You & My Destiny

You & My Destiny
Bab 23


__ADS_3

Evan membelalakkan kedua matanya ketika melihat foto kesayangan nya pecah begitu saja.


Sementara Reyna, ia melihat dengan jelas wajah Evan yang memancarkan aura kemarahan. Dia benar-benar tidak sengaja menjatuhkan foto itu, tangan nya reflek melepaskan apa yang di pegang nya karena kaget mendengar suara seseorang.


Evan berjalan dengan cepat melewati Reyna yang masih terdiam di tempatnya. Ia lantas berjongkok mengambil foto Hana dan membersihkan pecahan kaca yang berserakan.


Reyna yang tersadar langsung ikut berjongkok membersihkan pecahan kaca yang ada di bawah kakinya.


"Apa Roy tidak mengatakan padamu, bahwa kau di larang masuk ke tempat pribadi ku." ucap Evan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Reyna, dan sebisa mungkin ia tahan amarah nya.


"Roy sudah mengatakan nya tapi aku_"


"Lalu kenapa kau masih memasuki tempatku?" Bentak Evan sambil berdiri. Amarah yang di tahannya meluap begitu saja setelah mendengar perkataan Reyna yang seolah-olah sengaja masuk ke dalam ruangannya.


"Maaf." Hanya itu yang bisa Reyna katakan, ia tahu yang di lakukannya salah, di tambah lagi ia sudah merusak barang berharga milik Evan.


Evan kembali berjongkok, merapikan pecahan kaca secara kasar.


"Shitt.." umpat Evan ketika serpihan kaca itu menusuk jari tangannya.


Reyna mencoba mendekat, ia ingin mencabut serpihan kaca yang tertancap di jari Evan.


"Berhenti! Dan pergilah dari kamarku." Ucap Evan ketika Reyna mendekat ke arahnya.


"Tapi tanganmu terluka"


Evan melihat kearah Reyna dengan gusar "Apa kau tidak punya pendengaran? Aku bilang pergi ya pergi." sentaknya


"Baiklah aku akan pergi, tapi sebelum itu izinkan aku untuk mengobati luka mu terlebih dahulu."


Evan menghela napas panjang, ternyata berbicara dengan Reyna butuh kesabaran yang ekstra. Evan kemudian mengambil tisu yang ada di dalam nakas untuk menutup luka agar darah yang ada di jari tangannya tidak berceceran ke mana-mana.


"Pergilah, sebelum nada bicaraku kembali naik." ucap Evan sambil membelakangi Reyna.


Mau tidak mau akhirnya Reyna pergi dari sana meninggalkan Evan yang masih sibuk mengelap darah di tangannya dengan tisu.


Setelah melihat Reyna pergi, Evan kembali membersihkan serpihan kaca yang berserakan di lantai. Evan tidak memiliki pembantu, ia selalu memanggil jasa kebersihan untuk membersihkan apartemennya. Dan saat ini ia tidak memanggil jasa kebersihan karena itu hanya akan membuang waktu.


Evan merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah membersihkan kamarnya dari serpihan kaca, ia lantas melihat foto Hana yang sudah terpisah dari figuranya.


Flash back ON


Di tepi Danau tampak seorang wanita tengah duduk seorang diri. Rambutnya yang hitam panjang terurai bergerak kesana kemari seiring dengan tiupan angin yang berhembus.


Wanita itu adalah Hana. Ia sepertinya sedang menunggu seseorang, karena sejak tadi ia menengok ke belakang berharap orang yang di tunggunya muncul. Namun setelah lima belas menit berlalu orang itu tak kunjung menunjukan batang hidungnya.


Hana melemparkan batu ke tengah danau untuk mengusir rasa bosan. Hana menghentikan aktifitasnya ketika kedua matanya di tutup oleh tangan seseorang.

__ADS_1


Hana melepaskan tangan yang menutup matanya, kemudian ia melihat ke belakang dan tersenyum.


"Evan, akhirnya kau datang juga."


"Maaf sudah menunggu lama." Evan ikut duduk di sebelah Hana. "Oh ya aku punya sesuatu untuk mu."


"Benarkah?"


"Tapi sebelum itu tutup dulu mata mu."


"Baiklah." ucap Hana sambil menutup kedua mata nya namun beberapa detik kemudian dia kembali membuka kedua matanya "Jangan yang aneh-aneh ya."


"Apa aku pernah memberi sesuatu hal yang aneh padamu?"


Hana menggeleng


"Kalau begitu tutup mata mu." Evan mengeluarkan benda dari dalam tas nya setelah melihat Hana menutup matanya.


"Mana tanganmu."


Hana menurut saja, ia menengadahkan tangan nya, kemudian Evan memakaikan gelang zamrud berwarna hijau dengan emas putih berbentuk rantai di tangan Hana.


"Sekarang kau boleh membuka matamu."


Perlahan-lahan Hana membuka mata dan melihat gelang yang ada di tangannya. "Apa ini tidak terlalu berlebihan?"


"Pasti harganya sangat mahal, iya kan?"


Evan tersenyum ketika mendengar celotehan kekasihnya ini "Tidak ada yang lebih mahal dari dirimu."


"Gombal." Hana terkekeh hingga terlihat deretan giginya yang rapi.


Cekrek


Evan mengarahkan kamera ke arah Hana.


"Evan hentikan, kau tahu bukan aku tidak suka di foto." ucap Hana sambil menutup lensa kamera dengan tangannya.


"Kenapa memang?" tanya Evan, ia terus saja sibuk dengan kameranya dan memotret Hana dengan asal "Sayang sekali jika kecantikan mu ini tidak di abadikan."


Cekrek, cekrek


"Evan aku mohon berhentilah." Rengek Hana


Evan lantas tertawa ketika melihat Hana merengek seperti anak kecil. "Baiklah aku akan berhenti, tapi sebelum itu kau harus berpose dengan benar."


"Aku tidak mau."

__ADS_1


"Ya sudah." Evan kembali memotret Hana dengan asal.


"Baiklah.. Baiklah aku akan berpose dengan benar tapi kau harus janji untuk berhenti memotretku, ok."


"Ok"


Hana kemudian duduk menghadap Evan, menegakkan badannya dengan wajah yang datar.


Evan kembali tertawa, gaya yang ditunjukan Hana seperti gaya orang yang mau mencetak KTP. Evan kemudian mendekat ke arah Hana mengarahkan tubuhnya agar berpose dengan cantik.


"Tahan ya!" ucap Evan yang terlihat seperti seorang fotografer "Senyum, chees."


Hana hanya menurut saja dengan apa yang di lakukan Evan kemudian ia tersenyum memperlihatkan lesung di kedua pipinya.


Untuk beberapa saat Evan terdiam, ia begitu terpana melihat senyuman yang di tunjukan oleh Hana, meskipun kini ia melihatnya melalui celah kamera.


"Sudah belum?" Ucap Hana ketika melihat Evan terdiam tanpa pergerakan apapun.


"Ah sebentar." Evan tersadar dar lamunannya, kemudian ia memfokuskan lagi kameranya ke arah Hana.


"Tahan ya. Satu.. dua.."


Cekrek


Evan melihat hasil jepretannya di kamera "Perfect." Lalu Evan melihat ke arah Hana, lagi-lagi ia tertawa melihat Hana masih dengan pose yang sama. Dia mendekat ke arah Hana membawa Hana ke dalam dekapannya.


Hana tersenyum dan ikut mendekap Evan dengan erat. Ia benar-benar bersyukur Tuhan mengirimnya seseorang, karena di dalam hidupnya ia tidak memiliki siapapun selain Evan.


Flash back OFF


Evan kini tengah terlelap, satu tangannya memegang foto Hana dan tangan yang lainnya berada di atas dahinya.


Tanpa mengganti pakaian Evan tertidur begitu saja, hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya, bahkan rasa dahaga yang sempat di rasakannya hilang berganti dengan rasa kantuk yang menyerangnya


Sementara di dalam kamar lainnya Reyna tengah mengusap air mata yang mwngalir di pipinya, mengeluarkan rasa sesak yang ada di dalam dadanya karena tadi Evan membentaknya berulang kali.


"Ayolah Reyna ini belum seberapa." ucapnya pada diri sendiri


Namun di detik betikutnya Reyna teringat sesuatu "Gelang."


Ya dia langsung mencari gelang yang sama persis seperti apa yang di pakai Hana di dalam foto, ia takut gelang itu hilang berhubung barang-barang nya di pindahkan bukan olehnya sendiri.


Lama mencari tapi Reyna tidak kunjung mendapati gelangnya itu. "Mungkin gelangnya tertinggal di rumah ayah."


Reyna ingin pergi ke rumah ayahnya untuk memastikan gelang itu ada di sana, tapi ia mengurungkan niatnya ketika melihat jam yang ada di dinding kamarnya yang menunjukan pukul delapan lebih lima belas menit


"Lebih baik besok saja aku pergi ke rumah ayah."

__ADS_1


__ADS_2