
Reyna yang kini sedang menatap dirinya di cermin di kejutkan oleh suara ketukan pintu dari arah luar.
"Masuk saja pintunya tidak di kunci."
Ternyata orang yang di balik pintu adalah kakaknya Reyhan
"Cepatlah! kau sudah di tunggu ayah di luar." ucapnya
"Sebentar lagi."
Reyna mengambil tasnya di dalam lemari dan hendak ingin keluar, namun melihat kakaknya yang masih berada di sana, ia lantas bertanya
"Bukannya kakak ada jadwal kencan? kenapa masih santai saja?"
"Kencan apanya? ayah itu hanya mengada-ngada." Jawab Reyhan dengan santai
"Jadi semua itu tidak benar? aah sayang sekali tadinya aku ingin merayakannya." Ucap Reyna usil.
"Sudahlah, lebih baik kau segera pergi ayah sudah menunggu mu dari tadi."
"Kak Rey, kenapa kau tidak ikut saja." kata Reyna saat melihat kakaknya hendak pergi.
Reyhan berhenti sejenak dan membalikan badannya "Aku tidak mau merusak acara perjodohanmu."
"Perjodohan? tapi ayah tidak bilang bahwa ini acara perjodohan."
Rehan hanya mengedikkan bahu lalu beranjak pergi.
Reyna sempat merenung sejenak sebelum ayahnya memanggilnya.
Di dalam mobil, Reyna memberanikan diri untuk bertanya pada ayahnya tentang perkataan Reyhan tadi.
"Ayah apa benar aku akan di jodohkan? dengan anak Pak Hendra?" tanya nya ragu.
Andi ayah Reyna hanya tersenyum, ia sudah menebak pasti kakaknya yang memberi tahunya.
Ayah Andi memegang tangan putrinya
"Ayah hanya ingin mempertemukan mu dengannya, Pak Mahendra sendiri yang memintanya, ayah tidak bisa menolak permintaannya. kau tahu sendiri Pak Mahendra sudah banyak membantu ayah."
"Jadi benar aku akan di jodohkan."
Ayah Andi yang melihat raut wajah putrinya berubah murung mencoba untuk menghiburnya.
"Nana tidak perlu khawatir, jika Nana tidak suka Nana berhak menolak, ayah tidak akan memaksa."
Reyna hanya mengangguk kecil mengiyakan.
Setelah sampai di kediaman Mahendra Reyna dan juga ayahnya di sambut hangat oleh sang pemilik rumah.
"Nak Reyna?"
Reyna sempat kaget namun kemudian ia tersenyum ketika seorang wanita memanggilnya, wanita yang tadi pagi sempat ia tolong.
"Mama mengenalnya?" tanya Pak Hendra penasaran
Tanpa rasa canggung Mama Aneu langsung merangkul lengan Reyna
"Ini loh Pah, gadis yang mama ceritain, gadis yang menolong mama saat hampir tertabrak tadi pagi."
__ADS_1
Pak Andi yang terkejut dengan penuturan istri Pak Hendra ini, lantas melihat anaknya yang sedang tersenyum.
"Terima kasih telah menolong istri saya." ucap Pak Hendra tulus.
"Tidak perlu berterima kasih, saya hanya kebetulan lewat."
"Tetap saja kami harus mengucapkan terima kasih, kalau tidak ada kamu mungkin istri saya tidak berada di sini." Ucap Pak Hendra lagi.
"Lebih baik bicaranya di dalam saja, di sini dingin, Ayo!" Mama Aneu masih merangkul Reyna dan mengajaknya untuk masuk kedalam.
"Mari!" pak Hendra juga mempersilahkan temannya ini untuk ikut masuk ke dalam
"Di mana putramu?" tanya Andi
"Sebentar lagi dia datang."
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya orang yang di tunggu-tunggu datang juga.
"Maaf aku terlambat"
Reyna menoleh, ia di buat kaget lagi dengan seseorang yang baru saja datang.
"Dunia memang tak selebar daun kelor." batinnya
"Duduklah!"
Dengan ekspresi dingin dan tak bersahabat, Pria itu lantas duduk seperti apa yang di perintahkan ayahnya.
Sementara Reyna yang sedari tadi memperhatikannya terus berpikir. "Aku yakin aku pernah bertemu dengannya sebelumnya, tapi di mana?" Reyna begitu penasaran larut dalam pemikirannya sambil memperhatikan pria yang ada dihadapannya, sampai dirinya tidak sadar bahwa Mama Aneu juga memperhatikannya.
"Pak Andi, Reyna perkenalkan ini putra semata wayang kami namanya Evan Mahendra." Pak Hendra memulai perbincangan.
Evan tersenyum sekilas kemudian auranya berubah dingin kembali.
Di sela-sela makan malamnya, kedua keluarga ini berbincang banyak hal. Pak Hendra dan Pak Andi berbicara mengenai bisnis yang sedang mereka jalani. Sementara Mama Aneu terus bertanya tentang hal-hal pribadi mengenai Reyna. Namun lain halnya dengan Evan, pria itu hanya fokus menyantap makan malam nya tanpa mengeluarkan suara, ia hanya akan bicara saat ada yang bertanya saja.
"Ibumu tidak datang?" tanya Mama Aneu tiba-tiba.
"Ibuku__" Reyna bingung harus menjawab apa, pasalnya hampir 5 tahun Reyna belum bertemu lagi dengan ibunya.
"Kami sudah bercerai sejak 5 tahun lalu." Ucap ayah Reyna, ia tahu bagaimana Reyna terlihat kesulitan untuk menjawab.
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu." Ucap Mama Aneu menyesal
"Tidak apa-apa."
Mereka melanjutkan kegiatan makan malam mereka, hingga beberapa saat Mama Aneu bertanya kembali
"Oh ya Reyna, apa kamu sudah punya kekasih?"
Reyna menggelengkan kepalanya.
"Belum," Jawabnya singkat
"Wah kebetulan sekali, Evan juga masih menjomblo sampai saat ini. Sepertinya kalian akan tampak serasi. Benarkan Pah?" Mama Aneu bertanya pada suaminya namun matanya tertuju pada putranya, Evan yang mendengar itu tampak biasa saja dan tidak menunjukan reaksi sama sekali.
"Sudahlah mah, biarkan mereka memilih pasangan hidup mereka masing-masing." Kata Pak Hendra
"Lagi pula mereka masih muda, biarkan dulu mereka menikmati masa mudanya." Tambah Pak Andi
__ADS_1
"Maaf, sepertinya saya harus pergi." Evan lantas berdiri hendak berpamitan, ia rasa sudah cukup mendengar percakapan orang tuanya yang menjurus ke arah perjodohan.
"Menginaplah di sini." ucap Mama Aneu
"Tidak bisa mah, masih banyak pekerjaan yang harus segera di selesaikan."
Evan kemudian berpamitan pada rekan ayahnya.
"Maaf sepertinya saya harus pamit pulang, ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan" Ucap Evan sambil mengulurkan tangannya pada Pak Andi
Pak Andi menerima uluran tangan Evan
"Sepertinya kau seorang pekerja keras." kata Pak Andi
Evan hanya menanggapinya dengan senyuman.
"Senang bertemu dengan Anda, Paman." Evan kemudian berpamitan pada kedua orang tuanya, tak lupa ia juga berpamitan pada Reyna meski hanya dengan senyuman kilatnya.
Setelah Evan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, Pak Hendra menjelaskan bahwa putranya sudah tidak tinggal di rumahnya sejak 5 tahun lalu. Evan lebih memilih untuk tinggal di apartemen, ia ingin belajar hidup mandiri.
Pak Andi mengangguk paham.
"Sepertinya kami juga harus pamit." kata Pak Andi
"Kenapa terburu-buru?" padahal aku masih ingin bercengkrama dengan putrimu yang cantik ini." Mama Aneu sepertinya tampak senang dengan keberadaan Reyna.
"Lain kali kalianlah yang berkunjung ke rumah kami"
"Tentu, jika ada waktu luang kami akan berkunjung ke sana. Terima kasih sudah mau berkunjung ke rumah kami." kata Pak Hendra
Setelah berpamitan Reyna dan ayahnya hendak pergi menuju mobil yang terparkir di bagasi milik keluarga Mahendra.
"Sepertinya ayah meninggalkan sesuatu, kamu tunggu di sini sebentar."
Reyna hanya mengangguk, tak lama dari itu ia melihat Evan masih berada di sana dengan ponsel di telinganya. Dan ketika Evan hendak membuka pintu mobilnya ia di kaget kan dengan suara seorang wanita yang tak lain adalah Reyna.
"Tunggu!"
Evan kemudian mematikan ponselnya,
"Maaf aku tidak punya waktu untuk meladeni mu."
"Aku hanya ingin bertanya, apakah sebelumnya kita pernah bertemu?"
Evan melihat gadis yang ada di hadapannya sambil mengernyitkan dahinya.
"Tidak." Jawabnya singkat.
"Baiklah, Terima kasih." Reyna membalikan tubuh dan berlalu begitu saja.
"Hanya itu? hah buang-buang waktu saja." Evan pun ikut berlalu menaiki mobilnya dan pergi.
Di perjalanan Evan benar-benar terganggu dengan pertanyaan Reyna tadi, ia menepikan mobilnya sejenak dan berusaha mengingat-ingat.
Pikirannya tertuju pada kejadian 5 tahun silam, ketika ia dan kekasihnya Hana pergi untuk jalan-jalan. Namun tanpa di duga kekasihnya itu membawa seorang gadis yang terlihat berantakan, dan ada beberapa luka di wajahnya.
"Apa mungkin dia orang yang sama? tapi penampilannya sangatlah jauh berbeda."
Tak mau larut dalam pemikirannya Evan kemudian menyalakan kembali mobilnya dan melanjutkan lagi perjalanannya.
__ADS_1