
Tengah malam Reyna terbangun karena perutnya terasa lapar. Ia hendak pergi ke dapur mencari sesuatu untuk di makan, tapi ketika sampai di dapur ternyata Evan juga ada di sana sedang membuka lemari es. Ia mengenakan t-shirt pendek berwarna putih juga celana pendek di atas lutut. Sungguh ini adalah pemandangan yang belum pernah Reyna lihat sebelumnya.
Evan menutup pintu lemari es, membalikan badannya sambil meminum minuman yang ada di tangannya. Ia pun melihat ke arah Reyna. Untuk sesaat pandangan mereka saling bertemu sebelum akhirnya Reyna memutuskan pandangannya terlebih dahulu, dan membalikan badannya kemudian pergi dari sana dengan salah tingkah.
Reyna memegang dadanya setelah ia kembali ke kamarnya, entah kenapa setiap kali bertemu Evan jantungnya selalu berdetak dengan kencang.
Reyna kemudian tersadar oleh suara perunya yang belum terisi "Aah perutku." keluh Reyna sambil mengusap perutnya.
Setelah jantungnya yang bermasalah kini perutnya yang terasa perih, karena memang sejak datang dari Rumah sakit Reyna belum sempat mengisi perutnya dengan apapun.
Reyna mencoba untuk tidur tapi rasa lapar benar-benar mengganggunya. Ia pun beranjak dari kamarnya menuju dapur dengan mengendap-endap, siapa tahu Evan sudah pergi dari sana.
Reyna bernapas dengan lega ketika Evan sudah tidak ada disana, ia pun mendekat ke arah lemari es dan membukanya. Reyna mencebikkan bibirnya ketika ia tidak menemukan makanan di dalamnya. Ia hanya melihat berbagai macam minuman kaleng berupa bir dan soda.
"Apa yang dia makan selama ini." Ucap Reyna sambil menutup pintu lemari es dengan lesu.
__ADS_1
Reyna kembali mendengar bunyi perutnya, ia lantas membuka seluruh rak dapur yang ada di sana, namun ia tidak menemukan apapun. Pada akhirnya Reyna hanya minum air putih untuk mengatasi rasa laparnya.
"Hahh, percuma banyak uang kalau tidak bisa di nikmati." Ucap nya sambil menyimpan gelas dengan gusar. Rasa lapar tidak hanya membuat asam lambungnya naik, tapi tensi nya pun juga ikut naik.
Evan memang tidak pernah memikirkan urusan dapur, karena Mama Aneu lah yang selalu menyiapkan makanan dan mengisi lemari es untuknya. Meskipun Evan sudah tinggal terpisah, Mama Aneu tetap saja datang ke apartemen Evan untuk memastikan putranya makan dengan baik.
Berhubung Mama Aneu sedang di rawat di rumah sakit, tidak ada yang mengisi lemari es nya dengan berbagai macam makanan. Sementara Evan, ia tidak terlalu memikirkan urusan perutnya, jika ia ingin makan maka ia akan memesannya lewat online atau paling tidak dia akan makan di luar.
Reyna kembali ke kamarnya, tapi sebelum itu ia melihat ke arah kamar Evan yang tertutup rapat, ia masih teringat tentang kejadian tadi sore di mana Evan membentak dan mengusirnya karena sebuah foto
.
.
Pagi hari sebelum matahari terbit Reyna telah terbangun dari tidurnya, Ia tengah bersiap-siap untuk mencari swalayan atau pasar yang ada di sekitar sana.
__ADS_1
Ia ingin berbelanja kebutuhan rumah tangga termasuk sayuran dan buah-buahan serta makanan lainnya untuk mengisi kulkas yang sudah seperti rumah tak berpenghuni.
Reyna berdiri di depan cermin, ketika hendak memakai bajunya, Reyna kembali melihat bekas luka yang ada di tubuhnya, ada begitu banyak bekas luka terutama di bagian lengan atas serta di bagian punggungnya.
Bekas luka itu tidak seperti luka akibat kecelakaan, tapi lebih mirip seperti luka cambukan, sayatan bahkan juga luka akibat benda panas. Ya, selama lima tahun bekas luka itu belum juga pudar.
Reyna langsung teringat perkataan Sena sewaktu mereka bertemu di kafe X, bahwa Reyna kehilangan sebagian ingatannya akibat trauma yang di deritanya bukan karena kecelakaan.
Reyna lagi-lagi memperhatikan bekas luka di sekitar tubuhnya "Apa aku pernah mengalami kekerasan? Tapi siapa yang melakukan itu."
Reyna tiba-tiba teringat seseorang. Seseorang yang sejak lima tahun ini menghilang bak di telan bumi. "Ibu? Apa ibu yang melakukannya."
Reyna tidak ingin berburuk sangka, tapi ketiadaan ibunya membuat ia bertanya-tanya, tanpa alasan yang jelas ibunya menghilang, bahkan sampai hari ini ibunya tidak pernah menampakan batang hidungnya walau hanya sekedar bertemu dan menanyakan keadaan anak-anaknya.
Reyna kini harus berusaha mengingat apa yang di alaminya lima tahun lalu, karena itu satu-satunya cara agar ia tahu kebenarannya. Kebenaran tentang ibunya yang menghilang entah kemana dan juga tentang kematian Hana yang selama ini menjadi beban pikirannya.
__ADS_1