
Nina dan Diah segera menuju ke Perpustakaan Utama. Diah selalu nerocos soal Devi. Nina hanya mendengarkan dengan baik. Sejujurnya hatinya sakit selama hampir 1 semester hari - hari Nina diisi dengan kehadiran Mas Tian.
walaupun sejujurnya Nina merasa pernah bertemu Mas Tian saat Nina berlari - lari mau mengumpulkan berkas pendaftaran. kemudian kesempatan kedua saat Ospek untuk Mahasiswa baru. Nina hanya melihat sosok Mas Tian kejauhan. Nina terkesima akan karismatik yang terpancar dari Mas Tian.
Mas Tian Cowok yang wajahnya bersih, alisnya hampir menyatu, hidungnya mancung, bibirnya terlihat merekah merah ala kadarnya bibir laki - laki. sorot matanya tajam. Tingginya sekitar 178 cm sedangkan Nina hanya 165 cm. Saat berjalan bersama perasaan Nina terasa teduh ...iya teduh tidak terkena sinar matahari karena sering bersembunyi dibalik tubuh Mas Tian yang tinggi.
Mungkin Tuhan meridhoi pertemuan Nina dan Mas Tian. Karena pertemua ketiga terjadi saat Nina jadi temen sekelasnya. saat itu Nina sangat terbantu dengan adanya Mas Tian.
Sampailah Nina dan Diah di teras Perpustakaan Utama. terlihat sosok yang sedang dibayangkan Nina.
" Hey Nin, Hey Diah?" sapa Mas Tian dengan sopan dan manisnya.
" Hey , Mas Tian. what are you doing in here?" balas Diah.
" I am waiting you." jawab Mas Tian dengan senyum manisnya membuat Hati Nina dan Diah bergetar.
" You are waiting me. you aren't?" gaya Diah salah tingkah
" Bukan kamu tapi Nina. hiks hiks hiks...." .Mas Tian tertawa dengan renyahnya serenyah Pastel abon bikinan mamah.
" Gimana Mas Tian, Ada perlu apa?" tanya Nina dengan kalemnya.
Mas Tian melirik Diah. Diah sadar kehadiran bisa jadi obat nyamuk, Makanya dia pamit ke masuk ke perpus sekalian ngadem biar nikmati sejuknya AC perpus.
__ADS_1
" Nin, Sebenarnya aku sudah mulai nyaman sama kamu, aku mulai menyukaimu, bisakah kamu menerima ketulusan cintaku? I love you Nin." kata - kata Mas Tian memecah lamunan Nina.
Namun pikiran Nina semakin melayang - layang ke udara. Nina hanya diam dalam kegalauan hatinya.
"Nin, mungkin ini terlalu cepat. Tapi aku tidak bisa memendamnya. Disini terasa sakit." Mas Tian meraih tangan Nina dan membawanya di dada yang amat bidang dan wangi itu.
Andai tidak kondisi seperti ini, Nina ingin meletakkan Kepalanya yang teramat berat di dada Mas Tian.
" Kalau kamu Ndak bisa jawab sekarang Ndak papa Nin. Mas akan menunggu entah jawaban kamu iya atau tidak."
deg
deg
deg
" Mas, Nina hargai perasaan Mas Tian. Tapi apakah mas Tian tahu disini ada cewek yang sangat sayang sama kamu. Dia bela- belain dari Bandung menyusul kamu kuliah disini juga."
" Devi ! dia yang kamu maksud Nin?" tanya Mas Tian dengan tegas dan melepaskan genggaman tangannya.
Nina hanya menganggukkan kepala dengan wajah memelas agar mas Tian tidak tersinggung.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
jam dinding sudah menunjukan pukul 02.00 pagi hari. Tapi Mas Tian belum terlelap. Pikirannya teramat kacau. Kenapa harus ada Devi diantara mas Tian dan Nina.
" Andai Devi orang baik pasti aku memberi kesempatan. Tetapi hati dan feelingku mengatakan tidak bisa." guman Mas Tian bangkit dari tidurnya.
Mas Tian segera mengambil wudhu dan solat malam. Agar hatinya tenang iya sajadah adalah tempat bersandar saat manusia merasa lelah dan kecewa.
Karena tidak bisa tidur dia hanya bisa membuka Al Qur'an dan tadarus semampunya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
.
.
.
.
.
♥️♥️♥️♥️♥️
Cinta datang tiba tiba tak bisa disangka - sangkakan.
__ADS_1
happy weekend para reader....yuk yang jomblo jangan galau. banyakin baca novel biar dapat inspirasi dan menghibur mu .
salam sayang dariku....😘😘😘💜