
Seminggu setelah pertemuan antara Evan dan Reyna malam itu, keduanya tidak lagi saling bertemu. Reyna yang sibuk dengan kuliah kedokterannya sementara Evan tengah sibuk mengurus perusahaan Papa nya. Ya setelah memutuskan untuk pensiun, Pak Hendra memberikan hak dan tanggung jawab perusahaan pada anak semata wayang nya itu.
Di sisi lain, Mama Aneu terus saja memikirkan cara agar Evan mau menikah dengan Reyna begitu juga sebaliknya. Ia tahu sikapnya ini sangat egois tapi ia tidak mau melihat anaknya yang susah move on terus menerus memikirkan kekasihnya yang sudah tiada.
Sementara tentang Reyna, di lihat dari tatapannya waktu itu ia berpikir bahwa Reyna menyukai putranya, meski belum bisa di pastikan tapi ia yakin jika cinta akan datang dengan sendirinya ketika sudah terbiasa.
"Mama sedang apa?"
Mama Aneu yang sedang melamun kaget mendengar suara bariton yang sudah pasti itu adalah suaminya.
"Papa bikin kaget saja."
"Habis dari tadi Mama melamun terus, emang lagi mikirin apa?"
"Entah lah Pah, Mama juga lagi bingung."
"Mikirin Evan?" tebak Pak Hendra
Mama Aneu mengangguk pelan,
"Sudah lah Mah jangan terlalu di pikirkan, lagi pula Evan sudah dewasa ia sudah mampu menentukan jalan hidupnya sendiri." Pak Hendra menasihati.
Mama Aneu tak menghiraukan perkataan suaminya, ia terus saja memikirkan rencana perihal Evan
"Mama punya ide." katanya tiba-tiba lalu ia menatap sang suami
"Papa juga harus ikut andil, ok." lanjutnya
Papa Hendra menghela nafas panjang setelah tahu apa yang di rencanakan istrinya.
Beberapa saat kemudian~
"Apa Mama yakin, ini akan berhasil?" tanya Pak Hendra sambil melihat istrinya itu tidur di ranjang pasien di Rumah sakit miliknya.
Mama Aneu benar-benar nekat, ia bahkan meminta petugas rumah sakit untuk mengosongkan ruangan VVIP untuk menjadi tempatnya bersandiwara, dan kebetulan ruangan itu sedang kosong.
Pak Hendra pun di buat geleng-geleng kepala dengan tingkah istrinya itu.
"Lebih baik Mama hentikan sandiwara Mama yang konyol ini." katanya
"Papa tidak usah khawatir, Papa hanya tinggal menelepon Evan dan katakan padannya jika Mama sedang sakit. Sisanya biar Mama yang tangani."
"Mama ini, nanti jika sakit beneran bagaimana?"
"Jangan gitu dong Pah, lebih baik Papa berdoa agar rencana kita berhasil."
"Ralat, ini rencana Mama, Papa hanya menuruti permintaan Mama."
__ADS_1
"Iya iya. Sekarang cepat hubungi Evan dan suruh dia datang kesini." perintahnya pada sang suami.
Pak Hendra menelepon putranya, ia menunggu beberapa saat sampai panggilannya terhubung, Ketika panggilannya di angkat ternyata yang menerima telepon adalah asisten putranya, Roy.
"Di mana Evan?"
"Dia sedang rapat Tuan besar, Apa sesuatu yang perlu saya sampaikan?" tanya sang asisten.
Pak Hendra mengatakan tujuannya pada sang asisten, setelah teleponnya di tutup Roy langsung menemui Evan yang masih rapat dan membisikkan sesuatu di telinga tuannya itu.
Evan yang mendengar penuturan asistennya nampak kaget, namun ia berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Baiklah, sepertinya rapat kali ini di cukupkan sampai di sini. jika masih ada pembahasan yang perlu di bahas nanti kalian sampaikan di rapat berikutnya, Terima kasih."
Evan menghentikan rapatnya, ia bergegas pergi ke Rumah sakit untuk menemui Mamanya yang kini sedang di rawat.
Sesampainya di sana Evan melihat Mamanya terbaring di atas kasur Rumah sakit, ia juga melihat Papanya yang sedang duduk di samping menemani Mamanya.
"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Evan pada Papanya.
"Keadaan mamah masih lemah." jawabnya sambil pura-pura sedih
"Mama sakit apa?" tanya nya lagi
Papa Hendra terlihat bingung untuk menjawab pertanyaan putranya itu, pasalnya ia hanya di suruh menelepon anaknya jika istrinya itu sakit, tanpa di beri tahu tentang penyakitnya.
Gerak gerik Papa nya itu langsung bisa di tebak oleh Evan,
Evan hanya mengangguk
"Papa keluar dulu, kamu jaga Mama mu sebentar."
Papa Hendra pergi keluar untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Evan yang akan membuatnya kesulitan, lebih baik ia mencari aman, ia benar-benar tidak pandai berakting seperti istrinya.
Evan lagi-lagi hanya menganggukkan kepala, ia duduk di samping Mama nya, memperhatikan nya tanpa berbicara dan tanpa melakukan apa pun.
Mama Aneu bingung kenapa anaknya hanya diam saja, karena merasa penasaran ia membuka matanya sedikit dan tanpa di duga Evan sedang memandangnya, buru-buru ia memejamkan matanya kembali.
"Bangun lah Mah, Evan sudah tahu jika Mama sedang bersandiwara." ucap Evan
Mama Aneu menghela nafasnya, ia kemudian bangun dan duduk di atas ranjang pasien percuma saja jika di teruskan, anaknya sudah mengetahui semuanya.
Keduanya terdiam, larut dalam pemikirannya masing-masing.
"Apa Kamu tidak bertanya, kenapa Mama sampai melakukan hal ini?" tanya Mama Aneu membuka percakapan dengan anaknya.
"Apa yang Mama inginkan?" tanya Evan to the poin.
__ADS_1
Mama Aneu hanya tersenyum, putranya benar-benar sudah berubah.
"Mama hanya ingin melihatmu bahagia, memiliki pasangan hidup, memiliki keluarga yang harmonis, tidak seperti sekarang ini, kau terlihat kesepian dan menyedihkan."
"Apa di mata Mama, Evan tampak menyedihkan?"
"Ya, sikap mu berubah dingin dan tak tersentuh, irit bicara dan tak pernah lagi ada senyuman, bukan hanya pada orang lain tapi bahkan pada Mama mu sendiri. Kau menutup mata dan hati mu dari kehidupan nyata, yang kau tuju hanya tentang masa lalu." Mama Aneu mulai menitikkan air matanya.
"Mama tahu kau sangat mencintai Hana. Bukan hal yang mudah memang merelakan seseorang yang kita cintai pergi, tapi sekuat apapun kita berjuang, seberapa banyak kita berdoa itu tak akan pernah mengubah keadaan, yang pergi akan tetap pergi."
"Kau putra semata wayang Mama, segala harapan Mama tertuju padamu."
"Mah__" Evan ikut merasa sesak ketika melihat air mata Mamanya berjatuhan.
"Benar apa kata Papa mu, kau sudah dewasa kau bisa menentukan kehidupan mu sendiri, mungkin Mama terlalu memaksakan kehendak Mama." Mama Aneu mulai beranjak dari tempatnya mencabut selang infus yang menempel di tangannya.
"Mulai sekarang Mama tidak akan ikut campur lagi tentang urusan pribadimu, lakukan lah apa yang kamu mau."
Mama Aneu hendak pergi dari ruangan, namun sebelum membuka pintu ia sempat berkata lagi.
"Maafkan Mama yang sempat menolak Hana waktu itu."
Evan tak bergeming ia hanya diam mematung di tempatnya setelah Mama Aneu hilang di balik pintu.
Pak Hendra yang hendak masuk merasa heran melihat istrinya seperti habis menangis setelah keluar dari dalam ruangan. Ia melihat sekilas putranya yang diam seperti tertegun.
Pak Hendra mengikuti langkah istrinya yang cepat.
"Mah, apa aktingnya berhasil?" tanya Pak Hendra dengan suara yang pelan.
Mama Aneu menghentikan langkahnya, ia melirik suaminya dengan tajam kemudian berjalan kembali.
"Mah, sebenarnya apa yang terjadi? kenapa Mama sampai menangis? apa ini bagian dari akting Mama?" tanya nya lagi
"Papa bisa diam tidak? hati Mama sedang berkabung saat ini." ucapnya kesal
"Berkabung? memangnya siapa yang meninggal."
Mama Aneu hanya menggelengkan kepala, suaminya ini benar-benar tidak paham situasi.
.
.
.
.
__ADS_1
maaf ya slow up, soalnya anak ku lagi sakit. mohon doanya ya, Terima kasih.
See you~~