
Selama di perjalanan dari kantor menuju ke gedung kampus baru yang akan dikerjakan, mereka hanya diam seribu bahasa. Sering kali Mas Tian curi - curi pandang. Sedangkan Nina tampak canggung dan sering salting. karena sangat tengang Nina lupa membuka tutup botol saat hendak minum air mineral.
" Tutup botolnya belum di buka Yasmina." kritik Mas Tian pelan.
Wajah Nina semakin memerah bagaikan buah kesemek.
" Iya, Pak. Maaf.Makasih. " kata Nina sambil garuk kepala padahal sebagai alibi untuk menghilangkan kegugupannya.
" Yasmina, desain kamu bagus tapi ada beberapa poin kedetailan yang kurang tepat. "Kata Mas Tian untuk mencairkan suasana.
" Makasih Bapak." jawab Nina Singkat
" Dulu kuliah dimana? "
" Di Semarang aja pak." jawab Nina seakan apa yang ada dihatinya jauh lebih indah dan lembut yang kontra dengan apa yang diucapkan bernada ketus singkat. Karena dia tidak tahu dengan apa yang dia rasa.
" O.K sudah sampai, semoga hari ini lancar. jangan lupa safety helm-nya dipakai."
" Siap Bapak." Kata Nina segera keluar dari mobil dan mulai mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Mas Tian yang melihat sikap Nina tertawa kecil tanpa suara.
Nina dan Mas Tian sudah siap untuk berkeliling, Para pekerja Bekerja dengan giat. Mereka bekerja untuk keluarga tercinta. Bekerja di proyek bukanlah pekerjaan yang mudah dan ringan. segala tenaga dan pikiran harus benar - benar konsentrasi. Kalau tidak fokus bisa saja nyawa jadi taruhan. Apalagi Bangunan yang akan mereka bangun adalah sebuah bangunan untuk gedung Pascasarjana dan Auditorium.
Mas Tian sangat sibuk hingga lupa bahwa disampainya ada Nina. Nina merasa haus dan ijin untuk membeli minum ke kantin.
Karena suara mesin molen pengaduk semen mulai menderu, Mas Tian tidak terlalu jelas mendengarkan kata - kata Nina.
🌷🌷🌷🌷🌷
sudah 2 jam lebih Nina tidak kembali. Mas Tian mulai mencari dimana keberadaan Nina. Kebetulan Mas Tian tidak tahu berapa no. Hp Nina.
Sedangkan Nina sudah kenyang setelah makan bakso dan segelas es teh di kantin. Dari kejauhan Nina rindu berada di sebuah tempat di kampus itu. Kaki melangkah menuju sebuah tempat penuh kenangan.
Kondisi kampus sepi kebetulan para mahasiswa sedang liburan semester. Nina menatap sebuah bangunan yang tak asing untuknya. Nina menuju sebuah Kursi yang dari beberapa tahun hingga sekarang tidak berubah. Nina duduk sesaat tenggelam dalam nostalgia selama berada di kampus itu.
Dari kejauhan Mas Tian melihat Nina yang sedang duduk melamun. Kemudian Mas Tian melangkah mendekati Nina.
__ADS_1
"Kamu saya cari kemana - mana malah duduk disini." bentak Mas Tian.
Nina kaget dan spotan menjawab :" maaf pak."
Nina beranjak berdiri berada di beberapa langkah dari hadapan Mas Tian.
" Pengecekan sudah selesai, semua berjalan lancar. "
" O.K. "
" Yasmina kamu kalau saya ajak bicara kenapa jawabnya singkat - singkat? " tanya Mas Tian kesel
" Bukan soal uraian kan bapak? jadi saya tidak perlu jawab panjang. " kata - kata Nina makin aneh dalam hatinya mengumpat dirinya sendiri karena selalu berkata salah tak seperti apa yg diharapkan dan dipikirkan.
Nina melangkah pergi hendak mengambil beberapa barang yang dia tinggalkan tadi di pos.
" Mau kemana?" jawab Mas Tian agak kencang
" Ke Pos." Hati Nina makin dag Dig duh sambil melangkah berpaspasan dengan Mas Tian.
" Maafkan saya Bapak." Jawab Nina berhenti dan tertunduk.
" Bapak - Bapak, emang saya sudah tua banget dipanggil bapak - bapak melulu."
" Bukan begitu pak, ...." Jawab Nina hati - hati agar tidak salah omong lagi.
"Mau pergi ninggalin aku lagi?" Suara Mas Tian semakin tegas membuat Nina berbalik arah.
" Maksud Bapak?"
" Bukankah di Sini dulu kamu Ninggalin saya? Bukankah disini pula kamu mengatakan meminta waktu untuk memberikan jawaban?"Mas Tian mulai mendekati Nina. Kini mereka saling berhadapan. Sedangkan Nina tertunduk Malu.
" Siapa bapak sebenarnya?" kata - kata Nina makin aneh.
" Yasmina, iya...Nina apa kamu sudah lupa dengan diriku."
__ADS_1
Nina tak dapat lagi membendung air matanya. Seketika mengalir.
" Maafkan saya." suaranya mulai parau.
" Aku menunggu mu disini Nin tanpa tahu kepastian kapan kamu memberi jawaban itu. Bukan caranya seperti ini kalau kamu tidak mau membalas perasaanku. katakan aku akan menerima apapun itu."
Nina makin galau, hatinya kini makin resah karena bos yang ada didepannya adalah sosok Mas Tian tampan dimana hubungan cinta bersamanya Belum terselesaikan karena belum ada jawaban dari Nina.
" Maafin saya Mas, Nina melakukan ini karena...."
perkataan Nina terpotong oleh mas Tian.
" Devi? Kamu menghancurkan perasaanmu demi orang yang hampir saja membunuhmu. Kamu egois Nin. Hanya memikirkan perasaan oranglain tapi tidak pernah menghargai perasaanmu sendiri. Bodoh itu namanya."
Nina Benar - benar terkejut dengan apa yang dikatakan Mas Tian.
" I am still love you" batin Nina walaupun dia sempat hampir saja menikah karena perjodohan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
.
.
.
.
.
♥️♥️♥️♥️♥️
**jangan lupa vote , like and share ya readers....
love you all.q**
__ADS_1