
Setelah kepergian Evan, Reyna juga Pak Andi, Mama Aneu kini hanya duduk berdua dengan suaminya.
"Bagaimana menurut papa?" tanya Mama Aneu
"Bagaimana apanya?" Pak Hendra masih belum mengerti ke mana arah pembicaraan istrinya itu.
"Tentang Reyna? bagaimana menurut papa?" tanya nya lagi
"Apa mamah berniat untuk menjodohkannya dengan Evan?"
Mama Aneu mengangguk mengiyakan, "Mama menyukainya, dia gadis yang baik." Ucap Mama Aneu sambil tersenyum
Mama Aneu tidak lagi memandang kasta, kejadian 5 tahun lalu membuat ia sadar, bahwa harta bukan lagi menjadi tolak ukurnya, ia hanya ingin yang terbaik bagi putranya.
"Mama tahu sendiri Evan masih belum mau menikah, sudah beberapa kali Mama menjodohkannya, namun selalu di tolak."
"Mama tahu, tapi apa Papa mau putra kita melajang seumur hidupnya, enggak kan Pa?"
"Mungkin dia belum siap, lagi pula usianya masih muda."
"Dia memang masih muda Pa, tapi kita ini yang sudah tua, Mama tidak mau melihat Evan terus memikirkan masa lalunya, lagi pula Mama hanya ingin melihat Evan menikah sebelum Mama tiada." Ucap Mama Aneu, seketika wajahnya berubah sendu. Entah apa yang ia pikirkan sehingga kata-kata itu lolos begitu saja dari bibirnya.
"Kenapa Mama berbicara seperti itu? mungkin ini belum saatnya Lebih baik kita istirahat saja ini sudah malam." Pak Hendra mengajak istrinya untuk beristirahat di kamar, sebelum istrinya itu berbicara lagi tentang hal-hal aneh.
.
.
Di lain tempat Sena yang baru saja pulang dari jadwal prakteknya, hendak pergi ke rumah Reyna, ia ingin memberikan obat yang belum sempat ia berikan pada Reyna tadi pagi.
Namun bukan itu tujuan utamanya, ia pergi ke sana hanya untuk memastikan apa Reyhan benar-benar pergi berkencan dengan seorang wanita atau tidak. Terdengar gila memang namun begitulah ketika orang sedang jatuh cinta kadang melupakan logika nya.
Sesampainya di sana Sena mengetuk pintu, dan alangkah kagetnya ia ketika orang yang membukakan pintu adalah Reyhan, Pria yang ia sukai sejak jaman SMA.
"Kendalikan dirimu Sena" ucapnya dalam hati
"Oh ternyata kau, ayo masuk!" ajak Reyhan
"Tidak terima kasih, aku hanya ingin memberikan ini pada Reyna ia tadi lupa membawanya." Sena memberikan kantong plastik berisikan obat kepada Reyhan.
__ADS_1
"Obat? untuk apa?" tanya Reyhan heran
"Tadi dia bilang bahwa akhir-akhir ini ia kesulitan untuk tidur, jadi aku membuatkan resep untuk nya."
"Baiklah nanti akan aku berikan pada Reyna. apa masih ada yang ingin kau sampaikan?"
"Tidak ada."
Reyhan hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku pulang dulu"
"Kau pulang sendiri?"
"Iya"
"Tunggu sebentar."
Sena bertanya-tanya apa yang akan di lakukan Reyhan sehingga ia harus menunggu nya.
"Ayo!" ajak Reyhan tanpa basa-basi
"Tentu saja pulang, bukannya kau ingin pulang? aku akan mengantarmu." ucap Reyhan sambil menutup pintu.
"Tidak perlu aku sudah terbiasa pulang sendiri." tolak Sena padahal hatinya sedang berbunga-bunga saat ini.
"Kau tidak tahu ya di daerah sini rawan begal?" ucap Reyhan menakut-nakuti.
"Benarkah, kau pasti bercandakan?"
Reyhan hanya tersenyum dan terus melangkah kan kakinya.
"Tidak baik bagi seorang gadis pulang sendiri malam-malam, lagi pula kau terlihat sangat lelah kalau kau mengantuk di tengah jalan bagaimana? aku hanya tidak ingin mendengar kabar duka esok hari."
"Oh ya ampun kau mendoakan ku agar cepat mati ya."
Reyhan tak menghiraukan perkataan Sena, ia hanya terus berjalan menuju mobil nya.
Sena terlihat kesal namun sedetik kemudian wajahnya di hiasi dengan senyuman.
__ADS_1
"Mobilmu biarkan saja di sini, nanti pagi sopir akan mengantarkan nya ke tempatmu."
"Baiklah."
Ketika mobil melaju tiba-tiba Sena tetingat sesuatu.
"Eh bukannya kau ada jadwal kencan ya?"
Reyhan yang di tanya hanya mengernyitkan dahinya, namun beberapa detik kemudian ia mulai paham
"Reyna yang memberi tahu mu?"
"iya."
"Dia itu hanya salah paham, lagi pula mana ada yang mau berkencan denganku." ucap Reyhan merendah
"Hey bukan kah dulu kau ini seorang playboy."
"Tapi sekarang tidak lagi."
"Kenapa? apa pesonamu mulai luntur?" tanya Sena dengan tertawa
"Jika pesonaku luntur, mana mungkin kau menyukai ku sampai detik ini?"
Sena menghentikan tawanya, ia benar-benar kaget dengan ucapan Reyhan
"Da..dari mana kau tahu." ucap Sena gugup.
Reyhan menepikan mobil nya sejenak, ia lantas melihat ekspresi Sena yang terlihat gugup
"Aku hanya menebak, Jadi benar kau menyukaiku sampai sekarang?" ucap Reyhan.
"Lebih baik kau jalankan lagi mobilnya, aku sangat lelah dan aku ingin beristirahat." Sena mencoba mengalihkan pembicaraan, ia benar-benar gugup saat ini.
"Kau terlihat menggemaskan saat gugup." Reyhan tersenyum sambil melajukan lagi mobil nya.
"Dari dulu kau memang pandai merayu wanita." ucapnya kesal. Kesal karena Reyhan sudah menjebak ia dengan kata-katanya sehingga ia ketahuan telah menyukai pria di sampingnya ini cukup lama.
"Kalau sudah ketahuan begini aku harus apa?" batinnya, ia tidak bisa membayangkan jika harus bertemu lagi dengan Reyhan.
__ADS_1