
Pagi itu Nina segera bergegas pergi untuk mengikuti interview. Sebelum berangkat Nina meminta restu kepada kedua orangtuanya. Dengan semangat dia ingin memulai kehidupan yang baru, yang lebih baik bersama kedua orangtuanya dikota kelahirannya.
Sampailah Nina berada di sebuah Kantor yang menjulang tinggi dan itulah tempat nantinya dia interview. Nina segera melangkah dan tak lupa membaca "bismillahirrahmanirrahim". Semoga diterima.
Nina menunggu di ruang tunggu khusus untuk interview calon pegawai baru. Beserta dengan calon pegawai lainnya. Dia harap - harap cemas, Giliran Nina dipanggil oleh bagian HRD.
*interview berjalan lancar *
Bagi yang lolos akan dihubungi lewat telpon oleh HRD. Nina segera bergegas. Dengan senyum merekah dia meninggalkan kantor dengan perasaan lega. Apapun hasilnya dia sudah berusaha.
Saat Nina berdiri di depan kantor, Tak sengaja mobil Mas Tian sedang hendak parkir. Mas Tian menatap Nina seperti tak percaya.
" Nina ! " sambil ngucek - ngucek matanya seakan tak percaya. Bidadari yang dirindukan telah ada didepan mata.
Mas Tian bergegas hendak keluar mobil. Tapi saat dilihat lagi sosok Bidadari yang dirindukan sudah tidak ada. Mas Tian seketika lemes dan tak percaya.
Mas Tian hanya bisa nelan pahit kekesalannya. Waktu yang dinanti dapat berjumpa dengan Nina hilang begitu saja.
🌷🌷🌷🌷🌷
" Mamah.....Nina diterima mah! " Seru Nina riang.
" Alhamdulillah Nin, selamat ya ...wah bisa mamah sama papah dapat traktir dong." goda Bu Anna.
"Siap mah." Nina mencium dan memeluk mamahnya.
Nina sudah tak sabar untuk besok pagi mulai berangkat bekerja. Setidaknya dengan menyibukan dirinya bisa melupakan rasa sakit dan kecewa bagaimana menemukan calon suami indehoy dengan cewek lain
*flashback*
Tepatnya tanggal 16 Agustus hari Sabtu, Si Erlang kutu kupret ngajak ketemu. Dia ingin mengajak Nina bermalam dan menginap di sebuah hotel. Nina pastinya menolak. Dia tidak mungkin melakukan itu. Pikirannya mulai mengarah pada hal - hal yang buruk.
__ADS_1
Nina menjalani perjodohan ini karena keluarga dan dirinya mengganggap Kak Erlang adalah laki - laki baik. Apalagi sudah kenal lama.
Erlang yang penuh kekesalan mulai marah dan hampir memaksa mencium Nina. Nina yang polos terus menolak. Akhirnya mereka bertengkar hebat. Nina punya prinsip ingin menjaga semuanya sampai syah dan halal.
Erlang yang penuh amarah meninggalkan Nina begitu saja. Akhirnya Nina pulang jalan kaki dari rumah Erlang. Nina merasa dadanya sangat sakit diperlakukan seperti itu. Bukan karena dia kolot atau kuper. Dia sepenuh hati menjalankan wanti - wanti dari orang tua. Agar tidak gampangan bila hendak dilecehkan laki - laki.
"Hello apakah ini Nina. " suara dari sebrang sana terdengar jelas.
" Iya, betul. Maaf ini siapa ya?" tanya Nina penasaran karena suara dan no. telponnya asing.
" Aku Heni, Maaf saya mengganggu waktu mu." suara dia mulai serak parau seperti orang habis menangis.
" Ada yang bisa Nina bantu kak? " tanya Nina penasaran.
" Bisa Ketemu sore ini di restoran Lezat? "
" Apakah ada hal yang sangat urgent kak?"
" Iya , ini kaitan dengan tunanganmu."
Nina semakin penasaran, What wrong sama tunangannya yang tadi seperti kesetanan marah - marah karena ingin melakukan making love dengan Nina.
1 jam berikutnya Nina sudah berada di meja dimana di depannya ada wanita cantik dan terlihat anggun. Mereka berdua saling berjabat tangan dan menyebut namanya.
" Nin, Maaf yaa aku mengajakmu datang ke sini. Cepat lambat kamu harus tahu Nin." Heni memulai percakapan karena suasana masih terasa kaku.
" Iya kak, Kalau misal ada hal yang penting silahkan disampaikan. Karena Nina nanti malam ada acara dengan keluarga."
" Tapi maaf, tolong kamu jangan membenci dan jijik dengan aku. Aku adalah korban dari kebodohanku." Heni menangis pelan karena suasana restoran Lezat yang masih sepi dan tempatnya outdoor.
" Kak kenapa menangis? Minum dulu kak." Nina memberikan segelas air minum. Heni menengguknya pelan kemudian meletakkan gelasnya dan bernafas panjang - panjang.
__ADS_1
" Erlang adalah laki - laki brengsek. Kenapa kamu mau menikah dengan dia?" tanya Heni sedikit nada tinggi, sedih dan ingin marah.
" Maaf kak, Apakah kamu punya hubungan spesial dengan Erlang?
" Lebih dari itu Nin. Aku Hamil anaknya Erlang. " seketika Heni menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Oh no....ini mimpi atau nyata. Nina terbengong-bengong mendengar dan melihat wanita yang ada didepannya sedang menangis mengadu nasibnya yang sedang hamil anak dari calon suaminya. Dalam batin Nina wih brengsek sekali di Erlang.
" Awalnya aku tidak curiga Nin, sampai pada akhirnya aku tahu sebulan yang lalu kalau kamu sudah tunangan dengan dia.
" Nina Tunangan dengan Kak Erlang karena keluarga dia yang meminta."
" Semua tergantung pada kamu Nin, mau kamu teruskan sampai ke pernikahan atau tidak. Aku minta maaf bukan maksud hati aku menganggu dan merusak hubungan kalian. Kamu dan keluargamu harus tahu siapa si Erlang itu. Mungkin keluarga Erlang adalah keluarga terpandang dan baik. Bisa saja Erlang memiliki sifat buruk yang bertolak belakang dengan kedua orangtuanya."
" Apakah Kak Heni pernah datang menemui kedua orangtuanya."
" Iya tapi mereka menolakku."
Nina merasa tak tega dengan nasib gadis cantik didepannya itu. Terlihat jelas wajahnya nelangsa dan sering kali airmata tumpah tak terkendali Dari mata yang indah itu.
" Maafin Nina ya Kak, Nina hadir dihubungan kalian."
" Bukan salah kamu Nin. Aku akan mengajak kamu ke sebuah Hotel. Jujur saja aku mencium kebusukan Erlang dan aku menyadap HPnya. Benar saja sekarang dia janjian sama perempuan lain di Hotel."
Nina dan Heni menuju hotel itu. Dalam kondisi seperti itu Heni masih sanggup nyetir. Nina harap - harap cemas. Semoga tidak terjadi apa - apa."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ceritanya makin panas reader....tunggu episode selanjutnya yaa...
Makin sayang sama kalian semua.....😘😘💜💜💜
__ADS_1