You & My Destiny

You & My Destiny
Bab 25


__ADS_3

Reyna menyadarkan pikirannya, ia langsung memakai bajunya dan segera keluar. Hari ini, pagi-pagi sekali Reyna harus pergi ke kampus, belum lagi ia harus memasak dan menyiapkan sarapan untuk dirinya dan juga Evan pastinya. Karena sejak semalam mereka belum makan terutama Reyna yang hanya mengisi perutnya dengan air putih.


Tak mau berlama-lama Reyna pergi dari apartemen dengan ponsel di tangannya mencari lokasi supermarket yang dekat dari sana. Beruntung jarak supermarket dari apartemen Evan tidak lah terlalu jauh jadi dia tidak perlu menggunakan kendaraan untuk sampai di sana.


Sesampainya di supermarket Reyna langsung berbelanja kebutuhan pokok termasuk, buah sayur, daging dan lain sebagainya. Reyna berbelanja menggunakan uang tabungannya sendiri, ia tidak berani meminta pada Evan meskipun ia sudah mempunyai hak untuk itu. Mempunyai hak? Hah Evan saja tidak pernah peduli dengan pernikahannya apalagi dengan urusan hak begitupun kewajibannya.


Reyna tak mau ambil pusing, jadi ia memutuskan menggunakan tabungannya meskipun ia tahu uangnya akan semakin menipis guna memenuhi segala kebutuhannya.


Setelah selesai berbelanja Reyna bergegas pulang, dan ketika sampai di apartemen ternyata pintu kamar Evan masih tertutup rapat.


"Apa dia masih tidur?" Ucap Reyna sambil merapikan barang belanjaannya.


Reyna berjalan ke sana kemari mencoba membuat masakan untuk pagi ini dan sesekali ia melirik jam di pergelangan tangannya.


Sudah hampir satu jam ia berkutat di dapur, kini Reyna tengah menyajikan makanan di atas meja, Reyna bergegas menghampiri kamar Evan, ia ingin mengajak Evan untuk sarapan bersamanya.


Namun niat itu berubah ketika Reyna sampai di depan pintu kamar Evan. Reyna ragu, bahkan satu tangannya yang terkepal untuk mengetuk pintu masih berada di udara. Reyna berbalik arah, kembali ke arah dapur, karena percuma saja mengajak Evan makan bersamanya toh pada akhirnya ia akan mendapat penolakan.


Tapi Reyna melihat lagi ke arah meja makan, ia tidak mungkin menghabiskan semua hidangan yang telah ia sajikan itu sendirian.


Reyna kembali ke kamar Evan, mengetuk pintu secara perlahan. Karena tak kunjung mendapat jawaban Reyna semakin mengeraskan ketukannya.


Tak berselang lama pintu kamar Evan terbuka dan betapa kaget nya Reyna ketika melihat Evan yang bertelanjang dada dengan handuk di kepalanya, sepertinya pria itu baru saja keluar dari kamar mandi.


Reyna langsung membalikan badannya, ia tak mau mencemari otaknya hanya karena melihat otot-otot di perut Evan yang sudah seperti roti sobek.


"Ka..kau pasti belum makan dari semalam kan, Ja..jadi aku menyiapkan sarapan untukmu." Ucap Reyna dengan tergagap.


Evan yang sedang menggosok rambutnya dengan handuk hanya mencebikkan bibir sambil menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menutup pintu tanpa menjawab pertanyaan Reyna.


Reyna terperanjat ketika Evan menutup pintu dengan keras. Ia menepuk bibirnya secara perlahan, bisa-bisanya ia berbicara gagap di hadapan Evan. Reyna bahkan merutuki dirinya sendiri, ia benar-benar merasa malu sendiri, dan entah apa ekspresi yang di tunjukan Evan karena ia berbicara sambil membelakanginya.


Reyna pergi dan kembali ke dapur setelah melihat pintu kamar Evan tertutup rapat. Reyna duduk di kursi sambil menunggu Evan keluar dari kamarnya.

__ADS_1


Satu menit, dua menit, bahkan sampai sepuluh menit Evan belum juga keluar dari kamarnya, "Apa yang sedang dia lakukan, kenapa lama sekali."


Reyna kembali melihat jam di pergelangan tangannya, ia sudah tidak bisa menunggu lagi karena ia harus pergi ke kampus untuk menemui Dosen pembimbing. Akhirnya Reyna sarapan terlebih dahulu, dengan cepat ia menghabiskan makanannya.


Reyna kini tengah bersiap-siap pergi namun sebelum pergi ia menuliskan sebuah catatan di atas sticky note lalu ia menempelkannya di atas meja juga di lemari es. Reyna kemudian pergi setelah merapikan kembali meja makan.


Sementara Evan yang baru saja keluar dari kamarnya hendak berjalan kearah pintu. Namun sebelum itu ia melihat beberapa lembar kertas yang tertempel di lemari es, warna kertas itu begitu kontras sehingga membuat Evan berjalan mendekati lemari es. Di ambilnya kertas itu lalu ia membaca tulisan yang ada di dalamnya.


"Hari ini, pagi-pagi sekali aku harus berangkat ke kampus menemui dosen pembimbing, jadi aku memutuskan untuk pergi terlebih dahulu."


"Oh ya maaf, tanpa seizin dari mu aku mengganti isi kulkas mu, mulai sekarang hiduplah dengan sehat."


Evan kemudian mengambil kertas itu, lalu membuangnya ke dalam tempat sampah, ia bahkan tidak berniat membuka kulkas yang mungkin sudah di rombak isinya oleh Reyna.


Evan melangkahkan kembali kaki nya, namun lagi-lagi ia melihat sebuah kertas yang menempel di atas meja, Evan mengambilnya dan membuang kertas itu tanpa membaca pesan yang sudah tertulis di sana.


Evan pun pergi, membiarkan makanan yang sudah tersaji di atas meja.


Reyna bisa saja bersikap acuh dan tidak peduli seperti sikap Evan padanya, namun ia tidak mau melalaikan kewajiban nya sebagai seorang istri.


.


.


Di depan gedung apartemen, Roy tengah berdiri di samping mobil bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan bersama tuan nya. Roy membukakan pintu mobil ketika Evan datang menghampirinya. "Silahkan tuan."


Belum sempat masuk ke dalam mobi, Evan melihat Reyna yang ternyata masih ada di sana.


Roy yang melihat ke arah mata Evan tertuju lantas bertanya "Tuan apa sebaiknya kita mengantar nyonya terlebih dulu?"


"Tidak perlu." Evan memutuskan pandangannya dan masuk ke dalam mobil.


Reyna tengah berdiri di tepi jalan, menunggu ojek online yang telah ia pesan sebelumnya, sesekali ia mengecek aplikasi di ponselnya, juga melirik jam di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Reyna terdiam sesaat ketika mobil Evan melaju melewatinya, pintu mobilnya sedikit terbuka sehingga ia bisa melihat wajah Evan dengan jelas. Reyna terus saja melihat mobil Evan yang mulai menjauh sampai suara tukang ojol menghentikan penglihatannya.


"Permisi mbak, atas nama Reyna."


"Iya pak."


Reyna segera menaiki motor setelah abang ojol memberikan helm kepadanya.


Hampir lima belas menit perjalanan, Reyna akhirnya sampai di depan gedung kampusnya. Reyna hendak menyebrang, namun karena terburu-buru, ia tidak tahu jika sebuah mobil sedang melaju ke arahnya, jika saja sang pemilik mobil tidak mengerem mendadak, sudah di pastikan Reyna akan terpental dan terjerembab di atas aspal.


Reyna menyadari kesalahannya karena menyebrang tidak dengan hati-hati. Reyna menundukan kepalanya sebagai tanda permintaan maafnya,


"Reyna..." Ucap seorang laki-laki yang berada di dalam mobil, seseorang yang hampir saja menabrak Reyna.


Tidak mau kehilangan jejak pria itu lantas menepikan mobilnya, coba mencari gadis tadi yang ia yakini sebagai Reyna, seseorang yang pernah menyelamatkan nya di masa lalu.


Dert..dert


Untuk sesaat ia tidak memperdulikan suara ponsel di saku celananya yang terus berbunyi, fokusnya kini terarah pada gadis tadi, ia tidak ingin kehilangan gadis itu lagi karena sudah lama ia berusaha mencarinya tapi tidak pernah bertemu, dan ini merupakan sebuah kesempatan baginya untuk menemui gadis itu setidaknya ia harus mengucapkan terima kasih.


Dering ponsel kembali terdengar, pria itu lantas mengambilnya dari saku celana, ternyata ibunya yang menelepon.


"Rifaldi kau di mana?" Pria yang bernama Rifaldi itu reflek menjauhkan ponsel dari telinganya mendengar suara ibunya yang begitu memekakan telinga.


"Aku masih di jalan bu."


"Langsung saja ke Rumah sakit, bibi Aneu sudah tidak sabar ingin bertemu dengan keponakannya." Ucap sang ibu di sebrang telepon sana.


"Baiklah bu."


Rifaldi menutup teleponnya, ia kembali mencari gadis itu, tapi sayang gadis itu lolos lagi dari pandangannya.


"Tadi dia pergi ke mana?"

__ADS_1


__ADS_2