
Setelah keluar dari ruangan Evan menyeka bibir dengan punggung tangannya secara kasar, jika saja itu bukan perintah Mama nya yang sedang sakit, ia mana mau untuk menciumnya, jangankan menciumnya menyentuhnya pun ia tidak akan mau.
Namun ada satu hal yang membuat ia seperti tertarik dan mendekat kearah Reyna, hingga bibirnya berlabuh di atas puncak kepala gadis itu. Ia menghirup aroma wangi di rambut Reyna, aroma parfum yang sama yang mengingatkan nya pada seseorang yang sangat ia cintai. Evan berkilah mungkin mereka punya selera yang sama.
Sementara di dalam ruangan kini hanya ada Mama Aneu dan juga Reyna. Mama Aneu begitu senang ketika mengetahui orang yang pernah menyelamatkan nya kini sudah menjadi menantunya, namun ada satu hal yang selalu menjadi pertanyaannya, apakah hubungan Evan dan Reyna terjalin dengan baik? Karena setahu nya Evan selalu menolak jika di jodohkan.
"Bagaimana kabar mu nak?" ucap Mama Aneu basa-basi
"Aku baik Ma." jawab nya ramah
"Bagaimana hubungan mu dengan Evan? Apa dia memperlakukan mu dengan baik?" tanya Mama Aneu pada akhirnya. Karena memang itulah yang ingin ia tanyakan.
Reyna menatap lekat Mama mertuanya "Kenapa Mama bertanya seperti itu?"
Mama Aneu meluruskan pandangannya kedepan dengan helaan napas yang berat "Mama juga tidak tahu ingin berbicara apa, Sikap Evan kini telah banyak berubah semenjak kepergian kekasihnya Lima tahun yang lalu."
"Kekasih?" tanya Reyna seolah-olah ia tidak tahu mengenai kekasih Evan yang telah tiada.
Mama Aneu mengalihkan pandangannya ke arah Reyna.
"Maaf jika kamu harus mendengar ini, tapi kamu harus tahu bahwa Evan adalah orang yang baik dan penyayang, hanya saja obsesinya yang terlalu tinggi membuat ia menjadi orang yang dingin dan tidak berperasaan." ucap Mama Aneh panjang lebar
"Jika Reyna boleh tahu siapa nama kekasih Evan? dan kemana kekasihnya itu pergi?" Reyna begitu penasaran tentang sosok yang terlihat begitu istimewa di mata Evan sehingga ia menutup rapat-rapat hatinya untuk wanita lain termasuk dirinya.
Mama Aneu kembali meluruskan pandangannya ke depan mencoba menyelami kehidupan 5 tahun silam, kehidupan yang membuat putranya frustasi karena telah kehilangan orang terkasihnya.
"Namanya Hana dan dia sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Dari yang Mama dengar Hana mengakhiri hidupnya dengan terjun dari atas roof top Rumah sakit milik keluarga Adhitama. Mama juga tidak tahu persis kejadiannya seperti apa, yang jelas Mama selalu merasa bersalah, Mama selalu berpikir bahwa Hana melakukan hal senekad itu karena tidak kunjung mendapat Restu dari Mama."
__ADS_1
Mama Aneu menjeda ucapannya dengan helaan napas yang sangat berat. Tanpa ada keraguan Mama Aneu kembali menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Reyna hanya mendengar tanpa menyela ataupun memotong pembicaraan, ia biarkan Mama Aneu menyelesaikan ceritanya.
Tanpa di pinta sebuah cairan bening mengalir begitu saja membasahi pipi Mama Aneu ketika menceritakan kisah yang begitu pilu, kisah mengenai putranya yang selama 5 tahun terakhir ini menjadi pribadi yang berbeda menurutnya.
Mama Aneu menyeka air mata di pipinya, kemudian ia menatap Reyna lekat-lekat sambil menggenggam tangan menantunya itu. "Reyna, Mama mohon padamu tetaplah berada di sisi Evan, mungkin saat ini Evan sedang kehilangan jati dirinya, maka dari itu sikap nya berubah dingin dan tak tersentuh" pinta Mama Aneu.
Reyna hanya mengangguk sambil tersenyum, ia tidak mau menaruh kesedihan lebih dalam di wajah Mama mertuanya itu.
"Terima kasih nak,"
"Mama istirahatlah, bukan kah tadi Papa bilang Mama tidak boleh kelelahan."
Mama Aneu menggelengkan kepalanya, "Mama tidak lelah, justru Mama ingin jalan jalan keluar Mama bosan harus terus tidur di sini."
Setelah mendapatkan izin dari dokter Reyna kembali ke ruangan Mama Aneu dengan mendorong sebuah kursi roda.
Reyna mencoba mendudukkan Mama Aneu di kursi roda dengan di bantu oleh seorang perawat yang ada di sana.
"Apa Mama ingin pergi ke taman?" tanya Reyna ketika mereka berada di lorong Rumah sakit.
"Boleh."
Dengan senang hati Reyna mendorong kursi roda menuju taman yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruangan Mama Aneu di rawat.
Mama Aneu terlihat begitu antusias, apalagi ketika ia melihat ada beberapa anak kecil yang sedang bermain di sana.
__ADS_1
Berbeda hal nya dengan Reyna yang sejak tadi memikirkan perkataan Mama Aneu saat di dalam ruangan tadi mengenai satu nama, siapa lagi kalau bukan Hana.
"Hana?, Kenapa akhir-akhir ini aku merasa pernah bertemu atau mendengar tentang seseorang."
Batinnya terus bermonolog sampai-sampai ia tidak mendengar Mama Aneu berbicara.
"Reyna.." panggil Mama Aneu sambil menepuk lengan Reyna.
"Ah iya, apa Mama perlu sesuatu?" ucap Reyna yang kini kembali fokus.
"Apa kau baik-baik saja?" bukannya menjawab Mama Aneu malah balik bertanya.
"Aku baik-baik saja Ma. Apa Mama membutuhkan sesuatu?" tanyanya sekali lagi
"Sepertinya Mama sudah lelah. Mama ingin kembali ke dalam dan beristirahat."
Reyna mengangguk mengiyakan lalu mendorong kursi roda yang di duduki Mama Aneu untuk kembali ke dalam ruangan.
Beberapa saat kemudian, Mama Aneu yang terlihat lelah sudah terlelap di atas ranjang. Sementara Reyna, ia masih tetap terjaga sembari mengingat sesuatu yang mungkin saja bisa memberinya jawaban dari semua pertanyaan yang bersarang di benaknya.
Entah kenapa saat mendengar nama Hana, ia seperti sedang melupakan sesuatu hal yang sangat penting.
"Rumah sakit milik keluarga Adhitama?, apa itu Adhitama Hospital?" Reyna teringat sesuatu kemudian ia mengambil ponsel yang ada di dalam tas, ia mencoba membuka catatan yang pernah ia ketik di ponsel miliknya.
"Bukankah lima tahun lalu aku juga pernah di rawat di sana?"
Reyna seperti tengah menemukan titik terang, dan ia tahu kepada siapa ia harus bertanya.
__ADS_1