
"Bagaimana jika aku tidak setuju?" ucap seorang laki-laki yang turun dari atas tangga,
"Reyhan!" Bentak Pak Andi
Ya, pria itu adalah Reyhan, pria yang sejak tadi terus memperhatikan perbincangan antara ke empat orang yang duduk di bawah tadi.
"Apa ayah tidak berpikir Reyna masih kuliah, dan mereka juga baru saja mengenal, dan terlebih lagi.." Reyhan menjeda ucapannya lalu menatap Evan yang ada di depannya.
"Pria yang akan menikahi adik ku sepertinya dia juga terpaksa."
"Reyhan jaga ucapanmu." Sentak ayahnya lagi
Bukan tanpa alasan Reyhan mengatakan hal itu, karena sejak tadi ia terus memperhatikan Evan dari kejauhan. Pria itu memang tampan dan juga kaya tapi apakah pria itu akan menyayangi adiknya? di lihat dari ekspresinya saja sungguh sangat tidak meyakinkan.
Sementara Evan, ia hanya tersenyum sinis. Ternyata Reyhan sangat peka, jika saja ia tidak ingat dengan janjinya pasti ia akan menyetujui keputusan Reyhan.
"Sepertinya kalian memang harus membicarakan dulu hal ini, aku akan menunggu keputusan kalian." ucap pak Hendra seraya menepuk pundak pak Andi yang terlihat sedikit emosi dengan sikap putranya itu.
"Baiklah kalau begitu kami permisi."
.
.
__ADS_1
Ke esokan harinya..
Reyna kini tengah duduk di depan cermin lengkap dengan kebaya putih dan riasan yang di buat senatural mungkin.
Ya tepat hari ini Reyna akan menikah. Menikah dengan seseorang yang kemarin datang melamarnya.
Setelah melewati perdebatan panjang akhirnya Reyna memutuskan sendiri bahwa ia setuju untuk menikah dengan Evan.
Reyna menghela napas panjang, pernikahan ini akan menjadi awal kehidupannya dengan seorang pria yang belum ia ketahui watak, perilaku bahkan perasaanya.
Namun ia juga tidak menampik, karena banyak juga orang menikah karena di jodohkan berakhir dengan bahagia, dan semoga itu terjadi pada kehidupan pernikahannya, meski ia tidak terlalu yakin.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Suara Reyhan membuyarkan lamunannya.
"Setiap keputusan ada konsekuensinya masing-masing, dan aku sudah siap menerima konsekuensi dari keputusan yang aku ambil." ucap Reyna tanpa mengalihkan pandangannya dari cermin
"Pernikahan bukanlah urusan yang sepele Reyna, ketika kau memilih pasangan hidup itu artinya kau sedang memilih masa depanmu, lagi pula kau masih terlalu muda untuk menikah."
"Aku tahu itu, tapi tidak ada yang bisa aku lakukan, kakak tahu sendiri bukan?, jika pak Hendra telah banyak membantu keluarga kita. Anggap saja pernikahan ini sebagai balas budi dari kebaikannya."
Reyhan menghela napas berat, kemudian ia berjalan mendekati adiknya, menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.
"Sudah cukup Siti Nurbaya saja yang merasa terpaksa di dalam pernikahannya, tapi kamu jangan."
__ADS_1
Reyna hanya tersenyum mendengar kata-kata kakaknya.
Reyhan memegang kedua lengan adiknya, menjauhkan nya dari tubuhnya dan menatap lekat-lekat wajah adiknya itu.
"Dengar Reyna, kau adalah adik ku satu-satunya, aku hanya ingin kau bahagia itu saja. Jika kau merasa terpaksa melakukannya, masih ada waktu untuk membatalkannya."
"Aku tidak bisa membatalkannya."
Reyhan mengernyitkan dahi nya, bingung.
"Kenapa? Apa kau menyukainya?"
"Tentu saja, mana ada wanita yang menolak pesona seorang Evan Mahendra, selain tampan dia juga kaya raya."
Reyhan menatap intens wajah adiknya itu, mencari sebuah kebenaran dari ucapannya barusan.
"Sudah lah kak, nanti kita teruskan bincang-bincangnya. Ayah sudah menunggu kita di bawah." Reyna mengakhiri percakapannya dengan sang kakak, mencoba menghindari kecurigaan dan perberdebatan seperti yang sudah-sudah.
Ia merapikan kembali penampilannya di depan cermin, kemudian beranjak pergi meninggalkan sang kakak seorang diri.
Reyhan hanya hanya bisa menghela nafas berat melihat punggung adiknya yang kian menjauh.
"Semoga kau bahagia dengan keputusanmu."
__ADS_1