
Reyhan tidak bisa fokus bekerja setelah tadi adiknya menelepon dan mengatakan bahwa kejadian lima tahun lalu adalah kejadian bunuh diri, padahal kenyataannya tidak seperti itu.
Kehilangan sebagian ingatan membuat adiknya tidak mengetahui apapun.
Reyhan memilih keluar dan pergi ke toilet. Di sana ia melihat pantulan dirinya di cermin, mengambil gelang yang ada di saku celananya, gelang yang di tanyakan oleh adiknya.
Tadinya ia akan memberikan gelang itu pada Reyna tapi ketika mendengar pernyataan adiknya itu, membuat ia mengurungkan niatnya. Ia takut Reyna akan kembali terpuruk mengingat siapa pemilik dari gelang itu.
"Jadi gadis itu adalah kekasihnya Evan."
Tidak bisa di pungkiri, takdir berjalan dengan begitu apik, setelah bertahun-tahun lamanya mereka di ingatkan lagi pada kejadian itu, kejadian yang begitu naas sehingga membuat Hana harus kehilangan nyawanya.
Reyhan menyimpan kembali gelang itu di saku celananya, ia tidak akan membiarkan Reyna memakai gelang itu lagi, apalagi Reyna sekarang sudah tinggal bersama Evan. Dapat di pastikan gelang itu akan mengingatkan Evan pada kekasihnya, dan juga Evan akan merasa curiga jika Reyna memakai gelang yang sama persis seperti yang di miliki oleh kekasihnya.
Reyhan membasuh wajahnya dengan air sebelum akhirnya ia kembali ke tempatnya bekerja.
***
Reyna bangun dari tidur nya, mengerjapkan mata dan melihat jam di pergelangan tangannya.
Biasanya jam segini Reyna masih sibuk dengan perkuliahannya. Tapi hari ini dia hanya menyerahkan hasil analisisnya, selebihnya dia akan mengurus dan mengerjakan skripsinya.
Reyna menghela napas panjang ketika ia melihat barang-barangnya sudah di pindahkan ke apartemen Evan, jadi tidak ada yang bisa ia lakukan di sini.
Reyna yang sedang tidur terlentang sambil melihat langit-langit kamarnya, tiba-tiba teringat sesuatu.
"Mama Aneu?, ah ya ampun bagaimana aku bisa melupakannya."
Reyna segera bangun dari tidurnya, pergi ke toilet yang ada di kamarnya dan membasuh wajahnya, setelah itu ia pergi ke dapur hendak memasak sesuatu untuk ia bawa ke Rumah sakit, setidaknya ia pergi ke sana tidak dengan tangan kosong.
***
Di jam istirahat Reyhan memilih pergi keluar, mencoba menenangkan pikirannya yang sejak tadi kalut karena memikirkan adiknya.
Kini ia tengah berada di sebuah cafe, di temani dengan secangkir kopi dan juga rintik hujan di luar jendela cafe.
Tak berselang lama, Reyhan mengalihkan pandangannya dari jendela ke arah Sena yang datang dari arah luar dan terlihat sedang marah-marah.
Entah menyadari atau tidak, Sena duduk begitu saja di hadapan Reyhan sambil mengumpat pada ponsel nya.
"Dasar meyebalkan, dia pikir dia itu siapa." Ucapnya sambil mematikan ponsel dengan kasar, lalu menenggelamkan kepalanya di atas meja tanpa menyadari kehadiran Reyhan di sana.
Reyhan yang sejak tadi memperhatikan Sena hanya bisa mengulum senyum,
__ADS_1
"Siapa yang menyebalkan?"
Sena begitu kaget mendengar suara yang di kenalnya, bahkan ia hampir saja terjengkang kebelakang jika saja Reyhan tidak sigap memegng tangannya. Sena celingukan lalu ia kembali melihat ke arah Reyhan dengan wajah bingungnya "Se..sejak kapan kau ada disini?"
"Sejak kau belum duduk di sana." Ucap Reyhan sambil menunjuk tempat duduk yang ada di depan dengan dagunya.
"Ya ampun Sena kenapa kau selalu berubah menjadi orang bodoh ketika berhadapan dengannya." Batinnya
Sena segera beranjak dari tempat duduknya, tidak baik bagi jantungnya jika terlalu lama berada di dekat Reyhan.
Namun Reyhan kembali menahan tangannya. "Duduklah, setidaknya temani aku untuk 30 menit ke depan."
Sena melihat tangannya yang masih di pegang oleh Reyhan, tadinya ia ingin menolak namun ketika melihat ada guratan kesedihan di wajah Reyhan, akhirnya ia duduk kembali dan mengurungkan niatnya untuk berpindah tempat. "Baiklah, hanya untuk 30 menit tidak lebih."
Reyhan melepaskan tangan Sena lalu meneguk kopi nya yang mulai hampir dingin "Siapa yang meneleponmu?"
"Bukan siapa-siapa."
Reyhan hanya mengangguk.
"Ku pikir tadi kau sengaja menelepon seseorang dan duduk di depanku, hanya karena ingin bersamaku."
Sena mendelik melihat ke arah Reyhan "PD sekali anda."
"Kau sendirian di sini?" Tanya Sena sembari melirik ke sana kemari, coba memastikan bahwa Reyhan memang sendirian. Ia tidak mau jika nanti ada orang yang datang tiba-tiba menariknya lalu mengusirnya seperti drama-drama perselingkuhan di serial Televisi. "Kau tidak sedang berkencan kan?"
"Jika aku sedang berkencan, aku tidak akan menarikmu untuk menemaniku di sini. Lagi pula ini hari kerja, mana mungkin aku pergi berkencan. Asal Kau tahu aku sedang galau saat ini."
Sena tertawa lepas mendengar curahan hati seorang Reyhan, Pria yang selalu menjadi idola di sekolahnya dulu. "Gaya bahasamu sudah seperti anak muda saja."
Reyhan menatap wajah Sena dengan lekat, si gadis kutu buku dengan kaca mata tebal dan juga bandana di kepalanya.
Tapi kini gadis itu sudah berubah menjadi lebih dewasa, wajah yang dulu terlihat cupu kini tampak lebih cantik dengan polesan make up yang natural tanpa kaca mata dan juga bandana.
Sena menghentikan tawanya saat ia menyadari bahwa Reyhan kini tengah menatapnya. Ia mencoba menetralkan dirinya dengan membenhi cara duduknya.
Namun bukannya tenang Sena malah semakin gugup di kala Reyhan terus saja menatapnya bahkan pria itu sampai memiringkan kepala dengan tangan sebagai penyangganya.
"Jangan melihatku seperti itu."
"Kenapa? Apa kau gugup di tatap oleh pria tampan seperti diriku?"
Sena lagi-lagi tertawa, "Tampan itu relatif jadi jangan sombong."
__ADS_1
Reyhan menegakan badan nya, raut wajahnya kembali serius.
Sena yang melihat perubahan mimik wajah Reyhan lantas bertanya, "Ada apa? Apa ada masalah?"
"Apa adik ku sering mengunjungi mu?" bukannya menjawab Reyhan malah balik bertanya.
"Tidak sering, belum lama ini dia memintaku untuk bertemu. Memangnya kenapa? Apa ingatannya sudah kembali?"
Reyhan menggeleng "Belum."
"Maaf waktu itu aku kelepasan bicara, aku pernah mengatakan pada Reyna jika dia kegilangan ingatan bukan karena kecelakaan melainkan karena trauma yang di alaminya."
Reyhan melihat ke arah Sena dengan serius sementara Sena hanya menundukan kepalanya "Sekali lagi aku minta maaf"
"Kau tidak perlu meminta maaf, karena lambat laun Reyna pasti akan mengingatnya kembali."
"Oh iya Apa kau tahu? Gadis yang terjatuh di atas rooftop rumah sakit Adhitama? Dia adalah kekasihnya Evan, suami Reyna saat ini."
Reyhan menghela napas sejenak lalu kembali meneruskan ucapannya
"Dan itulah yang aku khawatirkan, jika suatu saat Evan mengetahui dan menyalahkan adik ku atas kejadian yang menimpa kekasihnya lima tahun lalu."
Sena mencoba mencerna kata-kata Reyhan, ia benar-benar bingung dengan pembicaraan pria yang ada di hadapannya ini.
"Tunggu dulu, Evan? Siapa Evan? Dan suami? Memang nya Reyna sudah menikah?. Aku benar-benar bingung dengan apa yang kau bicarakan."
"Ah aku lupa bahwa kau tidak tahu jika adik ku sudah menikah."
Sena jelas terkejut mengetahui fakta bahwa Reyna telah menikah, pasalnya ia tidak mendengar ada pesta pernikahan atau menerima undangan.
"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda kan?"
"Untuk apa aku bercanda." Reyhan melirik jam di pergelangan tangannya "Maaf, aku harus kembali bekerja, ini sudah lebih dari tiga puluh menit. Terima kasih atas waktumu."
Reyhan hendak pergi namun Sena menahannya.
"Tunggu, ada banyak pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu."
"Nanti saja di lain waktu, sekarang aku harus kembali bekerja. Jika aku di pecat bagaimana, aku tidak akan punya biaya untuk melamarmu." Ucap Reyhan sambil tersenyum.
"What? Ka..kau bilang apa?"
Namun Reyhan hanya melengos pergi tanpa memperdulikan Sena yang saat ini tengah kebingungan.
__ADS_1
"Tadi dia bilang apa?"