
Liburan semester sudah usai, saatnya mulai aktif di kampus dan bergelut dengan tugas. Mas Tian sudah pulang dari Bandung beberapa hari yang lalu. Tapi hanya berkomunikasi lewat what's up.
Awal di Semester 6 ini, Nina ingin lebih sungguh-sungguh. Dia sangat bersyukur dapat IPK yang sangat - sangat memuaskan, yakni 3,96. Tentu saja Mamah dan papah sangat bangga pada Nina.
Nina sejenak melamun. Dalam angannya membayangkan hari - harinya yang akan terasa sepi. Mas Tian pastinya sudah semester 8 dan akan segera Lulus. waktu 6 bulan pasti akan sangat pendek.
" Nin, Nanti ketemu sebentar tas." WA dari mas Tian.
" Iya Mas, Dimana?" balas Nina gercep
" Di perpus utama."
"O.K."
🌷🌷🌷🌷🌷
Saat ini Nina sedang asyik beli roti bakar sama Diah. Bagi mereka berdua roti bakar di depan kampus itu sangat sangat weeenaakkkk.....
" Diah, Nanti temeni aku ke perpustakaan yaa. Ada sesuatu yang penting."
" Mau nggak ya? bayarannya buat aku apa Nin?".
" Ya elah....ini bocah. Ini aja udah aku beliin roti bakar masih minta bayaran hanya jalan berapa meter!"
__ADS_1
" Sapa tahu nanti siang ak ditraktir Bakso depan Kampus. ha ha ha ha ...." tawa Diah merasakan gratisan itu sangat bermanfaat bagi mahasiswa perantauan.
" Gampanglah." sahut Nina
" Nina!" Seru Devi dari seberang sana yang berlari menuju Nina dan Diah.
" Ada apa Dev, Ngapain kamu lari - lari, slow gitu lho." sahut Nina sambil heran melihat wajah Devi yang amat serius.
"Nin , aku butuh bantuanmu, please!"
"Devi menceritakan segala isi hatinya mengenai Mas Tian. Sesaat wajah Diah terbengong-bengong mendengar cerita Devi. Diah tahu betul kalau Nina dan Mas Tian ada rasa. Rasa yang belum tersampaikan. Hanya menunggu waktu kapan bom itu meledak.
" Nin, Tolong kamu hubungi Mas Tian deh, ini aku WA dua padahal online tapi pesanku tidak dibalas." kata Devi dengan nada pesimis .
" Dev, sory ya aku ngomong mungkin akan menyakiti hatimu, ini Nina WA langsung dibalas. Aku tahu kamu udah usaha untuk mendekati Mas Tian. Kamu ngajak dia pulang ke Bandung bareng. Tapi apa, semua hanya penolakan." sahut Diah dengan harapan semoga Devi mengerti.
" Sudah cukup Diah. Mungkin aku selama ini cinta buta sama Mas Tian, dari SMA waktu aku dan dia 1 SMA sudah berusaha mati - Matian. Aku berharap dia bisa melihatku sedikit saja. " airmata Devi bercucuran.
"Cinta Ndak bisa dipaksa Dev, Harusnya kamu belajar dari itu. Harga diri kita sebagai cewek?" kata - kata Diah sedikit menusuk hati.
Nina hanya diam dan hatinya terasa sakit. Dia tak tahu harus bagaimana.... Sejujurnya dalam hatinya mulai menyukai Mas Tian. Mendengar cerita Devi seakan dia ingin lari. Dia tak ingin menyakiti siapa - siapa.
" Jangan Kuatir Dev, insyaallah aku bantu kamu semampuku." kata Nina menyakinkan Devi sambil memeluknya.
__ADS_1
Akhirnya Devi pamit ingin pulang karena dia merasa lelah setelah menangis tanpa menghiraukan mahasiswa lain disekelilingnya.
" Kamu gimana sih Nin, menurut aku Mas Tian itu ada rasa sama kamu. Kug kamu malah gitu. " tukas Diah sambil menarik tangan Nina.
" Aku harus giman Diah? Ndak mungkin aku teman makan temen. ha ha ha ha...." elak Nina ingin menunjukan hatinya kuat.
"Tapi kamu ikhlas kalau mas Tian sama Devi? " tanya Diah.
" Semua tergantung Mas Tian. Aku hanya bertugas membantu Devi." jawab Nina.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
.
.
.
.
.
hey honey bunny sweety ada Ndak ya reader yang mengalami hal seperti Nina??? Sabar ya.....hiks hiks hiks....sakit sih tapi ikuti aja alur yang sudah disiapkan Tuhan. pasti endingnya happy
__ADS_1