
" Mas maaf, Nina ingin menanyakan suatu hal." tanya Nina sedikit ragu dan menatap suami tampannya yang sedang menyetir.
" Apa itu sayang?" tanya Mas Tian lembut sambil mencium tangan Nina.
" Dinda itu siapa mas? Maaf Nina menemukan foto Dinda dilaci beberapa Minggu lalu."
Mas Tian tersenyum kecil dan masih fokus menatap jalan. Tanpa aba - aba arah mas Tian yang harusnya menuju rumah malah berbelok menuju jalan tol.
" Lho kug ke jalan tol mas? kita mau kemana? " tanya Nina kuatir merasa mulai takut apabila salah dengan pertanyaannya.
" Nina tanyakan soal Dinda. Kita akan ketemu Dinda sayang. Apakah benar kamu ngambek sama mas karena Dinda?" tanya mas Tian mulai menunjukkan wajah seriusnya karena laju mobil mulai dengan kecepatan tinggi.
" Bisa jadi iya bisa jadi tidak, karena Nina tidak tahu soal Dinda. Dan mas Tian tidak pernah cerita soal Dinda."
" Nina tidak pernah tanya, dan mungkin akan terjadi kesalahpahaman bila Nina tidak bertanya."
sejenak Nina terdiam. Karena Nina sadar apabila mas Tian tidak pernah cerita karena Nina juga tidak pernah bertanya. Sebelum menikah mereka juga sudah sepakat tidak membahas masa lalu.
" Dinda itu orang baik." Sahut mas Tian tiba - tiba membuat Nina sedikit gugup.
" Dinda cinta mas Tian di masa SMA kah? " tanya Nina sedikit cemburu
mas Tian terkekeh - kekeh mendengar kata - kata Nina.
" Nin, sejak kapan mas Tian pacaran? yang ada pacaran sebentar sama Nina langsung nikah."
" Tapi mas, kata Devi..."
__ADS_1
seketika mas Tian menatap Nina. Saat itu juga Nina merasa takut dengan tatapan tajam mas Tian.
" Devi kamu percaya Nin, harusnya kamu percaya sama suamimu, bukan sama orang lain."
" Maafin Nina yaa mas."
" Lain kali kalau ada apa-apa tanya mas dulu sebelum tanya oranglain. Karena mas tidak mau kamu dimanfaatin orang jahat."
" Mas , mas apa yaa ada orang jahat seperti itu. Itu cerita film di Indosiar kali mas." Nina ketawa sambil mencubit pipi mas Tian.
sebenarnya hati Nina terasa gusar. Mas Tian menceritakan Mantanya begitu baik didepan Nina. Rasanya hati kayak ditusuk pisau satu gudang. Tapi Nina menahan itu semua. Karena saat ini yang terpenting adalah dia harus menata hati bertemu dengan Dinda. Hanya butuh waktu singkat dari Semarang menuju ke Jogja.
Nina mencoba menikmati pemandangan disekitarnya jalan tol yang ia lewati, perbukitan Bawen yang sejuk dan rindang... setidaknya hatinya sedikit terhibur.
Mas Tian mulai memutarkan musik agar suasana menikmati alam semakin syaduh. Sekali dia menatap istrinya yang terlihat resah. Namun mas Tian ingin sekali mempertemukan Nina dengan Dinda, agar tidak terjadi kesalahpahaman terus menerus.
Gapura besar selamat datang kota Jogjakarta sudah terpampang nyata didepan Nina. Hati Nina makin tak karuan. Dia mulai kalut apa yang harus dikatakan apa yang harus diperbuat, apabila bertemu dengan Dinda nantinya.
"Oiya sayang, kita mampir ke toko buah dulu buat buah tangan. Lupa tadi tidak cari oleh - oleh khas Semarang." celetuk mas Tian membuyarkan lamunan Nina.
"Iya mas." jawab Nina singkat. Dalam batin Nina bergejolak. Segitu berharganya Dinda masih sempet mikir buah tangan. Sedangkan perasaan Nina sudah hampir meledak.
Tak lama kemudian Mobil mas Tian sudah terparkir disebuah halaman yang sangat asri karena banyaknya tanaman yang tertata rapi dan hamparan rumput Jepang.
" Ayo sayang , jangan lupa bawa buahnya ya." pinta mas Tian sambil membuka pintu mobil.
Nina mengikuti langkah mas Tian dari belakang dan mulai mengamati rumah yang teduh dan penuh kedamaian itu.
__ADS_1
Selang beberapa lama pintu rumah terbuka. Alangkah terkejutnya Nina karena melihat Tante Nuke yang membukakan pintu.
" Ya Allah Tian, Nina. Kug kesini tidak memberi kabar?" sambutan hangat Tante Nuke sambil memeluk Keponakannya itu.
"Rencana dadakan Tante. Oiya Om Sano ada Tante? " tanya mas Tian sambil menarik tangan Nina untuk segera masuk ke ruang keluarga.
" Om lagi pergi sebentar Tian. "
" Oiya Tante gimana kabar Dinda?" tanya mas Tian dengan santai tapi membuat gemetar hati Nina.
" Dinda ada Tian, Dia lagi ada di taman belakang. Ayo kita kesana."
Tanpa aba - aba mereka bertiga menuju taman belakang untuk menemui Dinda.
Dari jauhan Nina melihat seorang gadis cantik yang duduk di atas kursi roda. Dengan rambut yang terurai dan wajahnya yang nampak berseri.
" Nina, kenalkan ini Dinda."
" hei Nina, saya Dinda. sepupunya Tian. Apa kabar?"
Bagai kesambar petir disiang bolong, ditambah ketiban air Sedanau. Namun Nina merasa penasaran dan merasa bersalah atas cemburu yang tak mendasar itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
jangan lupa vote yaa....
terimakasih
__ADS_1