Wonderful Left Time

Wonderful Left Time
menenangkan diri


__ADS_3

Hai para readers....tetap semangat ya🤭


dan tunggu terus kelanjutan dari Left Time✌


BTW, author minta maaf lho up nya lama banget tumben, hehe...


Eps 25~


***


Aku memeluknya yang masih bertelanjang dada dan mengusap-usap rambutnya. Dia pasti sangat syok dengan perbuatannya tadi. Oleh karena itu, aku mencoba menenangkannya dengan cara memeluknya dengan erat.


***


Renata POV~


Sekarang, sudah hampir satu minggu semenjak kejadianku dengan Kevin di Rumah Nenek. Sedihnya, Kevin masih belum menemuiku juga. Yah, aku mengerti sih kalau dia syok, dan ingin menenangkan dirinya dulu. Tapi, apa dia tidak memikirkanku disini?


Pft...mau berusaha melupakanpun, aku tidak akan bisa. Karena, kejadian malam itu sudah terngiang dalam ingatanku dan sudah menempel dengan jelas.


Throw Back


Saat itu, aku sangat syok dengan hal yang dilakukan oleh Kevin. Jujur saja, aku senang karena dia mau melakukan itu dengan ku sebagai istrinya. Tapi, tentunya aku tidak akan mau melakukannya.


Aku sudah menetapkan tujuanku dan memutuskan untuk tidak memiliki anak. Karena, aku tahu bahwa hidupku disini tak lama dan aku tidak mau anakku nanti tidak memiliki ibu disampingnya. Yah, aku sudah mengalaminya dan itu sangat menyakitkan untuk seorang anak.


Setelah aku berhasil menghentikan Kevin dari aksi kotornya, nenek dengan beberapa pelayan datang menghampiri kami. Nampaknya, suaraku terlalu keras sehingga terdengar ke dalam, atau nenek memang mengetahui hal ini akan terjadi.


Aku bukanlah seseorang yang bodoh disini. Sejak Kevin bilang bahwa neneknya memiliki rencana, aku juga jadi curiga padanya. Bagaimanapun juga, aku tidak bisa percaya pada seseorang dengan mudahnya.


Begitu melihat keadaan kami, Nenek terlihat begitu syok dan menunjukkan ekspresi kecewa pada cucunya, Kevin. Ia segera memerintahkan para pelayan untuk mengajak Kevin ke dalam rumah, sementara ia berusaha menenangkanku dari rasa syok.


" Renata, kau tak apa-apa nak? " Tanyanya terdengan khawatir.


" A-aku baik-baik saja nek....hanya saja, aku sedikit tidak percaya."


" Maafkan nenek tua ini ya, Renata. Seharusnya, nenek tidak mencegah pihak bengkel untuk datang memperbaiki mobilnya. Jujur, nenek pikir kalian akan menginap dan malah ini yang terjadi..." Ucap nenek dengan nada menyesal.


" Nek, jangan salahkan dirimu begitu. Lagipula, siapa yang tau hal ini akan terjadi kan? " Ujarku mencoba meyakinkan nenek.


" Lihatlah sisi baiknya nek...Sekarang, aku jadi tau bahwa Kevin tidak begitu membenciku dan mulai memperlakukanku seperti seorang istri. Yah, meskipun sedikit senam jantung sih, hehehehe."


" Huft, untunglah istri cucuku ini begitu positif...jika tidak, mungkin cucuku tidak akan memiliki istri seumur hidupnya lagi,hahaha. Sekarang, nenek akan berbicara dengan Kevin dulu ya..." Puji nenek sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


" Pelayan, tolong antarkan istri cucuku ke kamarnya dulu." Pinta nenek pada pelayan yang ada dibelakangnya.


" Renata, kau istirahatlah dulu di kamar itu sementara nenek berbicara dengan Kevin. Mengenai masalah ini, akan nenek putuskan jalan keluarnya setelah bicara dengan Kevin. Jadi, istirahatkan dulu badan dan pikiranmu agar tidak kacau seperti Kevin sialan itu."


" Hmm, baiklah nek." Jawabku seraya mengangguk.


Setelah itu, aku hanya berdiam diri dikamarku dan rebahan sambil menonton TV. Meskipun aku berusaha santai, pikiran dan ragaku tetap juga tidak dapat santai begitu saja disini. Aku diam-diam menunggu nenek dengan gelisah. Sumpah, rasanya aku ingin sekali menguping pembicaraan mereka dari pada harus berdiam diri disini.


Sekitar tiga puluh menit, aku berusaha menahan kegelisahanku dan menunggu nenek. Tetapi, kesabaranku mulai habis dan tak dapat dikendalikan lagi. Akhirnya, aku memutuskan untuk keluar secara diam diam dan menguping pembicaraan mereka.


Sayangnya, niatku ini gagal disaat aku membuka pintu kamar ini. Nenek sudah tiba dan bahkan memergokiku akan keluar dari kamar.


" Eh, nenek...Baru saja, aku akan mengambil minuman." Ujarku dengan senatural mungkin.


" Oh iya, bagaimana pembicaraan dengan Kevin tadi? Apakah nenek sudah memutuskan bagaimana kami melewati situasi canggung ini?" Tanyaku dengan tujuan mengalihkan suasana.


Jujur saja, aku sangat penasaran apa yang dikatakan oleh Kevin pada nenek. Tapi, apa daya aku terlambat untuk menguping dan malah ke gap oleh nenek. Ck, sial banget!


" Jadi, kau mau mengambil minuman halusinasimu itu, atau mau mendengar keputusanku mengenai hubungan kalian kedepannya? " Tanya nenek dengan nada mengejek.


" Ck! Nenek membuatku malu saja. Setidaknya, kau kan bisa pura-pura tidak tau dan membiarkanku keluar untuk mengambil minum." Sahutku dengan nada ngambek sambil menyilangkan kedua tanganku.


" Jadi, apa keputusanmu nek? " Tanyaku straight to the point sebab terlalu penasaran.


" Jadi, Kevin sangat syok dengan perbuatannya padamu tadi. Dan mungkin, dia akan sulit untuk memaafkan dirinya sendiri nanti. Kevin juga bilang pada nenek, bahwa dia ingin memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Katanya, dia perlu keberanian yang besar untuk menemuimu lagi dan meminta maaf." Jelas nenek panjang lebar.


" Hmm...Dan berapa lamakah itu nek?" Tanyaku yang mencoba untuk mendapat kepastian. Aku tak ingin Kevin menyiksa dirinya sendiri terlalu lama. Karena, aku bahkan tidak marah kepadanya dan sudah memaafkannya.


" Berilah dia waktu seminggu penuh. Nenek yakin, dia akan kembali lagi seperti biasa setelah itu."


" Lalu, Kevin juga memintamu untuk kembali tinggal di rumah yang dibelikan olehnya. Tapi, jika kau tak mau sendiri, kau bisa tinggal bersama nenek disini."


" Sudahlah nek, aku akan tinggal sendiri saja sesuai permintaan Kevin. Lagi pula, aku tidak enak terus merepotkan nenek disini."


" Ya sudah, nenek tidak akan memaksamu. Tapi, kalau kau perlu bantuan apapun itu, telfon saja ke nomor nenek ya."


" Iya nek..."


" Kalau begitu..Apa aku bisa pulang sekarang nek? Sepertinya, aku juga perlu waktu untuk menenangkan pikiranku sendiri."


" Tentu saja, nenek akan panggilkan supir untuk mengantarmu pulang."


" Hmm, terimakasih nek."

__ADS_1


Throw Back End


Blablabla, aku malah jadi kebosanan sediri disini. Sebenarnya, apa satu minggu itu benar-benar tujuh hari? Kenapa rasanya lama sekali sih? Kan jadi kesel.


Agrh! Sepertinya aku mulai gila hidup sendirian. Mungkin, aku perlu mencari udara segar, dan juga sedikit jalan-jalan untuk refreshing otakku yang mulai rusak.


Ting...ting...ting...


Huh? Ada pesan masuk?


Nyonya Liston:


Hai Renata, bagaimana kabarmu nak? Apakah semua baik-baik saja? Jika kau ada waktu luang, Apakah kau bisa mampir ke sini sebentar? Ada dua bocah yang ingin meminta maaf padamu.


Nyonya Liston:


Selain itu, ada Ruth juga yang kangen padamu. Belakangan ini dia sering meminta untuk mencarimu. Sepertinya, kau menjanjikan Ruth untuk jalan-jalan ya? Dia terus saja merengek ingin menemuimu.


Nyonya Liston:


Aku tidak sengaja melihat supir mengantarmu pulang. Apakah kau ada waktu hari ini?


Wah...beberapa hari ini kan, handphoneku disita sama Kevin. Jadi, aku nggak bisa melihat siapa saja yang menghubungiku. Well, meskipun aku tau tak ada yang akan menghubungiku sih, hehehe.


Tapi, siapa yang sangka Nyonya Lucas akan meng-SMS ku sebanyak ini? Malah SMS-nya tidak ku baca lagi...Kan jadi tidak enak dengannya.


Sebaiknya, aku balas dulu pesannya dan menjelaskan situasiku saat ini.


Renata:


*Maafkan aku Nyonya Liston....


Belakangan ini, handphoneku sedang disita oleh suamiku. Jadi, aku baru bisa membalas pesanmu sekarang.


Jadi, aku akan ke sana jam empat sore nanti. Itupun kalau kau bisa Nyonya*.


Nyonya Liston:


Panggil aku dengan sebutan 'ibu' saja, Renata. Kalau begitu, aku akan menunggumu disini jam empat ya. See u darling.


Renata:


Iya bu, see u soon~

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2