Wonderful Left Time

Wonderful Left Time
Bertemu kembali 2


__ADS_3

Author POV~


Masih dengan kekesalan yang sama, Renata memasuki Villa yang menurutnya menyeramkan itu. Untungnya, asisten nenek sudah memberitahu Renata kunci mana yang digunakan untuk membuka pintu. Jika tidak, maka ia harus mencoba satu-persatu dari duapuluh kunci yang ada disana.


Renatapun berhasil membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam Villa itu. Begitu sepi dan gelap...itulah kesan pertama yang didapatkan oleh Renata dengan sekali pandang.


Apakah benar suaminya ada di tempat ini? Atau nenek penyelamat yang telah dipercayainya sejak awal memang telah membuangnya? Pikiran Renata semakin membludak.


Karena tas dan peralatannya tertinggal di mobil nenek, Renata hanya membawa handphone sebagai alat untuk menyelamatkannya dari tempat ini. Sayangnya, harapan itu pupus begitu melihat sinyal handphonenya dan lokasinya saat ini.


Ia berada di salah satu Villa yang memerlukan perjalanan 5 jam untuk menggapainya. Bahkan, Renata sudah tak dapat membayangkan lagi sebagaimana jauhnya untuk berjalan kaki menuju rumahnya. Sekarang semuanya kacau!


Renatapun menyalakan penerangan melalui lampu senter dari handphone miliknya. Ia melihat-lihat sekeliling dari bangunan cukup tua yang disebut Villa itu. Hingga akhirnya, ia sampai pada salah satu kamar di lantai atas villa ini, yang ia buka dengan susah payah mencoba satu-persatu kunci.


Begitu membuka pintu dari ruangan yang akan menjadi kamarnya itu, Renata terkagum-kagum karena sepertinya ia tidak salah memilih kamar untuk ditempatinya. Kamar ini sungguh besar dan berkesan klasik. Bahkan dengan adanya balkon yang luas, kamar ini menjadi tambah sempurna di mata Renata.


" Syukurlah di Villa ini ada listriknya. Jika tidak, mungkin aku akan mati di dalam kesengsaraan." Gumam Renata yang menyalakan lampu kamarnya.


Kelelahan dan frustasi, Renata langsung menghampiri kekasih barunya, yaitu ranjang besar yang dangat empuk. Ia berbaring disana cukup lama sambil memikirkan keadaannya saat ini.


" Kurasa, nenek tidak membuangku atau ingin membunuhku disini. Bahkan dapurnya saja dipenuhi dengan berbagai bahan masakan dan makanan jadi lainnya."


" Apa Kevin ada disini ya? Ah, tidak mungkin! Aku kan sudah mengelilingi semua villa ini tadi. Sama sekali tidak ada tanda-tanda kehidupan terdahulu. Terus semua ini maksudnya apa? "


" Tau ah...bodoamat! Aku pusing banget saat ini. Mungkin dengan udara segar dan pemandangan pantai akan membuatku lebih baik."


Alhasil, Renata menghabiskan waktunya berjam-jam menatapi keindahan pantai yang tepat berada di hadapannya. Selama ia termenung, sempat terbesit di pikirannya 'betapa bagusnya jika ia tinggal di tempat seperti ini dengan orang-orang yang ia sayangi.' Tetapi, sepertinya semua itu hanya hayalannya belaka.


BRAK!!


Suara pintu kamar Renata yang terbuka dengan tiba-tiba hingga mengagetkannya yang tengah termenung.

__ADS_1


" KAMU?! "


Kevin POV~


Jika dihitung, sudah hampir tiga minggu aku meninggalkan rumahku dan orang-orang disana. Mau bagaimana lagi? Ini semua karena kecerobohanku sendiri, jadi aku harus menghadapi resikonya seperti ini.


Aku merasa, semua ini adalah tindakan benar yang harus ku ambil. Jadi, aku membawa barang-barang yang kuperlukan dari rumah, dan mengasingkan diri disini. Pikiranku masih sangat kacau akibat dari tindakanku sebelumnya.


Sebenarnya, tak banyak hal yang kulakukan disini. Hanya mengerjakan tugas kantor, memeriksa beberapa dokumen, melakukan meeting, yang tentunya semua kukerjakan dari tempat ini secara tak langsung melalui laptop yang kubawa. Setelah itu aku akan mandi, masak, makan, tidur. Semua adalah hal-hal biasa yang selalu kukerjakan.


Tetapi, sepertinya semua ini salah. Aku sama sekali tidak bisa menghilangkan rasa bersalahku disini dan tetap melakukan aktivitasku seperti biasa. Lalu, apa gunanya aku disini selama ini? Seperti seorang pengecut yang lari dari masalah yang telah dibuatnya. Membuatku jadi tak enak pada Renata dan nenek. Sungguh memalukan!


Hari ini, rasa bersalah itu muncul kembali dan aku memutuskan untuk mencari udara segar keluar. Aku mematikan semua lampu dan alat elektronik yang kugunakan dan pergi menyusuri pantai yang ada didepan. Selama aku berada di sini, aku sering menyusuri pantai hingga menemukan spot favoritku untuk melepas pikiranku yang runyam. Biasanya, aku akan kesini disaat pikiranku penat, dan kembali dikala senja menjemput.


Kupikir, hari ini akan berjalan seperti halnya hari kemarin. Tetapi, begitu aku kembali dari tempat pelepasan stresku. Aku melihat ada cahaya lampu dari salah satu kamar di lantai atas villa yang seingatku tak pernah kudatangi sebelumnya.


Aku belum merasa panik karena kupikir aku pernah masuk ke sana dan lupa mematikan lampunya. Tapi, kepanikanku mulai muncul disaat aku melihat seseorang sedang berdiri di balkon. Apakah villa ini kecurian lagi? Aku tidak boleh membiarkannya!


Suara hantaman dari pintu yang kudobrak, mengagetkan sosok yang berdiri di balkon itu hingga ia menoleh ke hadapanku.


" KAMU?!" Tanyaku dengan syok.


Bagaimana bisa ia ada disini? Hahaha, apa ini adalah imajinasi yang dibuat oleh pikiranku saja ya? Pasti rasa bersalahku sangat besar hingga aku berfikir pencuri ini adalah, Re....nata?


Huh? Dia memelukku? Bagaimana bisa?


Berusaha menetralkan rasa kagetku, aku mulai melihat sosok yang memelukku saat ini.


" Re...nata.....? " tanyaku yang tak tau harus berbuat apa.


" Keviiiiiinnnnn! Kenapa kau baru datang sih! Aku marah padamu! Aku benci padamu! Hiks..hiks...Aku pikir aku sendiri disini.......Aku selalu memikirkanmu tau...kau jahat Kev..." Omel Renata yang meluahkan semua perasaanya pada Kevin.

__ADS_1


Dia....menangis? Orang seperti Renata menangis?


Karena tak tau harus berkata apa, aku membalas pelukan Renata untuk pertama kalinya dalam sejarah. Yah...dan entah mengapa aku lega? saat aku mengetahui ini adalah dirinya. Jika dia ada disini, berarti aku dapat meluruskan kesalahpahaman selama ini. Kurasa, aku juga harus meminta maaf padanya nanti....


" Kenapa kau harus menangis di bajuku sih? Apa kau tak tau bajuku ini mahal? Kan sayang jika harus rusak karena air mata dan ingusmu yang menempel disana ! " Candaku pada Renata.


" Hiks..Kau..Kau tega sekali berkata begitu! Apa kau tau rasanya saat terjebak dalam kegelapan dan melihat cahaya? " Jawabnya terbata-bata.


Hehehe, dia imut juga jika begini.


" Tidak tuh! Memang rasanya seperti apa?"


" Seperti ingin menggapainya, meskipun kita tidak tau...apakah cahayanya dapat digapai, atau hanya dapat dilihat saja. Rasanya seperti itu."


" Tapi apa kau ingin tau rasanya saat bisa menggapainya? "


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.


Renata membalasku dengan senyuman lebar yang terlihat manis diwajahnya.


" Rasanya...seperti kau sudah bebas dari kegelapan yang menjeratmu. Seperti sudah mendapatkan jalan yang benar dan penuh dengan kebahagiaan. Rasanya sangaaaat nyaman, hingga kau terharu...bahwa kau dapat menggapainya."


Ia melepas pelukannya dan memegang wajahku dengan kedua tangannya. Membuatku menatap wajahnya dengan jelas dan membuatku tau bahwa sosok dihadapanku ini asli dan bukan khayalanku saja.


Seolah terhipnotis dengan sosoknya itu, aku menurunkan wajahku perlahan-lahan dan menyatukan bibir kami hingga bersentuhan. Aku menciumnya dan ia membalas ciumanku dengan wajah bahagia.


Dapat aku pastikan bahwa....


Malam ini....


Adalah malam terindah dalam hidupku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2