WSIM Jilid 2

WSIM Jilid 2
Bab.64


__ADS_3

Tepat pukul 9 malam, Key dan Kenan selesai berolahraga. Mereka sudah mandi dan wangi saat ini.


Key terus mengeluh sakit pada suaminya itu, bahkan berjalan pun sangat susah, sampai-sampai Kenan harus menggendong Key, kemana pun key ingin bergerak. Itu karna Kenan bermain sangat lama tadi, padahal bagi Kenan itu belum cukup dan masih memginginkan nya. Sungguh tangguh pria satu ini bukan.


''Sayang! Kita makan nya disini aja yah, susah kalo harus kebawah. Apalagi gendong kamu kan, takut jatuh'' Usul Kenan lembut pada istri cantiknya.


''Boleh sayang, tapi aku mau makan nya yang berkuah'' Balas Key yang masih selonjoran diatas hamparan empuk nya.


''Siap! Nanti dibawain yang berkuah, aku kebawah dulu yah'' Ucap Kenan, yang dibalas anggukan kepala oleh Key.


Kenan pun segera bergerak, menuju kelantai bawah. Dimana letak meja makan berada, sesampainya Kenan disana, para pekerja dirumah itu datang menghampiri Kenan dengan raut wajah panik.


Kenan menatap heran pada keempat pekerja tersebut, kenapa mereka terlihat panik saat ini.


''Kalian kok pada kumpul disini, ada apa?'' Tanya Kenan sembari mengambil satu buah anggur, yang berada di meja makan.


''Den! Aden gak papa kan?'' Seru salah satu asisten rumah tangga Kenan, dia yang paling terlihat panik dan cemas saat ini.


''I-iya, aku baik kok bi. Bi Ira kenapa keliatan panik gitu? Kalian juga, kenapa?'' Sahut Kenan apa adanya. Jelas lah dia baik-baik saja sekarang, bahkan sangat baik karna suatu hal.


''Aduh Den, gimana bibi dan mereka gak panik coba, Aden sama Nona kecil belum ada turun dari siang tadi. Mau dicek keatas takut gak sopan'' Terang Bi Ira, menjelaskan kenapa dia bersama teman-teman nya terlihat panik sekarang ini.


Kenan seketika tergagap mendengar ucapan Bi Ira, apa mungkin mereka mendengar rintihan syahdu dirinya dan sang istri tadi. Aduh! Jika benar mereka tahu, itu sangat memalukan sekali bukan. Pokoknya dia harus melengkapi kamar nya dengan peredam, agar kedap suara nantinya.


''Iya Den, saya sampe di panggil Ira kesini, gara-gara Aden dan Nona belum keluar kamar. Ira menyuruh saya mengecek keatas, tapi saya gak berani Den'' Timpal mang Didi selaku supir nya Kenan.


''Kalian cek keatas atau enggak tadi'' Kenan memastikan kembali. Semua orang yang ada disana menggeleng kompak, sebagai jawaban mereka.


"Huh'' Kenan bisa dengan leluasa mengeluarkan napas nya, syukurlah mereka tidak mengecek keatas tadi.


''Ekhem. Tadi saya ketiduran sama Key, makanya gak ada turun'' Dalih Kenan cepat. Keempat orang itu ber OH saja mendengar pengakuan dari majikan nya.


''Kirain ada apa, sampe panik kita yah. Untung kita gak jadi menghubungi Nyonya dan Tuan besar buat kesini tadi'' Sahut mang Dirman selaku tukang kebun.


Mata Kenan mendelik saat itu juga, sampai segitu nya mereka mengkhawatirkan dirinya dan Key. Bisa perang dunia ke3 jika Kevin sampai disuruh kesini tadi.


''Ya ampun, lain kali jangan seperti itu. Saya janji bakal kasih tau kalian dulu sebelum menghabiskan waktu didalam kamar, gak perlu lah telpon-telpon Dady segala'' Ucap Kenan ringan. Mereka saling pandang karna merasa ada yang janggal dengan kalimat Kenan, namun setelahnya mereka tersenyum tengil tanda mengerti.

__ADS_1


Didi menyenggol lengan Dirman, sebagai kode..'' Kalo begitu saya permisi dulu Den. Selamat malam'' Pamit Didi dan Dirman, mereka bergerak keluar sebelum mendapatkan jawaban dari tuan nya.


''Aden mau makan, biar bibi ambilkan. Nona kecil gak turun Den?'' Ujar Bi Ira dengan cekatan menyiapkan piring serta sendok untuk majikan nya itu.


''Key diatas, masih pusing katanya. Tolong bawakan soto sama nasi keatas yah bi, soalnya kita mau makan nya dikamar aja, aku mau buat coklat panas dulu'' Titah Kenan ramah.


''Baik Den''


''Vivi, kamu bantu saya bawakan ini keatas yah'' Ujar bi Ira pada Vivi.


''Baik Mbak'' Balas Vivi cepat. Mereka membawa dua porsi makanan berkuah keatas, dimana letak kamar majikan nya berada. Sedangkan Kenan tengah membuat coklat panas untuk istri tercintanya.


*Tok..


Tok..


Tok*..


''Masuk aja'' Terdengar seruan dari dalam kamar. Bi Ira pun segera membuka pintu kamar majikan nya, diikuti oleh Vivi.


''Makasih bi Ira, mbak Vivi'' Balas Key ramah.


''Nona kecil masih pusing? Mau bibi ambilkan obat'' Tanya Ira perhatian. Sedangkan Key sudah mengerutkan keningnya heran.


''Sia-''


''Sayang! Kamu masih pusing banget yah, ini aku bawain coklat panas buat kamu'' Kenan memotong kalimat Key dengan cepat. Kenan mengedipkan matanya sebagai kode pada Key.


''Eh, i-iya masih pusing banget ini'' Ringis Key cepat, dia mengerti suaminya tengah bersandiwara saat ini. Entah bagaimana cerita nya.


''Mau bibi panggilkan dokter Non''


''Gak usah bi, paling cuma masuk angin doang kok ini, sebentar lagi juga pasti sembuh'' Ucap Key menolak usul dan niat baik bi Ira. Karna dia memang tidak merasa pusing saat ini, tapi ngilu dan perih yang dia rasakan.


''Bukan dimasukin angin ini mah, tapi dimasukin tongkat ajaib nya Kenan bi'' Ungkap batin Key, yang merasa geli sendiri jika mengingatnya.


''Oh begitu, yasudah bibi keluar dulu yah. Aden sama Nona kecil silahkan makan'' Ujar bi Ira lembut, yang memanggil Key dengan sebutan 'Nona kecil' karna Key sudah sedari kecil dirawat oleh Bi Ira.

__ADS_1


''Iya bi'' Sahut Key dengan senyuman nya. Bi Ira dan Vivi pun lantas keluar dari dalam kamar Key itu. Setelah kepergian kedua asisten rumah tangganya, barulah Key bertanya pada suami tampannya itu.


''Ada apa sih?'' Tanya Key penasaran dengan senyum lebar nya


''Tadi pas aku kebawah, keempat pekerja dirumah ini pada kumpul dekat meja makan, kamu tau kenapa?'' Key pun menggeleng tidak tahu.


''Mereka khawatir sama kita, karna kita gak keluar-keluar dari siang, dan baru nongol sekarang. Bahkan mereka berniat menghubungi Dady dan momy, buat cek keadaan kita disini'' Terang Kenan. Key tertawa geli mendengarnya.


''Malah ketawa kamu'' Sungut Kenan, sembari menuangkan nasi kedalam mangkuk soto.


''Habisnya gak kebayang aja gitu, kalo seandainya mereka nelpon Dady buat kesini, eh pas kesini anaknya lagi enak-enakan dong'' Key tertawa kecil hanya dengan membayangkan nya saja, berbeda dengan Kenan yang tidak dapat membayangkan nya.


''Aaa, buka mulutnya'' Kenan menyuapi Key dengan soto, makanan yang selalu menjadi favorit dikeluarga besarnya. Jelas sang ibu lah yang menerapkan virus soto tersebut, karna Aulia sangat menyukai olahan berkuah itu, otomatis semua keluarga Kevin pun ikut menyukainya.


Mereka makan dengan sangat lahap, mengganti energi yang sempat hilang akibat berolahraga tadi.


...****************...


''Kamu kuat jalan gak?'' Tanya Dio dengan raut resah.


''Sakit, pasti kalo jalan kelihatan aneh deh'' Ucap Diaz jujur. Karna memang aset nya masih nyut-nyutan sampai saat ini.


''Ya sudah, kamu gak usah kebawah. Diem aja disini, nanti kita makan malam nya disini aja'' Usul Dio yang tidak jauh berbeda dengan situasi yang tengah Kenan alami malam ini.


''Nanti momy curiga lagi, gak mau ah malu nanti aku, pas ketemu sama momy'' Rengek Diaz


''Terus mau nya gimana coba, kebawah sama gak kebawah juga bakalan sama aja'' Jelas Dio.


''Terus gimana dong?''


''Ck, udahlah biarin aja, mereka juga pernah merasakan hal ini, makanya jadi ada aku kan. Mereka pasti ngerti lah'' Imbuh Dio menyakinkan.


''Iya deh terserah kamu'' Tutur Diaz mengalah, karna memang apa yang diucapkan suaminya adalah sebuah fakta.


'' Tunggu yah, aku ambil makanan nya dulu kebawah'' Ujar Dio sembari mengusap rambut Diaz. Diaz mengangguk memberi jawaban


Dio berjalan cepat menuju lantai bawah, dibenaknya sudah tercipta bulan-bulanan dari ayah dan ibunya, untuk dirinya.

__ADS_1


__ADS_2