
Di dalam mobil Rifaldi terus saja merenungkan perkataan Evan.
"Apa dia sudah menikah?, tapi jika di perhitungkan dari segi usia nya, dia masih cukup muda untuk menikah."
Rifaldi mulai ragu, rasa semangatnya untuk mencari gadis yang bernama Reyna itu seolah redup begitu saja pasalnya selama lima tahun terakhir Rifaldi selalu berharap lebih pada gadis itu, sehingga sampai saat ini ia tidak terlibat percintaan dengan gadis mana pun.
Namun kini hatinya mulai bimbang ketika ia mendengar ucapan Evan tadi.
Rifaldi menghidupkan mobilnya dan pergi dari sana dengan perasaan yang tak menentu.
***
Reyna kini tengah berada di kediaman ayahnya. Ia tampak berlari kecil menuju ke arah kamar nya yang dulu. Ia sudah tidak sabar mencari gelang itu, ia takut gelang itu tidak ada di sana dan menghilang. Berhubung kemarin bukan dirinya yang memindahkan barang-barangnya ke apartemen Evan.
Awalnya ia menganggap gelang itu biasa saja, tapi setelah ia melihat Hana memakai gelang itu rasa nya gelang itu sangat berharga bagi dirinya. Entah kenapa, perasaan itu muncul dengan sendirinya.
Bi inah sang asisten rumah tangga yang melihat putri majikannya itu jalan terburu-buru lantas mengikuti nya dari belakang.
"Neng,,"
Reyna terlonjak kaget ketika melihat bi inah sudah ada di belakangnya, bahkan ia sampai mengusap dadanya.
"Ya ampun bi, aku sampai kaget. Lagian kenapa bibi ada di belakang Reyna."
"Neng sendiri kenapa jalannya terburu-buru. Suami Neng nya ke mana?" tanya bi inah karena ia melihat Reyna datang hanya seorang diri.
"Dia masih bekerja bi." Reyna masuk ke dalam kamarnya dan mulai mencari barang yang ia cari.
"Neng cari apa?"
"Oh iya bi, Apa bibi yang membereskan barang-barangku saat aku pindah ke apartemen." ucap Reyna
"Iya, memang nya ada apa ya Neng?"
"Apa bibi melihat gelangku, gelang warna hijau?" Tanya Reyna sambil terus mencari gelang itu di setiap laci yang ada di kamarnya.
Bi inah mencoba mengingat-ingat
"Oh gelang hijau yang ada batu akiknya."
__ADS_1
Reyna sedikit tertawa ketika bi inah menyebut gelangnya dengan gelang batu akik. Reyna melihat ke bi inah, "Ya, apa bibi melihatnya?"
"Ya, kemarin bibi sempat membereskannya dan di masukan ke dalam laci sana." Ucap Bi inah sambil menunjuk laci meja rias yang ada di samping tempat tidur
"Tapi Den Reyhan memintanya, katanya dia akan memberikannya pada Neng Reyna."
Reyna sempat mengerutkan dahinya, namun di detik berikutnya ia menganggukkan kepalanya.
"Baiklah bi, terima kasih nanti aku akan menanyakannya pada Kak Rey."
"Bibi permisi dulu Neng."
"Iya bi, sekali lagi terima kasih."
Bi inah mengangguk sambil tersenyum, kemudian ia berlalu dari sana.
Setelah bi inah pergi Reyna kemudian mengambil ponselnya dan menelepon kakaknya.
Reyhan yang sedang sibuk bekerja melihat ke arah ponselnya yang bergetar, di sana tertulis nama adiknya. Reyhan terpaksa menghentikan pekerjaannya dan mengangkat telepon dari adiknya.
"Hm, ada apa?"
"Apa kakak sedang sibuk?"
"Baiklah kalau begitu, nanti saja aku meneleponnya."
"Hei aku hanya bercanda, tunggu sebentar."
Reyhan mengambil earphone di laci meja kerja dan menghubungkan earphone itu dengan ponsel miliknya.
"Ada apa?" Tanya nya sambil meneruskan pekerjaannya.
"Kak apa kau melihat gekangku?"
"Gelang?"
"Ya, gelang zamrud warna hijau, gelang yang pernah kakak berikan padaku. Kata bi inah gelang itu ada pada kakak."
"Iya gelang itu ada padaku. Karena aku tahu kau pasti akan mencarinya kan?"
Reyna hanya mengangguk, ia tidak sadar jika ia sedang bicara lewat ponsel. Sudah jelas hal itu tidak di lihat oleh kakaknya.
__ADS_1
"Hallo?" Ucap Reyhan ketika ia tidak mendengar suara Reyna, ia melihat ke arah ponselnya tapi ponselnya masih terhubung.
"Ahh iya Kak,"
"Ku kira kau tertidur."
"Ini masih pagi, mana mungkin aku tertidur. Oh iya kak, apa kau tahu, lima tahun lalu terjadi kasus bunuh diri di Rumah sakit Adhitama?"
Deg
Reyhan menghentikan pekerjaannya, ia memilih fokus pada pendengarannya saat ini.
"Tidak, Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?"
"Aku hanya bertanya saja. Tapi aku penasaran, bukankah lima tahun lalu aku juga di rawat di Rumah sakit yang sama. Dan apakah kakak tahu? orang yang melakukan bunuh diri itu adalah seorang wanita, dia itu kekasihnya Evan."
Karena terlalu bersemangat bercerita Reyna sampai keceplosan menyebut wanita yang melakukan kasus bunuh diri itu adalah kekasihnya Evan, kekasih dari suaminya sendiri.
Sementara Reyhan dia begitu kaget mendengar pernyataan yang baru saja di ucapkan oleh adiknya itu.
"Dari mana kau tahu?" tanya nya penasaran.
"I..itu, Aku mengetahuinya dari Mama Aneu." Karena sudah keceplosan Reyna tidak bisa menyembunyikannya lagi.
"Apa Kakak benar-benar tidak tahu soal kejadian itu. Pasalnya kasus bunuh diri bukanlah kasus yang kecil, lagi pula Rumah sakit Adhitama juga adalah Rumah sakit ternama, pasti kejadiannya sangat menghebohkan bukan?"
"Sudah ku bilang aku tidak tahu." Ucap Reyhan dengan nada yang sedikit agak tinggi.
dan hal itu membuat semua orang yang ada di ruangannya melihat kearahnya. Menyadari hal itu Reyhan menghela napas berat.
Sementara di ujung telepon sana Reyna menjauhkan ponsel dari telinganya, ia merasa heran dengan nada bicara kakaknya yang terdengar seperti sedang marah, padahal dia hanya bertanya.
"Reyna.." Ucap Reyhan yang mulai menurunkan nada bicaranya "Nanti kakak akan menghubungimu lagi, kakak harus bekerja sekarang."
Sebelum menutup teleponnya Reyna malah berteriak "Eh tunggu dulu kak, aku ingin bertanya satu kali lagi. Di mana kau simpan gelangku, biar aku mencarinya kebetulan aku sedang di rumah ayah sekarang."
"Nanti kakak akan memberikannya padamu, sekarang tutup dulu teleponnya."
"Baiklah."
Reyna menutup teleponnya, ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur.
__ADS_1
"Ada apa dengan kak Reyhan, kenapa dia marah ketika aku bertanya tentang kejadian itu."
Reyna merasa tubuhnya sangat lelah, tanpa ia sadari ia tertidur dan terlelap begitu saja.