
1 and a half Year Later
Nenek penyelamat sedang duduk di sofa favoritnya sambil melihat sosok kesayangannya yang ada di depannya. Rasanya, ia selalu ingin meneteskan air mata disaat ia menatap sosok itu. Tetapi, ia sudah berjanji dengan seseorang untuk tetap kuat dan tidak akan menangisi apapun.
Seketika, pandangan sang nenek teralih dari sosok kecil dihadapannya, menuju Kevin yang baru datang dan membuka pintu.
" Kau sudah pulang Nak? Sepertinya, kau selalu datang lebih awal sejak beberapa bulan yang lalu."
Kevin tertawa kecil.
" Tentu saja aku harus pulang lebih cepat. Jika tidak, sosok kecil yang kau pandangi akan melupakanku nanti." Ujap Kevin yang mendekati sosok kecil itu.
" Rein! Ayah sudah pulang! " Seru Kevin sambil menggendong anak perempuan tercintanya, Rein.
" papapapapa " Ucap Rein tak jelas yang gembira saat melihat ayahnya.
" Apa putri kecilku merindukan ayahnya, Ha? Kau merindukan ayahmu ini kan? " Tanya Kevin pada Rein yang gembira dan lanjut bermain dengannya hingga Rein tertidur.
●□□
Kevin yang sudah membuat Rein tertidur, menempati putri tersayangnya itu ke ranjangnya dan kembali ke ruang keluarga untuk berbicara dengan neneknya.
" Besok kita harus kesana kan? " Tanya Kevin yang mengambil ancang-ancang untuk duduk.
" Hm...., kuatkanlah dirimu nak. Dia tidak akan senang melihatmu menangis saat tiba disana." Ucap nenek sambil menepuk pundak cucu nya.
" Iya, kau benar nek. Aku janji aku tidak akan menangis kali ini." Ujar Kevin yang tertawa kecil diakhir karena teringat bagaimana ia menangis saat itu.
" Kau akan mengabari yang lain kan? " Tanya Nenek pada Kevin.
" Tentu saja, aku akan menelfon mereka semua."
Lucas.
Aku sedang bersama dengan Ruth disaat Kevin tiba-tiba menelfonku.
" Hei, Lucas. Kau akan datang kan besok? Awas saja kalau sampai kau tidak datang."
" Hahaha, Hei Kevin. Apa kau pikir aku akan lupa tentang hal itu? " Tanyaku untuk membuatnya kesal.
__ADS_1
" Ck, sial*n kau memang pandai membuat seseorang kesal padamu. Aku kan hanya ingin mengingatkanmu. Siapa yang tau kapan kau akan melupakannya kan? Dasar tua! "
" Hei-hei. Apa kau tidak punya kaca dirumahmu? Kau juga memiliki anak sekarang, sama sepertiku."
" Setidaknya aku lebih baik darimu! " Jawab Kevin dengan nada sombong.
" Teman sial*n! " Ujarku sambil menutup telfonya.
Sebenarnya, apa yang dikatakan oleh Kevin itu benar adanya. Bahwa 'Dia lebih baik dariku' . Dia beruntung bahwa Renata meninggalkannya dengan baik-baik dan tidak ditinggal pergi begitu saja. Tidak seperti diriku, aku ditinggalkan pergi, dihianati, dan tidak diinginkan oleh orang yang aku cintai. Sungguh menyedihkan......
Sekarang, aku jadi bisa berteman baik dengan Kevin berkat Renata. Ditambah lagi, sekarang kami memiliki kondisi yang sama. Mungkin, bisa dibilang sama-sama seorang single parent yang mengurus anak dirumah.
Sudah tiga bulan berlalu sejak kejadian itu. Aku yakin Kevin masih tetap terpukul saat kehilangan orang yang dicintainya. Selama itu pula, kami sering berbagi keluh kesah bersama, sebagai seorang pengusaha dan single parent tentunya. Kami juga sering mengajak kedua buah hati kami bermain bersama. Kalau bisa, aku ingin menjodohkan Ruth dan Rein dimasa depan. Tetapi, tentunya Kevin tidak akan pernah setuju dengan hal itu.
Ace.
Aku dan Calista sedang berduaan dirumah. Kami sudah menikah sekitar 6 bulan yang lalu, sebelum kepergian seseorang. Aku sangat senang bahwa sekarang aku bisa berduaan dengan Calista, dan aku ingin memanjakannya hari ini.
Aku berjalan menuju Calista yang sedang memasak untukku. Disaat aku ingin memeluknya dari belakang, Ponselku berbunyi dan Calista menoleh padaku.
' Sial, kejutanku gagal! '
Dengan marahnya, aku melihat ponselku dan mengutuk siapapun yang mengganggu momen mesraku dengan Calista.
" Halo, Ace! Ini aku, Kevin." Ucal Kevin dengan nada sepat.
Sial*n orang ini, dialah sebab aku telat melamar Calista karena tak dapat restu darinya. Untungnya sekarang kami memiliki hubungan yang baik sebab Renata.
" Why? Kau menghancurkan kesempatan emasku Kev! "
" Sial*n kau Ace! Simpan dulu keromantisan kalian itu untuk kapan-kapan. Apa kau ingat besok hari apa? "
" Ugrh.. Apa kau buta huruf sampai menanyakan besok hari apa kepadaku? Bukankah jelas besok itu hari selasa? "
Istriku yang mendengar percakapanku dengan Kakanya pun langsung merebut ponselnya dan memukul kepalaku dengan keras.
" Tentu kami ingat kak~ Kakak yang kuat ya, besok kami akan ke sana pagi-pagi sekali."
" Baiklah, jangan lupa untuk menghukum suamimu itu."
__ADS_1
" Tentu saja kak~ Aku akan menghukumnya sekarang juga." Jawab Calista dan mengakhiri telfonnya.
Calista yang sudah selesai dengan telfon itu kemudian menoleh padaku dan melempar handphoneku dengan kasar kepadaku. Aku yang belum siap, menangkapnya dengan bersusah payah agar tidak jatuh ke lantai dan rusak seperti yang terakhir kali.
" ACE MORGAN BODOH! " Kesal Calista padaku sambil memukuliku sekeras yang dia bisa.
" Hei-hei, tenang dulu istriku." Aku memeluknya hingga semua emosinya luluh dalam pelukanku.
" Sekarang, bisa kau jelaskan ada apa besok hingga Kevin menelfonku? "
Calista memelototiku beberapa saat dan memutuskan untuk memberitahuku.
" Besok itu 3 bulan sejak kepergiannya Ace."
Deg...
" Hahaha....pantas saja kakakmu marah kepadaku." Tiba-tiba aku merasa bersalah kepada Kevin.
" Mangkanya, nanti malam kamu tidur sendiri! Aku gak mau nemenin kamu Ace, ini adalah hukuman !"
" APA! Calista, tunggu.... Apa hukumannya tidak bisa diganti saja? Calista.... hei sayang, tunggu aku." Ujarku sambil mengejar Calista yang marah.
●●●
Keesokan harinya~
Semua orang-orang yang dekat dengan Renata telah kumpul di sebuah pemakaman. Kevin yang tak kuat melihat makam itu, tidak menepati janjinya dan menangis di sepanjang kunjungannya. Mereka semua, Kevin, Rein, Nenek, Lucas, Ruth, Ace,dan Calista selalu mengunjungi makam Renata sebulan sekali dan berkumpul bersama-sama.
Meskipun tak sampai dua setengah tahun mereka bersama, Renata merupakan sosok yang sangat berharga bagi mereka.
Tepat setelah kejadian dipantai dengan Kevin, Renata menceritakan semua hal tentang dirinya kepada Kevin. Renata merasa tak perlu menyembunyikan apapun darinya.
Ia juga menceritakan niatnya untuk tidak memiliki anak, tetapi Kevin tidak setuju dengannya. Kevin ingin memiliki seorang anak yang cantik, agar selalu mengingatkannya tentang Renata. Kevin bahkan memohon-mohon selama seminggu lebih agar Renata menyetujuinya.
Pada akhirnya, Renata memutuskan untuk setuju dengan Kevin dan menambah 3 pil untuknya hingga waktunya ia pergi. Kevin bahkan telah membujuk Renata agar ia tetap menggunakan pil itu dan hiduo bersamanya. Tetapi, Renata tidak mau dan merasa bahwa dirinya tak seharusnya disini.
Renata selalu merasa sedih disaat ia memikirkan bahwa ia harus meninggalkan Kevin, Rein dan orang-orang yang ia sayangi. Tetapi, ia rasa itu semua adalah ganjaran dari Tuhan karena telah melawan takdir kematiannya sendiri.
Pada usia Rein yang ke 2 bulan, Renata mulai melemah dan ia meninggal di usia Rein yang ke 3 bulan. Permintaan terakhinya adalah....untuk memusnahkan pil left time dan agar Kevin selalu menyempatkan waktunya untuk Rein.
__ADS_1
Sejak saat itu, Projek Left Time ditutup karena permintaan Renata dan karena Projek ini akan menimbulkan luka yang mendalam pada beberapa orang, terutama Kevin, Rein, dan Renata sendiri.
WONDERFUL LEFT TIME ~