You & My Destiny

You & My Destiny
Melamar


__ADS_3

Reyna saat ini sedang termenung mengingat kata-kata ayahnya waktu di dalam mobil setelah pulang menjenguk Mama Aneu di rumah sakit.


"Menikah?, bagaimana aku bisa menikah dengan pria dingin dan irit bicara seperti Evan."


Reyna menghela napas panjang, memikirkan keputusan yang akan ia ambil. Di satu sisi ia melihat Evan yang sepertinya enggan berhadapan dengannya tapi di sisi lainnya ia teringat dengan kondisi Mama Aneu, seorang wanita yang sudah ia anggap seperti mamanya sendiri, sesosok wanita yang hadir sebagai pelipur lara di kala ia merindukan figur seorang ibu.


"Aku harus bagaimana?" Reyna menempelkan kepalanya yang terasa pusing di atas meja.


"Kruk..krukk.." terdengar suara perut Reyna yang begitu keras membuat Reyna bangun dari posisinya.


"Ah ya ampun, bahkan aku lupa mengisi perutku." Reyna berjalan keluar kamar hendak mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya agar tidak terus berbunyi dan menggeliat.


Namun ketika keluar kamar ia di kaget kan dengan kedatangan Evan beserta papa nya.


Reyna berbalik arah ingin kembali ke dalam kamar, namun sebelum melangkahkan kakinya ia terlebih dahulu di panggil oleh sang ayah. Akhirnya mau tidak mau Reyna menghampiri ayahnya.


"Kemari lah nak!" ujar sang ayah

__ADS_1


Reyna duduk di samping ayahnya sambil bertanya-tanya dalam hati tentang tujuan Evan dan papa nya yang mendadak datang ke rumahnya.


"Begini nak Reyna, maksud kedatangan kami kemari, kami ingin melamar nak Reyna secara resmi."


Reyna sudah menduga, pasti kedatangan Evan dan papanya ada kaitannya dengan perkataan ayahnya kemarin.


Pak Hendra yang melihat Reyna terdiam kembali melanjutkan pembicaraannya.


"Kami juga datang ke sini atas permintaan Mama nya Evan, sebelum kecelakaan ia sempat ingin membicarakan hal ini, mungkin ayahmu sudah memberi tahu mu sebelumnya."


"Saya tahu, kalian belum saling mengenal. Tapi dengan adanya ikatan pernikahan semoga kalian bisa jauh lebih mengenal satu sama lain."


Reyna melihat jelas kesedihan di wajah Pak Hendra, ia kemudian beralih menatap ayahnya.


"Aku serahkan semua keputusan pada ayah ku, jika ia setuju maka aku pun akan setuju begitu juga sebaliknya."


Pak Andi balik menatap putrinya, menggenggam tangannya. Ini keputusan yang berat baginya, kebahagiaan putrinya ada di tangannya. Di satu sisi ia takut jika perjodohan nya tidak berjalan dengan yang di harapkan, seperti dirinya dan Miranda mama nya Reyna yang harus berakhir dengan perceraian. Tapi di sisi lain ia tidak tega melihat kawannya yang terus memohon untuk membujuk putrinya agar bersedia menikah dengan Evan, di samping itu ia pun merasa punya hutang budi pada kawannya itu karena telah menolongnya di saat terpuruk hingga ia bisa bangkit lagi seperti sekarang ini.

__ADS_1


"Beri aku waktu untuk membicarakan ini dengan anak-anak ku, termasuk Reyhan ia pun harus tahu tentang hal ini." ucap pak Andi kemudian ia melihat ke arah Evan yang sejak tadi diam tidak menunjukan reaksi apapun.


Terlihat dari raut wajahnya, Evan juga sepertinya melakukan hal ini karena terpaksa untuk memenuhi keinginan mama nya. Dan hal itu lah yang membuat Pak Andi ragu untuk menikahkan Evan dengan putrinya, walaupun ia sudah mengenal Evan sejak lama.


"Baiklah, tapi aku tidak bisa menunggu lama." ucap Pak Hendra


Pak Andi hanya menganggukan kepala


"Kalau begitu kami pulang dulu, jika sudah mengambil keputusan tolong beri tahu aku."


"Tentu."


Pak Hendra dan ayah nya kemudian melenggang pergi.


"Tunggu!"


Evan yang hendak membuka pintu harus terhenti dengan teriakan seseorang, begitu pun dengan papanya.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku tidak setuju?" ucap seorang laki-laki yang turun dari atas tangga, yang sejak tadi terus memperhatikan perbincangan antara ke empat orang yang duduk di bawah tadi.


__ADS_2