
Evan saat ini tengah duduk bersama seorang Wanita yang sudah berumur namun masih terlihat cantik di usia yang sudah tak lagi muda.
"Mama kenapa tidak bilang jika ingin ke sini?"
Ya, yang mengunjungi Evan saat ini adalah Mama nya, beliau sedang sibuk menata makanan diatas meja tanpa menghiraukan pertanyaan putra semata wayangnya itu.
"Makanlah! Kau pasti belum sarapan kan?"
Evan memang tidak tinggal bersama orang tuanya. Semenjak kejadian 5 tahun silam, Evan lebih memilih untuk tinggal di sebuah Apartemen, ia hanya ingin hidup sendiri tanpa bergantung pada kedua orang tuanya. Mama nya tentu saja menolak tapi Evan tetap bersikeras, namun pada akhirnya Mama Aneu menyetujui keinginan Evan dengan syarat Evan harus berhenti mabuk mabukan dan berhenti pergi ke club malam.
Sejak di tinggal kekasihnya Evan menjadi depresi, tiap malam ia mabuk dan menangis menyebut nama kekasihnya itu seperti orang gila.
Keadaan Evan kini mulai membaik, perlahan ia mulai merelakan namun tidak bisa melupakan kekasihnya itu. Sikapnya berubah dingin dan tak tersentuh, ia berjanji dalam hatinya tidak akan mencintai wanita pun selain kekasihnya Hana.
Mama Aneu tentu saja tak tinggal diam, ia tak mau anak semata wayangnya menjadi seorang bujang seumur hidupnya, ia terus saja menjodohkannya dengan wanita pilihannya meskipun selalu mendapatkan penolakan dari sang anak.
Evan kini menatap hidangan yang di bawakan oleh mamanya. Ia sudah tahu pasti ada sesuatu yang di inginkan mamanya itu.
"Ada perlu apa Mama kemari?" tanya Evan langsung pada intinya. Karena bukan sekali dua kali Mama Aneu menemuinya hanya untuk mempertemukan dia dengan seorang wanita.
"Ish kau ini, tentu saja untuk menemui mu, Mama sangat rindu padamu. Kau tahu semenjak kau memutuskan tinggal di apartemen mama mu ini selalu merasa kesepian." ucap Mama Aneu dengan sendu.
Evan yang melihat kesedihan mama nya, memilih untuk makan makanan yang sudah di hidangkan mamanya. Sementara Mama Aneu berjalan menyusuri ruangan putranya dan tak sengaja melihat figura yang terpampang diatas meja, figura yang berisikan foto Evan bersama kekesihnya Hana.
Mama Aneu menghela nafas, "Andai kau masih ada, aku pasti akan menemuimu dan memintamu untuk menikah dengan Evan."
Waktu itu mama Aneu tidak merestui hubungan Evan dengan Hana, karena latar belakang Hana yang tidak sesuai dengan keinginannya, terlebih lagi Hana adalah seorang yatim piatu.
Namun saat melihat anaknya menderita setelah kehilangan kekasihnya. Ia baru menyadari bahwa Evan putranya sangat mencintai Hana dan itu terbukti, karena sampai sekarang Evan masih menyimpan foto kebersamaan nya dengan Hana, tidak hanya di kantor melainkan di setiap sudut kamar di apartemennya.
"Apa mama masih lama? Aku ada pertemuan dengan rekan bisnisku pagi ini. Tapi jika mama ingin tetap di sini juga tidak apa-apa." Evan berkata sambil memakai setelan Jas nya.
"Tidak, mama juga akan pulang."
"Aku akan menyuruh sopir untuk mengantar mama."
"Tidak perlu, mama kesini dengan sopir mama."
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, mama jaga diri baik-baik sampaikan salamku pada papa."
Mama Aneu melihat anaknya yang hendak pergi tiba-tiba teringat sesuatu
"Tunggu Evan!" ucap mama Aneu dan itu langsung menghentikan langkah Evan.
"Malam ini datang lah ke rumah, papa dan mama akan mengadakan acara makan malam."
"Apa ini acara perjodohan lagi?"
"Jika mama mengatakan ya, apa kamu akan datang?"
__ADS_1
Evan hanya menghela nafas kasar,
"Kamu harus datang dan tidak ada penolakan."
Evan hanya melangkah pergi tanpa menjawab lagi perkataan mamanya.
Mama Aneu menghela nafas panjang, membereskan sisa makanan yang ada di atas meja, kemudian pergi menyusul anaknya.
...***...
Reyna yang sudah tiba di sebrang jalan dekat kafe X terlihat berjalan sempoyongan bahkan ingin mengularkan semua isi perutnya. Bagaimana tidak kakak nya menjalan kan mobil dengan kecepatan tinggi dan itu tentu saja membuatnya merasa ketakutan sekaligus mual secara bersamaan.
"Dasar kakak gak ada akhlak."
Reyna duduk di tepi trotoar sambil memijat kepalanya yang terasa pusing.
Sedangkan di tepi jalan lain tidak jauh dari tempat Reyna duduk, seorang wanita baru saja turun dari dalam mobil.
"Bapa tunggu saja di sini, saya hanya ingin mampir sebentar." Ucap Mama Aneu pada sang sopir.
Ya, wanita yang baru saja turun dari mobil adalah Mama Aneu yang baru saja pulang dari kantor Putranya.
Ketika hendak menyebrang Mama Aneu terkejut melihat mobil dengan kecepatan tinggi menuju kearahnya. Mama Aneu hanya bisa menutup mata nya pasrah dengan apa yang akan terjadi.
Namun tanpa di duga, Mama Aneu merasa tubuhnya di peluk oleh seseorang dan di dorong ke tepi jalan.
Reyna memastikan bahwa keadaan baik-baik saja lantas bertanya. Reyna yang mengetahui peristiwa itu akan terjadi lansung berlari menghampiri sang ibu dan mendorongnya ke tepi jalan sebelum mobil itu benar-benar menabraknya.
"Ibu tidak apa-apa?" tanyanya.
"I..ibu tidak apa-apa." jawab Mama Aneu terbata karena masih shock dengan apa yang terjadi barusan.
Reyna membantu nya untuk berdiri dan menepi dari sana.
"Terima kasih nak, kalau tidak ada kamu entah apa yang akan tetjadi."
"Ini semua kehendak yang Maha kuasa bu, saya hanya perantara."
Mama Aneu tersenyum mendengar penuturan gadis cantik di depannya ini.
"Baiklah bu kalau begitu saya pamit."
"Tunggu! kalau boleh tahu siapa namamu nak?"
"Nama saya Reyna bu."
"Emh begini nak Reyna, sebagai ucapan terima kasih, Ibu mengundangmu untuk datang makan malam di rumah Ibu malam ini kamu kasih tau saja lamat tempat tinggal mu di mana, nanti sopir ibu akan menjemputmu, bagaimana?"
"Tapi maaf bu sebelumnya, Reyna sudah ada janji dengan ayah Reyna untuk malam ini jadi tidak bisa, sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Reyna dengan hati hati karena tidak mau menyinggung perasaan ibu yang tidak di ketahui namanya ini karena penolakannya.
__ADS_1
"Baiklah Kalau begitu, kapan-kapan jika kamu punya waktu senggang kamu mampir saja ke toko kue milik ibu, ini kartu nama ibu." Mama Aneu menyodorkan kartu yang berisikan Nama lengkapnya serta alamat toko kue nya.
"Baiklah bu kapan kapan aku akan mampir ke sana, maaf bu saya harus pergi soalnya saya ada janji dengan teman saya."
"Ya pergilah, Sekali lagi terima kasih." Ucap Mama Aneu tulus.
Reyna hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian berjalan menuju tempat yang di tuju.
Reyna mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya ingin menelepon Kak Sena yang mungkin saat ini sedang menunggunya.
Namun belum sempat menekan tombol layar, suara dering ponselnya berbunyi."Panjang umur sekali dia."
"Kamu di mana?" Tanya Sena yang berada di sebrang telepon.
"Aku sudah sampai, posisi Kak sena di mana?"
Reyna menelepon sambil berjalan mencari keberadaan Kak Sena, tanpa di sadari ia menabrak seorang pria yang ada di hadapannya hingga membuat ponselnya terjatuh.
"Aah maaf, aku tidak sengaja." Ucap Reyna sambil menoleh kearah pria tersebut.
Deg
"Apa yang terjadi padaku, kenapa jantungku berdetak kencang seperti ini, apa ini yang di namakan cinta pada pandangan pertama."
Reyna menggelengkan kepalanya, sedangkan pria itu hanya mengibaskan tangan di jasnya, dan berlalu pergi.
"Nana!" Teriak Kak Sena menghampiri Reyna
Deg
Kini giliran pria itu yang tersentak, sampai ia menoleh ke belakang mendengar nama panggilan yang tak asing di telinganya, nama panggilan yang ia sematkan untuk kekasihnya Hana. Ya pria itu adalah Evan, ia sempat berhenti sejenak ketika mendengar nama itu namun beberapa detik kemudian ia melanjutkan langkahnya.
"Di mana ponselmu, dari tadi aku berbicara tidak ada jawaban?" tanya Sena
"Ponselku? Ya ampun di mana ponselku."
.
.
.
.
.
terus kasih dukungannya ya dengan cara like comment, vote dan jangan lupa sesajennya (bunga ataupun kopi), seikhlasnya aja hee
See you~~
__ADS_1