Yasmina

Yasmina
27. Dinda yang berhati malaikat


__ADS_3

" Nin, Jaga Tian ya. Dia laki - laki yang baik. Sebenarnya Dia udah falling in love sejak kuliah dulu. Tapi kamu -nya yang menghindar terus. Tapi syukurlah kalian bisa bersatu. Jodoh tak akan kemana."


" Mbak Dinda seperti dekat sekali dengan mas Tian." Kata Nina sambil menatap gadis yang begitu lembut.


" Sejak SMP aku udah besar bareng di Bandung bareng sama dia Nin, Karena Orangtuaku masih tugas di Papua, karena aku punya penyakit dan harus rutin periksa ke rumah sakit. Jadinya aku disuruh tinggal sama Pakde."


"Mbak Dinda juga dulu satu SMA sama mas Tian ya?"


"Iya Nin. Hanya beda kelas aja. Tiap berangkat dan pulang selalu bareng. Dikira kami pacaran."


" Mungkin terlihat serasi, mbak."


" Iya sampai ada wanita jahat yang terus membuntutiku, mengacamku dan sampai pada titik terendah aku mengalami kecelakaan dan kehilangan satu kakiku, Karena tak bisa diselamatkan."


" Sebegitu mengerikannya mbak? SMA adalah masa putih abu yang menyenangkan." sahut Nina sedikit ngeri.

__ADS_1


" Nin, usia boleh putih abu. Tapi apabila ada kepentingan bisnis. Apapun akan dilakukan. Ambisi yang membara akan menghalalkan segala cara."


"Maaf yaa mbak mungkin Nina membuat mbak Dinda mengingat masa lalu yang tidak menyenangkan itu."


Dinda tersenyum manis. Dia membelai rambut Nina yang sebahu dan berwarna coklat itu.


" Nina, Mbak titip Tian ya."


" Ih mbak Dinda. Pakai acara titip mas Tian. Dengan senang hati Nina akan selalu menjaga dan mencintainya."


Selang beberapa menit kemudian Mas Tian dan Tante Nuke pulang setelah membeli beberapa makanan untuk disantap ditengah gerimis sore di kota Gudeg, Iya kota Jogja yang menawarkan seribu rasa nyaman dan kedamaian.


🌷🌷🌷🌷🌷


pukul 11 malam mas Tian dan Nina sudah sampai di garasi. Mas Tian melihat istrinya yang tertidur nyenyak tak sampai hati membangunkannya. Dia segera keluar mobil dan menggendong istrinya ala bridal dan membawanya ke kamar atas.

__ADS_1


"bye bye kamar bawah. Nina tidur di atas dulu ya." mas Tian cekikikan karena geli sikap Nina kalau ngambek tidur dikamar bawah.


Mas Tian dengan sabar melepas sepatu dan jaket Nina. Nina agak tidak enak badan karena selama diperjalanan pulang maagnya kambuh. Mas Tian segera menggantikan bajunya dan menyelimuti tubuh mungil Nina.


Setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju, Mas Tian segera tidur memeluk istrinya. Tak henti-hentinya dia mencium kening, pipi dan bibir Nina. Tangannya tak berhenti membelai rambut Nina dan menjelajahi wajah Nina yang terlihat begitu cantik saat terlelap.


Mas Tian merasa lega setelah mempertemukan Dinda dan Nina. Dinda adalah sepupu yang baik. Dinda yang memiliki nasib malang hanya karena salah sasaran atau Memeng terjadi kesalahpahaman yang membuat Dinda dicelakai orang lain.


Tian menghela nafas panjang. berharap sepupunya segera menemukan pasangan hidup yang bisa menerima Dinda apa adanya. Tian tidak bisa berbuat banyak untuk Dinda. sedangkan Dinda sering kali menolong Tian. seperti halnya saat Tian membutuhkan donor darah. Dinda dengan sigap mendonorkan darahnya. Yang kebetulan mereka memiliki golongan darah B+.


Dan Tian merasa bersalah karena dirinya, tidak bisa menolong Dinda saat dia mengalami kecelakaan. terlebih saat Dinda harus kehilangan kaki kirinya. Karena terjadi kerusakan dan tidak bisa diselamatkan lagi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


hey reader jangan lupa vote ya....

__ADS_1


__ADS_2