
Mita dengan kasih sayang yang besar, terus saja memanjakan kekasih hatinya hari ini. Menyuapinya makan, memijat bagian-bagian tubuhnya yang terasa pegal, dan masih banyak lagi.
Seperti saat ini, Mita tengah mengusap lembut kepala Satya yang berada dikedua pahanya.
''Sayang! Cape'' rengek Satya dengan suara yang teredam, sebab wajahnya berada tepat diperut rata milik Mita.
''Kan ini lagi istirahat, mau aku pijit lagi, hm?'' balas Mita
''Gak perlu sayang'' Satya mengambil tangan halus Mita untuk dia kecup.
''Loe ada disini aja udah buat gue seneng banget, makasih yah Mit. Loe udah perhatian sama gue'' lanjut Satya
Mita tersenyum sangat manis..''Gak perlu berterima kasih segala kak, aku ini kan pacarnya kakak. Wajarlah aku perhatian sama kekasih tampan ku ini'' ujar Mita sembari memencet hidung mancung Satya.
''Hi hi hi'' tawa mereka terdengar sangat hangat. Satya menuntun wajah Mita agar terus mendekat pada wajahnya, seketika pandangan mereka terkunci.
Entah siapa yang memulai, yang pasti kini kedua benda kenyal itu sudah saling bertemu, bahkan saling membelit satu sama lain. Seolah mereka sedang menyalurkan rasa sayangnya terhadap seorang kekasih.
Tanpa mereka ketahui, jika perbuatan mereka berdua tengah diawasi oleh seseorang. Namun! Itu bukan suatu masalah, mengingat siapa yang mengintainya saat ini.
''Loe jangan pulang dulu yah, kan nanti malam mau ikut kerumah'' ujar Satya setelah melepaskan tautan nya. Terlihat wajah Mita memerah akibat hal tersebut
''Loh! Siapa yang bilang?'' tanya Mita
''Gue! Dan loe gak bisa nolak. Ini perintah langsung dari calon mertua sayang'' ujar Satya ringan, dia memulai kembali pekerjaan nya dengan membawa Mita diatas pangkuan nya.
''Calon mertua?'' Mita mengulang kembali kalimat Satya.
''Yaps! Karna loe kan calon menantu idaman dirumah William'' terang Satya.
''Ha-h?'' Mita tidak bisa berkata-kata lagi. Jujur hatinya sangat senang mendengar ucapan yang dilontarkan kekasihnya itu. Secara tidak langsung Satya telah melamarnya barusan.
''Kenapa tuh muka merah banget? Malu atau senang.'' ujar Satya menggoda kekasihnya. Sontak Mita langsung menelusupkan wajahnya keleher Satya.
''Ih kakak. Udah tau malu, kenapa masih ditanya sih, makin malu tau'' rengek Mita yang mampu membuat Satya tertawa renyah
''Ha ha ha. Ada yang lagi malu nih''
Krekk....
Pintu ruangan dibuka dari arah luar, jelasnya dibuka oleh Anggi.
''Ya salam! Kerja woy kerja. Jangan pacaran mulu, ampun dah'' Pekik Anggi saat melihat keharmonisan Satya dan Mita. Padahal dirinya pun tidak jauh berbeda dengan Satya, bucin terhadap kekasihnya 'Gita'.
''Eh, kuy*k! Sadar diri napa? Selama hampir dua jam loe sama Gita kemana aja. Bukan nya kalian pacaran'' sentak Satya dengan menatap holor kepada Anggi.
__ADS_1
''He he. Gue dari resto sebrang Sat! Emang iya gue keluar selama itu? Perasaan baru sebentar deh'' ujar Anggi dengan tawa konyolnya.
''Ck'' decak Satya malas.
Tak lama Samuel datang bersama Yuri, dengan bergandengan tangan. Jangan lupakan dengan senyum lebar yang terpancar indah dikedua sudut bibir mereka.
''Beuh! Dunia serasa milik berdua yah gaes yah? Yang lain pada ngontrak mungkin'' ujar Anggi lantang, berniat menyindir Samuel.
''Iya dong! Loh, kok Satya bisa lebih mesra sih dibanding kita?'' ucap Samuel yang melihat posisi Satya dan Mita saat ini. Jelas dia tidak mau kalah dengan Satya dan Mita
''Gak penting El. Mending loe buruan dah kerja, sebelum emak loe datang kemari. Katanya tante Sarah mau kesini sebentar lagi'' ujar Satya sekenanya.
''Serius loe Satya?'' tanya Samuel
''Hm'' balas Satya singkat
''Mampus! Gue kudu cepet-cepet kerja kalo gitu, bisa kena ceramah sampe subuh gue ntar'' Samuel panik kala mendapat informasi itu dari Satya.
''Sayang! Kamu mau pulang sekarang atau nanti?'' tanya Samuel pada kekasihnya.
''Sekarang aja El, soalnya udah sore juga. Takut mamah nyariin juga'' balas Yuri ramah
''Yasudah! Bareng aku aja mau gak?'' sahut Gita yang berniat akan pulang juga saat ini. Yuri mengangguk antusias sebagai jawaban
''Aku nanti bareng kak Satya Git, soalnya ada satu urusan dulu'' jawab Mita tersenyum manis. Gita dan Yuri mengangguk mengerti
''Yasudah, kamu hati-hati yah sayang'' sela Anggi pada Gita. Mereka saling berpelukan sebelum Gita pulang. Begitupun dengan Samuel dan Yuri
''Bye''
''Bye''
Gita dan Yuri kompak melambaikan tangannya. Tinggal lah mereka berempat didalam ruangan tersebut, Mita membisikkan sesuatu pada telinga Satya.
''Yang tadi kakak ucapkan, bohong atau enggak?'' bisik Mita.
''Menurut loe?'' balas Satya yang sudah mengeratkan pelukannya pada pinggang ramping Mita.
Mita mencebikkan bibirnya tidak suka, selalu saja seperti itu pikir Mita. Kekasihnya itu sangat senang sekali mengerjai sodaranya itu.
Duk...
Anggi menendang pelan kaki Satya dibawah meja, karna posisi meja Anggi berdekatan dengan meja milik Satya.
''Apaan?'' bisik Satya. Tidak menjawab, Anggi justru melemparkan kertas yang dia kepalkan ditangan nya.
__ADS_1
Puk...
Kepalan kertas tersebut mendarat diatas papan ketik milik Satya. Satya mengambil kertas tersebut untuk dia baca.
''Loe lagi kerjain si El, atau itu suatu kebenaran?''
Begitulah isi dari kepalan kertas itu, Satya menyunggingkan senyuman nya saat itu juga. Lalu dia memberikan kode tanda silang dengan kedua jarinya.
''Ha ha ha'' seketika Anggi tergelak kencang. Satya memutar matanya jengah, kala melihat reaksi Anggi. Sedangkan Samuel sudah menatap Anggi dan Satya secara bergantian
''Napa loe pada?'' sungut Samuel menyelidik
''Napa? Emang kita kenapa yah, gak ada tuh'' alibi Anggi dengan tawa diakhir kalimatnya.
Samuel menatap curiga pada Anggi, namun dia tidak mendesak Anggi untuk berbicara jujur. Sebab itu akan sia-sia saja menurut Samuel
Mereka kembali fokus pada pekerjaan nya, sedangkan Mita sudah bergerak bangkit dari pangkuan kekasihnya, dia berjalan kearah sofa guna mengistirahatkan tubuhnya.
...****************...
Revi berjalan cepat menuju ketempat para pekerja yang ada divilla milik Kenan. Dia melihat ada dua orang wanita yang tengah berbicara diarea dapur.
Segera dia menghampiri mereka, guna bertanya.
''Permisi! Kalian lagi sibuk gak?'' sapa Revi mencoba bersikap ramah.
''Iya, ada apa yah mbak?'' tanya salah satu dari pekerja disana.
''Mau tanya boleh'' ujar Revi yang dibalas anggukan kepala oleh mereka.
''Pemilik Villa ini, ada hubungan apa yah sama perempuan yang pernah menabrak saya? Mbak masih ingat kan sama kejadian lima hari yang lalu'' terang Revi lagi, karna salah satu dari pekerja itu pernah menyaksikan kejadian tersebut.
Kedua pekerja tersebut saling pandang, dengan tatapan menyelidik.
'' Pokoknya dia gak boleh tau identitas nona muda yang sebenarnya, apalagi dia kelihatan rese sama nona Key'' suara hati dari salah satu pekerja itu.
''Maaf! Mbak, saya tidak tahu'' balasnya secara halus. Temannya langsung mengerti tanpa bertanya.
''Masa sih kalian gak tau? Kalian kan pekerja tetap disini kalo gak salah'' ucap Revi tidak percaya.
''Meski begitu, kita tetap tidak tahu mbak. Kita permisi dulu mbak, mau lanjut kerja lagi'' terangnya kembali.
Mereka pun segera pergi dari hadapan Revi, meninggalkan Revi yang tengah merengut sendiri.
''Sial! Masa sih mereka pada gak tau, sedikit janggal deh'' gumam Revi masih sulit untuk percaya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Selain mencari orang yang tepat untuk dimintai tanya olehnya.
__ADS_1