
"Saya terima nikah nya Reyna Amalia binti Andi Pratama dengan mas kawin tersebut tunai.."
"Bagaimana saksi? sah.."
"SAH"
Suara dari para saksi menggema di setiap sudut ruangan rumah sakit, menandakan dua insan telah resmi menjadi sepasang suami istri.
Ya, Evan dan Reyna kini telah resmi menjadi suami istri, pernikahan mereka pun di lakukan di rumah sakit tentunya dengan seijin dokter.
Tidak ada kata mewah seperti pengantin pada umumnya, pernikahan mereka pun hanya di hadiri oleh penghulu, wali juga para saksi.
Sesuai janjinya Evan mengikrarkan janji sucinya di hadapan sang mama yang saat ini masih dalam keadaan koma.
Terlihat sudut mata mama Aneu yang basah menandakan bahwa wanita paruh baya itu baru saja mengeluarkan cairan bening di kedua matanya, hal itu pun di sadari Evan. Ia langsung mendekati mama nya tanpa memperdulikan Reyna yang saat ini sudah sah menjadi istrinya.
"Ma..Evan sudah melaksanakan janji Evan kepada mama. Sekarang giliran mama yang harus menepati janji Mama." ucap Evan sambil menggenggam tanngan mama nya.
Dan benar saja setelah mengucapakan itu Evan melihat sang mama mulai menggerakan jari-jarinya. Seperti sebuah sandiwara namun inilah takdir dan juga keinginan yang kuat dari seorang mama kepada anaknya.
"Pah.." Evan melihat kearah papa nya dengan bahagia.
Pak Hendra yang melihat itupun langsung memencet tombol untuk memanggil dokter datang ke ruangan istrinya, ia tak perlu susah payah berlari lagi seperti sebelumnya karena dia sudah tahu ada tombol darurat untuk memanggil dokter datang ke ruangan istrinya.
Reyna yang melihat itu tampak berkaca-kaca, ia pun ikut terharu melihat reaksi mama Aneu. Keputusan untuk menikah dengan Evan tidaklah salah, setidaknya ia bisa melihat mama Aneu kembali sadar.
__ADS_1
Mama Aneu perlahan mengerjapkan matanya, pandangan nya yang masih kabur belum bisa melihat jelas siapa saja yang ada di sana, sementara dokter datang memeriksa keadaan nya.
"Syukurlah keadaanya sudah jauh lebih baik, sejauh ini tidak ada kondisi yang perlu di khawatirkan, hanya saja nyonya perlu banyak istirahat agar kondisinya cepat pulih dan nyonya harus melakukan terapi untuk menggerakan otot-ototnya yang kaku selama koma" jelas dokter
"Baik dok, terima kasih." ucap pak Hendra
Dokter yang memeriksa mama Aneu hanya menganggukan kepalanya "Kalau begitu saya permisi."
Setelah kesadaran Mama Aneu pulih seratus persen, ia mulai menatap satu persatu orang yang berada di dekatnya, namun penglihatan Mama Aneu terfokus pada seorang gadis berkebaya putih yang tak lain adalah Reyna dengan riasan bak seorang pengantin namun masih terlihat sangat natural. Mama Aneu tentu saja bertanya-tanya dalam hatinya apa saja yang telah terjadi selama ia koma.
Namun saat hendak ingin bertanya, Evan terlebih dahulu berbicara
"Sebaiknya mama istirahat dulu agar mama segera pulih."
Mama Aneu hanya menganggukan kepala, dan terpaksa harus mengurungkan niatnya untuk bertanya.
beberapa orang mulai berpamitan, begitu juga dengan pak Andi dan juga Reyhan. Kini tinggalah Reyna, Evan dan juga Roy sang asisten.
"Kau ikutlah dengan ku, ada yang perlu kita bicarakan." Ucap Evan dengan nada yang serius
"Kau berbicara dengan ku?"
"Menurut mu?"
Reyna tidak bisa berkata lagi ketika Evan menjawab pertanyaannya dengan pertanyaan.
__ADS_1
"Tapi sebelum itu kau ganti pakaian mu. Pakaian mu itu akan menarik perhatian banyak orang."
Reyna melihat pakaian yang melekat di tubuhnya "Tapi aku__"
"Pakai ini!" Evan menyodorkan paper bag berisikan sebuah dress "Pasti kau tidak membawa pakaian ganti kan?, cepat ganti aku tidak punya banyak waktu." ucapnya dingin.
Reyna hanya diam menatap paper bag yang ada di tangan Evan, entah sejak kapan pria itu menyiapkan sebuah pakaian ganti yang sama sekali tidak ia pikirkan
"Cepat! tunggu apa lagi."
dengan cepat Reyna mengambil paper bag dan mengganti pakaiannya di toilet yang berada tidak jauh dari sana.
Selang beberapa menit, kebaya putih yang di kenakan Reyna kini berubah dengan dress selutut berwarna peach yang membuatnya tampak lebih anggun dan rambut yang tadinya di gulung ia biarkan terurai begitu saja.
Evan yang melihatnya nampak terdiam sejenak, harus ia akui gadis yang di nikahinya sangatlah cantik namun hatinya tetap tidak bisa berpaling dari kekasihnya yang dulu.
Roy yang juga ada di sana merasa sangat canggung melihat kedua insan yang ada disana saling diam tanpa interaksi apapun, sehingga ia berdehem dengan keras untuk sekedar mencairkan suasana.
Evan yang tersadar segera melangkahkan kakinya terlebih dahulu, di ikuti Roy dan juga Reyna
"Sebenarnya kita akan pergi ke mana?" tanya Reyna
Karena tidak ada jawaban Reyna menepuk lengan Roy dan bertanya sekali lagi padanya
"Kita akan ke mana?"
__ADS_1
"Nanti juga nyonya akan tahu."
Reyna terdiam tidak berani untuk bertanya lagi, ia hanya mengikuti kemana Evan dan asistennya pergi.