
"Kalau begitu kita akhiri saja hubungan yang tidak sehat ini?"
Ciiiiittttt
Reyna begitu terkejut ketika Evan mendadak menghentikan laju mobilnya, untung saja jalan yang mereka lewati adalah jalan yang sepi, tidak bisa di bayangkan jika mereka berada di jalanan yang ramai.
"Baiklah jika itu yang kau inginkan" ia kemudian merogoh ponselnya dan menyodorkannya "Hubungi ayahmu dan bilang padanya bahwa aku sudah menyakitimu."
Reyna menatap ponsel yang sedang di pegang Evan. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan amarah yang membuncah di dadanya.
"Ayo tunggu apa lagi."
Alih-alih mengambil ponsel Evan, Reyna justru memalingkan wajahnya keluar kaca mobil.
Evan tersenyum sinis, "Aku tahu kau begitu menyayangi ayahmu," Ucap Evan sambil mengantongi kembali ponselnya, dan melajukan lagi kendaraannya.
Hening, tidak ada lagi percakapan diantara keduanya, hingga mereka tiba di rumah sakit.
Setelah sampai di ruang perawatan Mama Aneu Evan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Reyna.
"Tersenyumlah." Titah Evan sebelum ia masuk kedalam ruangan.
Reyna mendelik "Dasar manusia egois tidak berperikemanusiaan, bisa-bisanya dia menyuruhku tersenyum setelah berulang kali menyakitiku."
Reyna menghirup oksigen sebanyak-banyaknya dan membuangnya secara kasar. Ia mencoba untuk tersenyum selebar mungkin menyembunyikan kekisruhan yang terjadi antara dirinya dan juga Evan.
Begitu masuk Reyna sudah di sambut hangat oleh kedua orang tua Evan.
"Akhirnya kalian datang juga, kemarilah nak" ucap Mama Aneu pada sang menantu sambil menepuk sisi ranjang nya.
Reyna menghampiri Mama Aneu dan duduk di sebelahnya "Bagaimana dengan kondisi Mama?"
"Jauh lebih baik. Mama begitu senang mengetahui kalian sudah menikah." kata Mama Aneu sambil melihat Evan yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Hanya saja Mama tidak turut menyaksikan akad kalian berdua."
"Tidak apa-apa Ma, tidak usah di pikirkan yang terpenting sekarang adalah kesehatan Mama." ucap Reyna lembut sembari menggenggam tangan Mama mertuanya.
"Dan setelah Mama sehat nanti Mama ingin mengadakan acara resepsi untuk kalian berdua."
"Ku rasa tidak perlu." Evan menimpali dengan dingin.
__ADS_1
"Tapi kenapa? kau anak tunggal Mama, sudah sewajarnya Mama mengadakan acara itu agar semua orang tahu kalau kau sudah menikah."
"Evan tidak punya waktu untuk mengadakan pesta, Lagi pula Reyna juga tidak akan keberatan jika tidak mengadakan acara itu, bukan begitu kan Reyna?" Evan menatap Reyna dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Iya Ma, Reyna juga pasti akan sibuk karena harus mengerjakan tugas akhir kuliah." ucap Reyna dengan senyum palsunya.
"Baiklah kalau begitu kita adakan resepsinya setelah Reyna lulus kuliah, dan ini tidak boleh di bantah." tegas Mama Aneu
"Terserah Mama saja." Evan akhirnya mengalah ia tidak mau berdebat lagi dengan Mamanya itu.
Papa Hendra yang sejak tadi diam mendengar perdebatan antara istri dan anaknya pun mencoba menengahi "Sudahlah Mah, masih banyak waktu untuk membahas masalah ini, lebih baik mamah fokus dulu pada kondisi Mama saat ini."
Mama Aneu terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.
"Apa kau akan kembali ke kantor?" tanya Papa Hendra pada anaknya.
"Ya, sebentar lagi aku ada pertemuan dengan calon investor." ucap Evan sambil melihat jarum jam di tangan nya yang menunjukkan angka 12 kurang 15 menit.
Papa Hendra hanya mengangguk, ia tak perlu lagi mengkhawatirkan masalah perusahaan karena Evan sudah mengendalikannya dengan baik.
"Pah.." panggil Mama Aneu pafa suaminya, "Papa pulanglah dulu, Papa juga perlu istirahat, Mama tidak tega melihat Papa terus tidur di atas sofa" ucap Mama Aneu yang terdengar begitu prihatin, namun sebenarnya Mama Aneu sedang mengusir suaminya secara halus agar ia lebih leluasa berbicara berdua dengan Reyna mengenai Evan. Ia hapal betul bagaimana sikap Evan yang selama 5 tahun terakhir ini sudah mulai berubah.
Reyna tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Reyna sudah setuju Pah, jadi Papa pulang saja istirahat dan tidur yang nyenyak."
Papa Hendra tetap saja keukeuh pada pendirianya, ia tidak akan pulang sebelum istrinya itu pulih seratus persen dan Mama Aneu tinggal diam ia terus saja membujuk suaminya agar mau pulang.
"Pa.., Papa tenang saja Reyna janji akan menjaga Mama dengan baik." Reyna berusaha meyakinkan Papa Hendra, agar Papa mertuanya itu tidak perlu risau meninggalkan Mama Aneu bersamanya.
Setelah di bujuk ke sekian kalinya akhirnya Papa Hendra mau pulang juga "Baiklah kalau begitu, Papa pulang dulu tapi ingat Mama harus banyak istirahat dan jangan terlalu lelah." nasihatnya.
"Yes akhirnya..." sorak Mama Aneu dalam batinnya.
Papa Hendra kini tengah bersiap untuk pulang, namun sebelum itu ia menghampiri Mama Aneu dan mengecup kening istrinya itu "Papa pulang dulu, ingat_"
"Jangan terlalu lelah dan banyak istirahat." pungkas Mama Aneu.
"Menantuku tolong jaga Mama mertuamu, jangan biarkan dia terlalu banyak mengoceh."
__ADS_1
Reyna tertawa lalu menganggukkan kepalanya. Ia begitu iri dengan keharmonisan Papa dan Mama mertuanya, tidak seperti ayah dan ibunya yang harus berakhir dengan perceraian bahkan sampai sekarang ia belum pernah bertemu dengan ibunya lagi, tidak tahukah ia bahwa Reyna selalu merindukannya bahkan mengkhawatirkannya.
Belum lagi tentang rumah tangganya dengan Evan, yang ia sendiri tidak tahu kelanjutannya akan seperti apa.
"Papa mertuamu itu sulit sekali dikasihani, bahkan di suruh pulang untuk istirahat saja dia harus di bujuk sedemikian rupa." keluh Mama Aneu
"Itu artinya Papa sangat menyayangi Mama, buktinya Papa ingin terus berada di samping Mama sampai Mama sembuh total."
"Iya kamu benar." Mama Aneu termenung mengingat semua yang di lakukan suaminya, bahkan suaminya itu mau saja di ajak bersandiwara membohongi putranya agar mau menuruti permintaannya.
Lama termenung Mama Aneu sampai lupa ingin membicarakan hubungan Reyna dan juga Evan, namun saat ingin bertanya ternyata Evan masih berada di sana.
"Evan, kenapa kau masih di sini?, pergilah bukannya kau ada pertemuan sekarang?" tanya Mama Aneu pada Evan yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Mama mengusirku?" protes Evan
"Tidak, Mama hanya mengingatkanmu."
"Ck, baiklah Evan pergi, Mama jaga diri baik-baik." Evan yang hendak ingin keluar harus terhenti karena teriakan Mama Aneu.
"Apalagi Ma?" ucap Evan sambil membalikkan badannya.
"Kau melupakan sesuatu."
"Apa?"
"Kau tidak mencium istrimu sebelum pergi? Papa mu tadi mencontohkannya, apa kau tidak lihat tadi?"
Reyna melebarkan kedua matanya sementara Evan, ia hanya mengernyitkan dahinya.
Reyna yakin seratus persen Evan tidak akan sudi melakukan hal itu. Reyna tertawa sinis, Menciumnya? bahkan untuk menyentuhnya pun ia pasti enggan.
Namun di luar dugaan, Evan ternyata mendekat kearahnya dan 'Cup' Evan mengecup rambut Reyna walau hanya sekilas.
"Aku pergi." ucap Evan sebelum ia berlalu dari dalam ruangan.
"Kau itu sudah seperti putri malu saja harus di sentil dulu baru peka." kata Mama Aneu sambil tersenyum.
Sementara Reyna hanya terdiam, tubuhnya terasa berdesir dunianya seolah terhenti ketika Evan mengecup puncak kepalanya.
__ADS_1
"Ingat Reyna dia itu hanya bersandiwara."