin mesum?


__ADS_3

Eps 23~


Hai para readers....tetap semangat ya🤭


dan tunggu terus kelanjutan dari Left Time✌


***


Setelah puas kejar-kejaran dan menikmati semua wahana, mereka berdua memutuskan untuk mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.


***


~ Rumah nenek penyelamat


Author Pov*


Mobil yang dikendarai oleh Kevin, kini berada di depan gerbang besar Villa neneknya. Tentu saja, Renata ikut bersamanya di dalam mobil itu. Mereka sengaja merencanakan kunjungan dadakan untuk memberi kejutan pada nenek. Yah, hitung-hitung merayakan hari bahagia mereka berdua.


Kevin menurunkan kaca mobilnya, untuk memencet bel yang ada di sebelah pintu gerbang itu. Tak lama kemudian, gerbang yang berdiri tegap dihadapan mereka mulai terbuka. Setelah gerbangnya terbuka sempurna, Kevin langsung menancap gas dan menuju ke tempat parkir untuk mobilnya.


Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Kevin dan Renata bergandengan tangan layaknya pasangan suami-istri sungguhan. Dan yang lebih luar biasa, hal itu mereka lakukan tanpa paksaan dari salah satu diantara mereka.


Selama perjalanan ke ruang tamu, banyak sekali pelayan yang menyambut mereka dengan antusias sebagai tuan dan nyonya William. Kevin dan Renata hanya membalas semua pelayan itu dengan senyum yang secukupnya.


Kini, pasangan suami-istri kita tengah duduk di sofa ruang tamu untuk menunggu kedatangan neneknya.


Hingga muncullah sosok yang telah ditunggu-tunggu kehadirannya itu.


" Renata! Kau sudah datang cucuku sayang." Ujar nenek yang membuat Renata dan Kevin menoleh ke sumber suara.


Renata bangun dari tempat duduknya, ia menghampiri sosok yang dirindukannya itu dan memeluknya.


" Aku saaaaangat merindukanmu nek! "


" Hahaha, tentu saja kau harus merindukanku. Oh iya, kau datang dengan siapa nak? Apa kau menyelingkuhi cucuku yang kurang ajar itu? Syukurlah..."


Kevin yang merasa jiwanya terusik lantas ikut serta dalam percakapan itu.


" Aha! Bagus sekali ya nenek tua. Kau baru saja melupakan cucu laki-lakimu ini karena Renata. Dan sekarang, kau malah menghinanya? Hebat sekali..Tau gitu, aku nggak bakal ngajak Renata ke sini."


" Astaga! Kenapa Kevkev ku sayang bisa ada disini? Bukannya kau itu sangat sibuk? Sepertinya, aku perlu mengingatkanmu lagi jika aku ini masih muda dan cantik."


" Apa kau bercanda nek? Mana ada orang tua yang masih cantik? Dilihat dari ujung sedotan juga bakal tetep keriput tau! "


" Dasar cucu kurang ajar! Apa kau tau? Hidupku ini tak lama lagi! Setidaknya, buatlah hidupku ini bahagia sebelum aku mati! "


Deg...


Hidup tak lama lagi? Bahagia sebelum mati? Entah mengapa jadi ingat diri sendiri. Jangan sampai aku lupa, aku kan sudah membuat keputusan. Jadi, aku tidak ingin tergoyahkan selama aku masih disini. Pokoknya, apapun yang aku dapat nanti...Akhirku pasti tetap sama. Untuk sekarang, aku tertawa sajalah sampai aku merasa puas dan tidak bisa melakukannya lagi.


" Ck, dasar curang! Kau selalu saja membahas kematian disaat terdesak. Nenek tau kan, aku benci jika membahas tentang kematian? "


" Hah? Sejak kapan suamiku benci membahas kematian? Apa kau begitu membencinya, jika seseorang mulai membahas tentang kematian? "

__ADS_1


"Ah, sudahlah...yang jelas aku sangat membencinya."


" Oke! Aku nggak akan membahasnya kalau gitu."


" Hem, tumben jadi istri yang pengertian? "


" Lah! Bukannya aku emang pengertian ya? "


Merasa jika akan ada perdebatan yang panjang, nenek William langsung mengambil tindakan.


" Akh! Renata...tolong aku, kurasa asam lambungku kambuh."


" Apa? sejak kapan nenek punya asam lambung?! " Tanya Kevin curiga.


" Hei! Apa kau mencurigai nenekmu ini? Cepat bawa aku ke kamar! "


Renata yang percaya dengan omongan Si-nenek, perlahan-lahan tergerak dan ingin membantu dirinya.


" Tunggu sebentar sayang! " Ujar Kevin sembari menahan tangan Renata yang hendak membopong neneknya.


" Kenapa kita tidak suruh pelayan saja? Kan, seharusnya merekalah yang paling tau penyakit nenek tua ini."


Renata terdiam sejenak memikirkan ucapan Kevin.


" Ah, kau benar juga Kev...Biar aku saja yang memanggilnya."


" Tidak usah sayang, aku kan tinggal menelfon asisten nenek tua ini."


Drtt....drtt.....


"H-halo tuan."


" Cepatlah kemari mbak, nenek tiba-tiba punya penyakit baru."


" Ha? Baiklah tuan, saya segera kesana."


Dengan segera, Asisten Lin menghampiri nenek dan meninggalkan pekerjaannya yang diberikan tadi. Sebenarnya, pekerjaannya itu sudah selesai dari tadi. Tapi, Asisten Lin masih menunggu saat yang tepat untuk masuk ke dalam.


" Nah, akhirnya kau datang juga mbak."


" Tuh, pasiennya lagi pura-pura sakit! " imbuh Kevin sambil menoleh ke neneknya.


" Baiklah nek, kalau begitu...Aku sama Kevin pilang duluan. Soalnya, udah keburu malem nih."


" Hem, hati-hati ya nak."


Entah mengapa, aku memiliki firasat buruk secara tiba-tiba.~ Batin Kevin


Kini, Kevin dan Renata sudah duduk di dalam mobil. Tanpa banyak berkata, Kevin langsung memasukkan kunci mobilnya dan menghidupkan kendaraannya itu. Tetapi sepertinya, firasat buruk yang dialami Kevin tidak pernah salah. Mobil yang akan membawa mereka pulang, tiba-tiba saja macet tanpa sebab.


" Renata..."


" Kenapa?"

__ADS_1


" Sepertinya, kita harus tetap disini untuk beberapa jam kedepan. Aku tidak mengerti lagi, mengapa mobil yang tadinya baik-baik saja, bisa menjadi mogok seperti ini?"


" Ha? Apa kau yakin? "


" Tentu saja, masuklah kedalam duluan. Aku akan menelfon bengkel langgananku untuk memperbaiki mobil ini. Mungkin, ini akan memakan waktu sekitar 3 jam. Jika tidak ada yang menghalanginya"


" Huh? Maksudmu nenek? "


" Siapa lagi? "


" Hahaha, nenekmu itu ada-ada saja ya kevkev? "


" Hei ! "


" Baiklah, aku akan tetap disini saja. Aku mau menunggu suamiku, biar kita masuknya bareng-bareng kayak tadi."


" Astaga, dasar manja."


" Nggak ngerasa tuh! " Balas Renata ketus.


10 menit kemudian~


Pegawai dari bengkel langganan Kevin belum juga tiba kemari. Kevin melirik ke arah Renata yang tengah duduk disampingnya sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk. Tanpa disadari, pandangan Kevin berubah menjadi ke arah wajah Renata.


Kevin Pov~


Hah? Kenapa dia tiba-tiba jadi cantik gini sih? Coba kita lihat....hmm, matanya lumayan sipit. Tapi mengeluarkan aura yang cukup kuat untuk seorang perempuan. Sekarang, coba kita lihat hidungnya. Hidungnya tidak terlalu mancung dan juga tidak terlalu pesek sih, tapi dia terlihat sangat cocok dengan hidung seperti itu. Tidak ada tanda-tanda oplas sama sekali. Terakhir, ayo kita lihat bibirnya. Astaga, harus aku akui...bibirnya itu sungguh menawan. Warna merah yang alami, serta bibir yang cukup berisi dan, sexy? Ah, bahkan aku masih ingat bagaimana aku mencium bibir sempurnanya itu. Tunggu...mengapa tiba-tiba aku teringat ciuman itu? Ugrh! Aku pasti sudah gila!


Meskipun pikiranku merancau tak jelas didalam sana. Aku merasa bahwa aku harus mengambil sebuah tindakan sesuai keinginanku. Bibirku terasa semakin gatal dan ingin menjamah bibir sempurna milik wanita didepanku ini.


" Emm, Renata...." Panggilku dengan nada ragu.


" Apa? " Dia menyahut dengan wajahnya yang tidak tahu apa-apa.


" Mau nunggu di dalam mobil aja nggak? "


" Ha? Kenapa emang? " Tanya Renata dengan nada curiga.


" Itu...gimana ya ngomongnya....? Aku, kepingin cium kamu lagi mungkin? " Jawabku ragu-ragu dengan wajah malu.


" Pft, nggak mau ah! Dari nada kamu ngomong aja, kayak nggak meyakinkan gitu. Jangan-jangan, aku salah dengar lagi? Masa seorang Kevin William minta untuk dicium oleh ku? "


" Nggak ! " Teriakku dengan tegas.


" Kamu nggak salah mendengar Renata. Aku benar-benar ingin! "


Renata hanya terpaku diam. Dia terlihat syok dengan pernyataanku barusan.


Aku benar-benar tidak tahan. Tetapi, aku juga tidak ingin memaksa Renata untuk melakukan ciuman ini.


" J-jadi bagaimana? Apakah kau mau melakukannya denganku? "


" Ck, dasar mesum! Apa sedari tadi kau memperhatikan bibirku? Tidak mungkin kan, kau tiba-tiba ingin menciumku tanpa sebab?"

__ADS_1


" Bisakah kau menjawab pertanyaanku saja, dan tidak bertanya kembali? " Tanyaku dengan nada putus asa. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa jadi seperti ini. Yang jelas, aku belum pernah melakukan dan merasakan hal seperti ini selama hidupku. Aku benar-benar membutuhkannya saat ini.


BERSAMBUNG


__ADS_2