
''Huh'' Hembusan napas lelah keluar begitu saja dari mulut wanita, yang tengah pusing menghadapi keras nya hidup.
Dia sedikit frustasi dengan kehidupan nya yang terbilang miris, sejak dirinya di tinggalkan oleh ibunya dan tinggal bersama sang ayah, hidup nya tidak pernah merasakan keadilan lagi.
Di rendahkan! Di sakiti! bahkan nyaris di jual oleh kekasih nya sendiri. Sang ayah yang pergi merantau dan hilang tanpa kabar sampai saat ini, dia sama sekali tidak memperdulikan dirinya.
Buktinya! Lima tahun dia hidup sebatang kara tanpa perhatian dan kasih sayang dari ayah nya itu, hingga seorang pria dengan suka rela mengulurkan tangan pada nya, jelas itu akan di sambut baik oleh nya tanpa ragu.
Ini adalah kisah pilu dari seorang Revitha, meski sifat nya terbilang angkuh dan sombong, tetapi di balik keangkuhan itu, dia hanyalah seorang wanita kesepian dan haus akan keadilan serta kasih sayang.
Wajarkan jika dia sedikit emosional dan tempramental. Hanya saja hal itu akan sedikit merugikan untuk dirinya.
''Uang cuma tinggal segini, kira-kira cukup gak yah buat jatah makan seminggu kedepan'' Keluh nya sendu, saat melihat uang dalam dompet nya hanya tinggal 6 ratus ribu saja.
''Gue harus cari kerja lagi buat sambung hidup. Apa gue ngelamar kerja di perusahaan nya kenan aja yah, tapi! Itu mustahil dan sangat sulit, secara kan itu perusahaan besar, sudah pasti yang kerja di sana lulusan sarjana, sedangkan gue! Cuma lulusan SMP'' Monolog nya menyatakan kebenaran yang ada.
''Hah, mimpi nya ntar aja deh, sekarang kudu cari makan dulu biar tetep waras'' Ucap nya yang sudah pergi melangkahkan kaki nya dari villa, Guna mencari makanan murah namun puas.
Hah tempat tinggal elit uang buat makan sulit sih ini mah.
Selama perjalanan menyusuri warung makan, Revi tetap melihat kiri dan kanan secara waspada. Takut jika sewaktu-waktu ada seseorang yang tengah di hindari nya berada di area tersebut.
Sampai sini semua nya lancar, dia membeli nasi padang dan menunggu pesanan dengan damai tanpa sport jantung.
''Makasih mbak'' Seru nya setelah menerima kantong plastik berisi makanan tersebut, dia tidak mau gegabah dengan makan di tempat, jadi mau tidak mau dia harus membungkus nya dan makan di villa.
''Sama-sama'' Balas pemilik warung.
Revi dengan cepat pergi dari sana, masih dengan perasaan waspada. Namun! Saat pertengahan menuju ke villa, dirinya baru mengingat jika minuman belum terbeli.
''Beli di sana aja deh'' Seru nya, saat melihat sebuah cafe, tanpa pikir panjang dia segera masuk kesana.
Sesampai nya di dalam, Revi melihat pemandangan yang tidak biasa untuk nya.
''Yudha'' Gumam nya, kala melihat Yudha tengah bersama dua orang wanita, di sana mereka terlihat tidak baik-baik saja.
Di mana kedua wanita tersebut tengah cekcok atau adu argumen, sedangkan Yudha sendiri menjadi pelerai diantara kedua nya.
''Loe kenapa sih suka banget urusin hidup orang, kenapa loe kesepian, iyah? Kasian''
Samar-samar terdengar suara makian dari salah satunya.
Revi tidak mau ikut campur untuk saat ini, dirinya akan menjadi penonton saja seperti para pelanggan yang lain nya.
__ADS_1
''Cih! Gue gak pernah kesepian yah, gue cuma gak suka liat hidup loe yang sok itu'' Balas wanita yang sedikit pendek dari wanita yang meneriaki nya tadi
''Heloo! Yang ada elo kali yang sok, kere aja belagu'' Sinis wanita semampai yang berada tepat di samping Yudha.
''Si*lan! Loe mau gue pukul, hah?'' Sentak nya berang
''Berani loe? Ayok sini pukul gue kalo punya nyali'' Tangtang nya tanpa rasa takut
''Sayang! Udah yah malu di lihat orang. Dan loe mending enyah dari sini, sebelum gue bertindak atas kelakuan elo yang berani bentak calon istri gue'' Lerai yudha dan memberi peringatan pada wanita yang agak pendek tersebut.
''Awas loe! Urusan kita belum kelar yah, ingat itu Dinda'' Tunjuk wanita pendek sembari melenggang pergi dari hadapan Yudha dan Dinda itu.
Ternyata wanita yang sedikit pendek itu, ialah Rasti. Orang yang tidak tahu terima kasih dan sangat terobsesi akan kekuasaan serta kekanyaan.
Dan yang bersama Yudha sekarang, tentu itu adalah Dinda. Mereka bertemu tanpa sengaja di cafe tersebut, dan berakhir saling lempar makian karna Rasti yang masih memiliki dendam kusumat pada Dinda dan Key.
''Sayang! Come on rilexs, okay. Orang kayak dia ngapain di ladenin sih'' Seru Yudha lembut dan penuh perhatian
''Aku kesel banget tau gak sama dia itu, Udah kere, belagu, sombong, petakilan, yang jelek-jelek ada di dia semua deh. Dan parah nya tuh orang gak tau terima kasih banget sama Key, udah di tolong, di jadikan temen, eh malah dia benci tanpa jelas sama Key'' Tutur Dinda dengan mata menahan emosi.
''Minum!'' Titah Yudha yang bertujuan untuk menenangkan amarah kekasih nya itu.
''Thank's'' Ucap Dinda sembari tersenyum manis pada Yudha.
''Kenapa sih orang yang dekat dengan Kenan, selalu terlihat manis dan penyayang banget, Coba gue yang ada di posisi cewek itu pasti seneng banget deh, Apalagi cowok nya itu Kenan'' Gumam Revi sedikit berharap.
''Ini kak pesanan nya''Seru pegawai cafe pada Revi
''Oh iya, ini uang nya mbak'' Balas Revi setelah menerima kap minuman yang di pesan nya tadi.
Revi tidak ingin menyapa Yudha dan kekasih nya itu, dia memilih pergi saja dari sana, Namun saat dia ingin membuka pintu kaca dari cafe tersebut, seseorang menabrak nya hingga minuman yang di pegang nya jatuh dan tumpah mengenai baju keduanya.
''Ah! Ya ampun sorry banget, gue beneran gak tau kalo ada orang yang ingin keluar'' Seru orang yang menabrak Revi, sembari mengibaskan tumpahan di baju Revi.
''Aduh! Gimana sih, jadi tumpah kan minuman nya'' Sengit nya sebelum pandangan mata mereka bertemu.
''Sorry banget, gue ganti deh minuman nya, sekalian sama baju nya juga boleh, kalo loe mau''
''Gim–.. Loe?'' Pekik nya kala mengetahu siapa orang yang baru saja dia tabrak.
''Loe lagi. Loe lagi, napa sih loe seneng banget nabrak gue, kotor nih baju gue'' Sentak Revi sinis dengan tatapan tidak bersahabat pada lawan bicara nya itu.
''Gue kan udah minta maaf'' Balas nya judes
__ADS_1
''Gak cukup kalo cuma modal mulut doang'' Ucap Revi
''Apa mau loe, baju baru? Minuman baru? Bilang aja biar gue jabanin'' Tanya nya yang secara tidak langsung telah merendahkan harga diri seorang Revi.
Jelas dia sanggup memenuhi apapun yang di minta oleh Revi, bahkan saldo ya tidak akan tersinggung jika sampai itu terjadi.
Siapa yang tidak kenal dengan keluarga Wijaya, dan seperti apa marga nya. Apalagi dia anak satu-satu nya dari Kevin Wijaya. Yah! Dia adalah Keyla Wijaya, putri tunggal dari keluarga Wijaya, Bahkan jika di nilai dari derajat. Derajat Key lebih tinggi di banding Kenan, dan semua itu adalah fakta nyata yang sudah di ketahui banyak orang.
Revi tersenyum sinis dengan pandangan remeh..''Loe siapa sih, jangan mentang-mentang loe kerja di tempat kenan, dan membuat loe jadi songong, ingat! Loe itu cuma karyawan nya bukan sodara atau apapun bagi nya'' Ucap Revi sembarangan tanpa tahu seperti apa kebenaran nya.
''Tau apa loe tentang hidup gue, sampe-sampe loe mampu nilai kehidupan pribadi gue'' Sinis key
''Udah keliatan dari muka nya'' Balas Revi ketus
''Ck, Mau bertaruh?'' Tantang Key dengan senyum licik nya.
''Apa?'' Jawab Revi berani.
''Key!'' seru Dinda yang menghampiri posisi mereka bersama Yudha, sebelum Key berhasil menjelaskan apa yang ingin dia taruhkan bersama Revi.
''Eh, loe kok ada di sini Vi'' Tanya Yudha penuh selidik, padahal dia tahu jika Revi ada di cafe itu, sejak awal dia beradu mulut bersama Key.
''Iya'' Balas Revi pelan.
''Loh Dek, baju loe kok bisa kotor? Kalian habis tabrakan tadi?'' Seloroh Yudha sengaja memberi perhatian lebih pada Key.
''Sayang! kok pada nimbrung di depan pintu sih, Ya alloh baju kamu kenapa bisa kotor gini, kamu gak papa kan Key?'' Seorang wanita yang sudah berumur datang dari luar dan berucap panik melihat keadaan putri semata wayang nya itu.
''No! Mom, Key sama dia cuma salah paham doang kok, jadi don't worry mom.'' Balas Key beralibi , dengan senyum puas saat ini.
Bagai mana tidak puas. Saat ini raut wajah Revi terlihat cengo dan heran. Bukan! Bukan ! Tepat nya tanda tanya besar pada Key.
Siapa Orang ini?
Kok kayak di istimewakan sekali.
''Nih cek resmi dari gue, isi semau loe, berapun nominalnya gak akan buat gue bangkrut, itupun kalo loe masih punya harga diri dan rasa malu''Key menyodorkan satu lembar cek kehadapan Revi.
Revi terdiam seperti patung dan tidak berani membalas perkataan dari Key, mengingat saat ini banyak orang yang melihat hal itu.
Terlebih lagi dia mulai menyimpan rasa segan pada Key, jangan sampai dia salah mencari lawan, pikir nya.
''Gue duluan'' Pamit Key setelah menyelipkan lembaran cek tersebut di kerah baju Revi. Lalu pergi melewati nya begitu saja, diikuti oleh Yudha, Dinda dan Ibu nya.
__ADS_1