WSIM Jilid 2

WSIM Jilid 2
Bab.62


__ADS_3

Revi di bawa Regi pulang kerumah nya, yang terletak di pinggiran kota, bersebrangan dengan tempat tinggal Revi dulu. Dan disini lah mereka sekarang ini.


Regi tinggal seorang diri di rumah nya yang kecil, setelah kedua orang tua nya tiada, dia menjual semua aset milik ayah nya guna memenuhi hidup nya bersama Revi.


Itulah satu alasan kenapa Regi begitu berani ingin menjual kekasih nya itu, kepada lelaki hidung belang. Toh uang nya juga akan digunakan untuk hidup mereka berdua bukan. Tetapi cara mu itu sangat lah salah Regi, masih ada banyak cara untuk bisa bertahan hidup di kota yang keras ini, tanpa mengorbankan harga diri Revi. Yang akan mampu membuat hidup nya menjadi rusak di kemudian hari.


''Loe punya mie instant gak?'' Revie berjalan menuju kearah dapur, setelah dia melayani keinginan Regi. Perut nya terasa sangat keroncongan sekali saat ini.


''Ada, di rak sama sawi nya juga ada tuh di kulkas'' Jelas Regi ringan, sembari menikmati kepulan asap yang keluar dari mulut nya.


''Ok, Loe mau gak? Biar sekalian gue buatin'' Ujar Revi


''Boleh'' Sahut Regi.


Revi mengambil dua bungkus mie instant di dalam rak kecil yang berada di dapur, lalu membuka kulkas yang sudah usang karna termakan waktu itu, guna mengambil sawi hijau. Di rebus nya mie tersebut lalu di masak hingga siap.


Revi pokus memotong-motong sawi untuk di jadikan toping, hingga sebuah tangan kekar melingkar di perut nya, dan Revi jelas tau siapa pelaku nya.


''Sayang!'' Bisik Regi setelah menjatuhkan dagunya di ceruk leher Revi.


''Hm!'' Sahut Revi malas


''Loe tinggal di mana sih sekarang?'' Ucap Regi memulai obrolan nya.


''Loe gak perlu tau Gi''


''Kenapa?''


''Karna tempat itu akan gue jadikan persembunyian gue, kalo loe mau nyakitin gue lagi kayak minggu lalu'' Revi meremat kuat gagang pisau yang sedang dia gunakan memotong sawi.


Bayangan tentang di mana Regi tega menjual dirinya ke orang asing, hanya untuk mendapatkan rupiah. Itu sangat lah menyakiti hati Revi, jika selama ini dia masih bisa memaafkan kesalahan Regi, yang selalu memakai tubuhnya sebagai pemuas saja, tetapi tidak untuk itu.


''Vi, gue minta maaf soal itu. Gue gak akan lagi berpikir untuk ngejual tubuh loe lagi, sekarang gue sadar kalo loe itu cuma milik gue'' Regi makin mengeratkan pelukan nya di perut rata Revi.


Revi tersenyum sekilas mendengar kata-kata manis yang keluar dari mulut Regi, itu yang selalu bisa meluluhkan hati nya, sekeras apapun dia membenci dan menjauhi Regi, itu hanya sia-sia saja. Bukti nya sampai sekarang dia masih bersama Regi bukan.


''Awas ah, ini mie nya udah siap. Gue mau makan dulu, laper'' Ujar Revi sekena nya, tanpa mau menyahuti ucapan Regi yang tadi.


Regi melepaskan lilitan tangan nya, dan berjalan lebih dulu kearah meja kecil yang mereka jadikan sebagai meja makan. Revi melihat tubuh Regi yang hanya berbalut ****** ***** saja.


''Ck, loe gak punya malu? Atau urat malu loe udah putus, sana gih pake celana. Risih gue liat nya'' Sentak Revi ketus, dan berusaha memalingkan pandangan nya.


Regi tersenyum jahil kearah Revi, dia tahu jika Revi sangat tidak bisa melihat tubuh polos nya. Lihat saja rona di pipi nya sudah mulai menunjukan warna merah pekat.

__ADS_1


''Iya, gue pake celana. Takut banget gue di liat orang lain dalam keadaan begini'' Sahut Regi yang sudah pergi kearah kamar nya guna mengambil celana pendek.


Mulut Revi menganga mendengar kalimat Regi yang kepedean menurut nya..''Ishh'' Desis nya jengah.


Begitulah mereka jika sedang berdua dan tidak ada masalah yang mengganggu pikiran Regi, semua akan terlihat normal dan baik-baik saja, bahkan Regi akan sangat perduli dan perhatian pada Revi, karna Regi merupakan pria romantis sebenarnya. Hanya saja mental nya sudah sering mengalami tekanan, sehingga melupakan fakta bahwa dirinya mencintai Revi dengan tulus.


...****************...


Di sisi lain. Keluarga besar Satya tengah berkumpul di rumah utama, ada kakek dan nenek Satya berkunjung. Mereka ingin melihat cucu menantu nya, gadis yang sudah berhasil merobohkan hati Yudha.


Mita juga ikut bergabung atas permintaan Yani, dan mau tidak mau Mita menyetujui nya. Hingga berakhir di sini dia sekarang, di rumah besar milik Yani dan Willi.


''Ayo kita makan siang dulu, Mita ayo sayang. Jangan malu-malu begitu dong'' Seru Yani pada semua keluarga nya.


''Iya tante'' Balas Mita sungkan


''Ayo sayang, kalian pasti lapar bukan? Masakan Yani enak kok, paling enak menurut Nenek'' Ujar Sari lembut, Nenek nya Satya dan Yudha.


''Bukan cuma menurut Nenek aja, menurut kita juga paling the best masakan Mama, iya gak Bang'' Sahut Satya bangga


''Heyyy, kalian mau makan atau ngerumpi terus di sana? Ayo kesini Kakek sudah sangat lapar ini'' Teriak Kakek Shaleh menggema dari arah meja makan.


''Iya-iya, ini kita kesana Kek'' Balas Yudha dengan sedikit berteriak.


Sari hanya tertawa kecil melihat cucu bungsu nya berbicara begitu, tanpa mau menegur atau melarang nya. Karna bukan hal yang tabu lagi bagi keluarga itu, jika Satya dan Kakek Shaleh selalu beradu mulut dan tidak mau mengalah. Meski begitu mereka tetap lah Kakek dan Cucu, yang mana ada kala nya Satya manja pada sang Kakek, dan Sang Kakek selalu bisa menjadi teman untuk nya.


''Tom and Jerry persi gede, mulai lagi'' Sahut Yudha malas


''Maklumi yah Mit, kalo kamu liat kekasih tengil mu itu berulah nanti di meja makan, dengan Kakek nya sendiri, mereka memang biasa seperti itu'' Lanjut Yudha memberi peringatan pada Mita.


''Iya Bang'' Balas Mita


''Iya sayang, yang diucapkan Abang kamu itu benar, tapi mereka saling menyayangi kok'' Timpal Sari, Mita hanya memgangguk dengan senyum manis nya.


''Kamu jangan ikut-ikutan yah sayang'' Sela Dinda sembari mengapit tangan kokoh suaminya itu.


''Iya, asal malam ini jadi yah'' Bisik Yudha dengan kerlingan mata nakal pada istri nya itu, Dinda sangat malu mendengar nya, bahkan pipi nya sedikit merona saat ini. Dia dengan cepat mengiyakan sebelum ada yang mendengar ucapan suami nya itu.


Mereka semua sudah bersiap untuk memulai makan siang, Yani dan Dinda dengan sigap menyendokan nasi serta lauk pada suami nya masing-masing, begitu pun dengan Sari.


Mita melihat kearah Satya yang ingin mengambil nasi, namun urung karna mendapat cekalan di tangan nya.


''Kenapa sayang?'' Bisik Satya

__ADS_1


''Biar aku aja kak, gak papa kan?'' Balas Mita, Satya tersenyum lebar sembari menyerahkan centong nasi ketangan Mita.


Semua orang tersenyum ramah, melihat aksi Mita seperti itu pada Satya, mereka tidak akan pernah membiarkan siapa pun merusak hubungan Satya dan Mita.


''Makasih sayang'' Ucap Satya


''Iya kak''


''Kalo aja kita lagi berdua, abis tuh bibir sama gue'' Bisik Satya sangat pelan, tanpa ada yang bisa mendengar selain Mita sendiri.


Mita mencubit sedikit paha Satya, karna kesal.


''Aw.. Aw. Aw. Sakit Mita'' Desis Satya, yang di balas masa bodo oleh kekasih nya itu.


Satya ingin mengambil lauk tambahan, berupa jamur enoki yang di masak dengan saur tiram.


Trang...


Suara sendok beradu, yang mana di sana juga ada seseorang yang ingin mengambil jamur tersebut.


''Eits. Kakek duluan yang dapat, wlee'' Sorak Shaleh yang sudah mengambil wadah jamur itu, untuk dia jauhkan dari Cucu nya.


''Ck, bagi gak? Atau tuh tulang peot mau aku patahin'' Sentak Satya kesal.


''Gak takut tuh'' Balas Shaleh tidak memperdulikan ancaman receh dari Cucu nya itu. Malah dia sudah memakan jamur itu langsung dari wadah nya.


''Mulai lagi deh'' Gumam Yudha


''Heh. Aki-aki reyod, jangan di habisin'' Pekik Satya, yang sudah menghampiri tempat duduk Kakek nya. Shaleh dengan kuyahan super cepat terus saja memasukan jamur enoki itu kemulut nya.


''Uhuk. Uhuk. Uhuk''


''Mampus, suruh siapa rakus, keselek kan jadi nya'' Sungut Satya ketus, dan merebut wadah jamur itu dari tangan Kakek nya. Sari memberi kan minum pada suami nya, agar bisa meringankan rasa sakit akibat tersedak itu.


''Hah hah hah''


''Kualat sama Cucu sendiri ini'' Sari ikut memojokan suami nya. Shaleh hanya merengut kesal pada Satya


Sedangkan Satya sudah menyantap jamur tersebut, dengan disuapi kekasih nya. Ingin memanas-manasi sang Kakek dengan adegan seperti itu.


''Bocah gendeng, Kakek nya mau mati malah mesra-mesraan'' Desis Shaleh dengan jengah


''Nek, ayo suapi juga'' Pinta Shaleh pada Sari.

__ADS_1


Yuni dan Willi sudah menggeleng-gelengkan kepala nya pusing, mereka tidak mengerti kenapa anak bungsu nya itu tidak bisa akur dengan Ayah nya. Selalu ada saja bahan yang akan menjadi perdebatan mereka.


__ADS_2