
Evan yang kini berada di dalam mobil kembali melihat berkas yang ada di samping nya. Ia menghela nafas berat setelah mengingat kejadian di dalam Restoran tadi.
"Roy apa menurutmu ini terlalu berlebihan?" Tanya Evan pada sang asisten
"tuan ini, tanpa di jawab pun seharusnya ia sudah tahu sikapnya itu sudah menyakiti hati seorang istri."
Ya, seorang istri karena memang pernikahan mereka sudah sah secara agama dan negara, hanya saja Evan belum bisa menerimanya dan membuat semuanya tampak begitu rumit.
"Roy?" ucap Evan ketika tidak mendengar jawaban dari sang asisten
"Maaf tuan, tadi anda bicara apa?"
"ck, sudahlah lupakan." Evan merogoh ponselnya dan mengalihkan pandangannya pada benda pipih itu.
"Tuan apa kita akan kembali ke Rumah sakit?
"Tidak." jawab Evan singkat
"Tapi tuan, bagaimana jika tuan besar dan nyonya besar menanyakan anda?"
"Aku akan menghubungi mereka nanti, lebih baik kita pergi ke perusahaan sekarang."
Roy hanya mengangguk dan melajukan mobil ke arah perusahaan.
Evan benar-benar tidak tahu harus berbicara apa jika ia pergi ke Rumah sakit sekarang, karena sudah dipastikan keluarganya akan bertanya tentang Reyna. Dan saat ini dia tidak tahu di mana keberadaan wanita itu setelah ia meninggalkannya seorang diri di dalam Restoran.
*
*
__ADS_1
Sementara itu Reyna yang memilih pulang ke rumah, segera berjalan ke dalam kamar merebahkan tubuhnya, berusaha untuk tidur.
Bagi Reyna, tidur merupakan salah satu cara yang efektif untuk meredakan masalah, ketika hati pikiran bahkan fisiknya yang mulai lelah karena tekanan dari sebuah masalah, ia lebih memilih merebahkan tubuhnya untuk tidur dan melupakan semua apa yang sedang terjadi, dari pada terus memikirkannya membuat ia semakin lelah dan frustasi.
Waktu terus bergulir, sudah hampir satu jam Reyna tertidur hingga terdengar suara ketukan pintu membangunkannya.
"iya sebentar." Reyna bangun dan membuka pintu kamarnya, ternyata ayahnya sudah berdiri di ambang pintu
"Ayah, kenapa ayah ada di sini? bukannya ayah pergi ke kantor?"
Ayah Andi yang saat itu sedang berada di rumah, melihat Reyna berjalan dengan lesu menaiki anak tangga menuju kamarnya, Ia ingin bertanya namun pintu kamar Reyna sudah tertutup rapat, dan saat hendak pergi ke kantor Ayah Andi malah berpapasan dengan menantunya.
"Ada suami mu di bawah." Bukannya menjawab Ayah Andi malah memberi tahu bahwa menantunya sedang menunggu di bawah.
Reyna mengernyitkan dahi "Suami?" namun sedetik kemudian ia sadar sekaligus terkejut saat mengetahui Evan datang ke rumahnya, Reyna kembali memasang ekspresi seperti biasa "Ah iya aku sampai lupa bahwa aku sudah menikah."
Ayah Andi menatap lekat wajah anaknya yang baru saja bangun tidur.
"Nana.."
Reyna yang hendak masuk ke kamar mandi, terhenti ketika ayah Andi memanggilnya. Reyna membalikan tubuhnya
"Hmm.."
"Apa terjadi sesuatu?"
"Tidak." ia bertingkah sebiasa mungkin untuk menghindari rasa curiga yang tampak terlihat jelas di wajah ayahnya.
Ayah Andi mendekat dan merengkuh putri semata wayangnya. Reyna terdiam dengan pergerakan ayahnya yang tiba-tiba memeluknya "Maafkan ayah."
__ADS_1
"Kenapa ayah minta maaf?" tanya Reyna penasaran.
Hanya karena ingin membalas jasa pada keluarga Mahendra ayah harus mengorbankan putri ayah."
Reyna tertegun mendengar ucapan ayahnya, dalam hatinya bertanya-tanya apakah ayah nya tahu soal hubungannya dengan Evan tidak berjalan baik, bahkan di awal pernikahannya pun pria yang berstatus sebagai suaminya itu malah memberinya surat perjanjian yang tidak masuk di akal.
"Apa Evan yang memberi tahu ayah? Rasanya tidak mungkin"
Reyna melonggarkan pelukannya, "Ayah ini bicara apa, sih?" sejak awal ayah tidak pernah memaksa Reyna untuk menikah kan?, ini memang murni pilihan Reyna sendiri. Jadi untuk apa ayah meminta maaf."
"Lagi pula ayah harusnya bersyukur putri ayah yang cantik ini di nikahi oleh pria tampan dan kaya raya." bisik nya pada sang ayah.
Ayah Andi tersenyum lega, pikiran pikiran buruk yang selama ini mengganggunya terhempas begitu saja setelah melihat putrinya tersenyum bahagia.
"Baiklah ayah, acara Teletubbies nya sudah selesai. sekarang aku ingin ke kamar mandi dan menemui suamiku. kasihan dia jika harus menunggu lama."
"ah iya ayah sampai lupa, pergilah dan jangan lupa berdandan yang cantik supaya suamimu itu tergila-gila padamu."
"Aku sudah cantik dari lahir ayah, jadi tidak perlu berdandan." ucap Reyna dengan percaya diri
"Dasar, anak ini." Ayah Andi memutuskan untuk keluar kamar menemani menantunya yang saat ini sedang menunggu di ruang tamu.
Namun belum sempat pergi, Reyna kembali bertanya "Oh iya ayah, apa Evan membicarakan sesuatu?"
"Tidak," ucap ayah andi sambil mengingat-ingat.
Reyna hanya mengangguk kecil.
"Untuk apa Evan datang ke rumah?" Reyna bermonolog Setelah ayahnya menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Reyna yang mengingat sesuatu hal langsung bergegas menuju kamar mandi sebelum bertemu dengan suaminya.
"Jangan sampai Evan bicara yang tidak-tidak pada ayah."