
"Apa? Mama Aneu kecelakaan?" Reyna yang sudah terbiasa menyebut Mama Aneu dengan sebutan Mama merasa kaget mendengar kabar dari Ayahnya bahwa Mama Aneu mengalami kecelakaan.
"Lalu kondisinya sekarang bagaimana ayah?" tanya nya lagi.
"Kabar terakhir yang ayah dengar, beliau masih dalam keadaan koma."
Reyna yang mendengar hal itu merasa pilu, pasalnya ia sudah menganggap Mama Aneu sebagai Mama nya sendiri walaupun mereka hanya bertemu beberapa kali.
"Ayah bolehkan aku menjenguk nya?"
"Tentu saja, Ayah juga akan ke sana."
.
.
Reyna beserta ayahnya kini sudah berada di Rumah sakit, di sana Mereka melihat Pak Hendra sedang berbicara serius dengan seorang dokter, Mereka juga melihat Evan yang kini tengah duduk di kursi dengan kepalanya yang bersandar ke tembok sembari memejamkan kedua matanya.
Setelah Dokter pergi Reyna dan ayahnya menghampiri Pak Hendra.
"Bagaimana kondisi Istrimu?" tanya Pak Andi
"Kondisinya mulai stabil, hanya saja ia masih belum sadarkan diri."
"Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa Aneu, semoga Alloh memberikan yang terbaik bagi kesehatannya."
"Terima kasih."
Pak Hendra kemudian menatap Reyna dan Evan secara bergantian, lalu kemudian ia menatap kawan lamanya Pak Andi.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu sebentar." katanya
Pak Andi terlihat heran namun beberapa detik kemudian ia mulai paham tentang hal yang ingin di bicarakan temannya itu.
"Kamu tunggu di sini sebentar." ucap Pak Andi pada putrinya, Reyna hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah melihat punggung ayahnya menjauh, Reyna kemudian melihat Evan masih dalam posisi yang sama. Ia duduk di sampingnya tapi masih menjaga jarak.
Reyna menatap pria di sampingnya, pria yang masih terlihat tampan dan gagah meski penampilannya kini sangat berantakan.
__ADS_1
Reyna merasa heran dari tadi Evan terlihat tidak bergerak sama sekali, "apa dia tertidur?" batinnya, ia tak berani bertanya apa lagi membangunkannya. Akhirnya Reyna hanya diam menunggu sang ayah selesai bicara dengan Pak Hendra.
Beberapa menit kemudian terdengar suara dering telepon yang berasal dari saku celana Evan. Evan terbangun dan langsung mengangkatnya.
"Baiklah aku akan segera ke sana."
Setelah menutup telaponnya Evan melihat seorang gadis duduk di sebelahnya, gadis yang sama yang pernah ia temui saat makan malam waktu itu. Evan tak terlalu menghiraukan keberadaannya walau hanya untuk bertanya atau hanya sekedar menyapa.
"Pak Hendra pergi dulu sebentar, sepertinya ia sedang ada urusan dengan ayahku." Reyna mencoba memberi tahu Evan walaupun pria itu tidak bertanya.
"Aku turut bersedih atas apa yang di alami Mama Aneu, Semoga beliau segera sadar dan segera pulih kembali." Ucap Reyna sambil melihat lawan bicaranya, namun Evan tak memberikan respon sama sekali. Reyna hanya tersenyum, pandangannya kembali lurus ke depan.
"Mama Aneu adalah orang yang sangat baik, kau beruntung memiliki ibu seperti beliau, tidak seperti aku yang sampai sekarang tidak tahu di mana keberadaan ibu ku."
Reyna tersadar ketika Evan meliriknya sekilas.
"Ah Maaf, aku jadi curhat."
Evan lagi lagi tak menghiraukannya, ia memilih masuk ke dalam ruangan mama nya, meninggal Reyna seorang diri di ruang tunggu.
Sementara di sudut ruangan lain dua orang pria yang umurnya sudah tidak lagi muda sedang berbicara serius.
"Maka dari itu aku minta tolong padamu untuk membujuk purtrimu." ucap Pak Hendra seraya memohon pada kawan nya itu.
"Semoga dengan cara itu istriku mau bangun dari koma nya. Tetapi jika tuhan berkehendak lain, setidaknya aku sudah memenuhi permintaan terakhirnya." lanjutnya lagi
"Kau jangan berkata seperti itu, bukankah kau tadi bilang bahwa istrimu sudah mulai stabil, istrimu pasti baik-baik saja."
"Untuk masalah pernikahan, ada baiknya kita bicarakan pada anak-anak kita, sebab merekalah yang akan menjalaninya." nasihat pak Andi
"Baiklah."
Mereka kemudian berjalan kembali menuju tempat di mana Mama Aneu di rawat
"Reyna kenapa kamu sendirian, di mana Evan? tanya pak Hendra ketika melihat Reyna duduk sendiri di ruang tunggu
"Evan ada di dalam ruangan paman."
"Kenapa kamu tidak ikut masuk?"
__ADS_1
"Reyna tidak berani masuk sendiri, jadi Reyna memutuskan untuk menunggu ayah di sini."
"Ayahmu sudah ada di sini jadi ayo masuk, Mama Aneu pasti senang di jenguk olehmu."
Pak Hendra kemudian masuk ke dalam ruangan, di ikuti oleh Reyna dan Ayahnya Pak Andi.
"Halo mama Aneu, ini Reyna maaf jika Reyna baru datang menjenguk mama. Mama harus segera sadar karena ada banyak hal yang ingin Reyna ceritakan, Reyna tidak bisa cerita kalau mama nya tidur terus, Jadi Reyna mohon bangun ya ma karena Reyna pun ingin mendengar banyak hal dari Mama." ucap Reyna setelah duduk di samping Mama Aneu
Hati Reyna terasa berdenyut ketika melihat keadaan Mama Aneu yang terbaring lemah dengan alat-alat medis yang menempel di tubuhnya.
Reyna kemudian teringat dengan ibunya yang selama 5 tahun ini tak pernah ia temui, entah di mana keberadaannya, bagaimana kondisinya, apa dia madih hidup atau sebaliknya, begitu banyak pertanyaan yang bersarang di kepalanya mengenai ibu kandungnya, ia juga selalu menanyakan pada ayahnya namun ayahnya selalu bilang tidak tahu.
Lama termenung Reyna kemudian tersadarkan oleh suara Evan yang sepertinya ingin berpamitan.
"Pah sepertinya Evan harus pergi, ada sedikit kendala di kantor. Jika sudah selesai Evan akan kembali."
Evan kemudian berlalu meninggalkan ruangan. Pak Hendra yang melihat Evan pergi langsung menyusulnya.
"Evan tunggu!"
Evan menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat papa nya yang berjalan mendekati nya
"Papa harap kamu tidak melupakan janji mu."
Evan mengernyitkan dahi,
"Tentang apa?"
"Janji pada mama mu, jika kau bersedia menikah dengan wanita pilihan mama mu. Dan wanita itu sedang ada disini, dia adalah Reyna, putrinya pak Andi." ucap Pak Hendra
"Sebelum kecelakaan mama mu sempat ingin menjodohkan mu dengan Reyna sampai ia harus membuat sandiwara waktu itu, jadi Papa mohon padamu, tepati janji mu."
Wajah Evan berubah dingin tanpa ekspresi
"Papa tenang saja Evan bukanlah tipe orang yang ingkar janji."
Evan memutar tubuhnya ingin melangkahkan kakinya, namun lagi-lagi ayahnya menghentikannya.
"Besok.. besok Papa akan mengantarmu melamar Reyna secara resmi."
__ADS_1
Evan tak menggubris ia terus melangkahkan kakinya, Papa Hendra hanya menghela napas melihat kepergian anaknya, lalu ia pun pergi kembali ke ruangan istrinya.