You & My Destiny

You & My Destiny
Konsultasi


__ADS_3

Setelah menemukan ponselnya Reyna duduk bersama Kak Sena yang sedari tadi menunggu nya.


"Kau ini bagaimana, kau yang membuat janji tapi kau sendiri yang terlambat. Apa kau tidak tahu kesibukan seorang dokter." ucap Sena dengan nada sedikit bercanda


"Maaf, tadi ada sedikit inseden sehingga membuatku telat datang kesini."


Sena hanya menganggukkan kepalanya, tanpa ingin tahu lebih dalam inseden apa yang membuat Reyna sampai terlambat datang.


Reyna dan Sena sudah saling mengenal sejak lama sehingga mereka bersikap layaknya seorang teman, walaupun usia Reyna lebih muda 3 tahun dari Sena.


"Katakan ada apa kau menghubungiku?" tanya Sena to the poin


"Kenapa terburu-buru, lebih baik kakak pesan makanan dulu, lagi pula jadwal praktek kakak siang kan?"


"Ya sudah lah, kita pesan makanan dulu."


Sena memanggil pelayan kafe yang ada di sana dengan mengangkat sebelah tangannya.


"Kau mau pesan apa?" tanya nya pada Reyna


"Aku pesan lemon tea saja." Jawab Reyna dengan santai


"Kau tidak pesan makanan?"


"Aku sudah sarapan"


"Baiklah, lemon tea satu, hot chocolate satu."


Setelah pelayan pergi, Sena kembali mengajukan pertanyaan yang sempat tertunda.


"Sekarang ceritakan apa yang ingin kau ceritakan."


"Sebentar kak, aku ingin ke toilet dulu."


"Ish kau ini." ucap Sena yang mulai kesal. Tapi mau bagaimana lagi ia tidak mungkin menahan Reyna juga di sini.


"Jangan lama-lama." katanya lagi


Reyna yang hendak ingin ke toilet, berhenti sejenak melihat sesosok pria yang tidak sengaja ia tabrak.


"Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?" Ia bertanya pada dirinya sendiri mencoba mengingat, namun kepalanya kembali berdenyut ketika mencoba mengingat sesuatu.


Tidak mau berlama lama memandangi orang yang belum ia kenal, Reyna kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet.


beberapa menit kemudian

__ADS_1


"Sudah selesai?"


"Sudah."


"Apa ada yang ingin kau lakukan lagi?" sindir Sena


"Tidak ada." Reyna hanya menanggapinya dengan tawa


"Baiklah sekarang ceritakan sebelum aku pergi."


"Baiklah bu dokter." Reyna menghela nafas panjang dan meminum minumannya yang sudah di pesannya tadi sebelum menceritakan apa yang ia alami akhir akhir ini.


"Akhir akhir ini aku selalu bermimpi buruk sehingga membuatku kesulitan untuk tidur, mimpi yang tampak sama dan terjadi berulang kali. Menurut kakak apa itu hal yang wajar?" tanya Reyna


"Ada kemungkinan mimpi yang terjadi secara berulang kali ada kaitannya dengan sesuatu hal yang pernah kita alami di dunia nyata, kebutuhan-kebutuhan yang belum terpenuhi atau bahkan masalah di masa lalu yang belum terselesaikan." Jelas Sena


"Masa lalu? bahkan aku tidak mengingatnya. Ada kemungkinan mimpi itu datang karena ada sesuatu hal yang belum terselesaikan seperti apa yang kakak utarakan."


"Bisa iya, bisa juga tidak."


Sena menggenggam tangan Reyna, ia melihat kekalutan di wajah Reyna dan mencoba menenangkannya.


"Jangan terlalu di pikirkan, biarkan semua berjalan dengan sendirinya. Jika suatu saat kau mengingatnya, kau harus mempersiapkan jiwa dan ragamu untuk menerima sebuah kenyataan pahit."


"Maksud kakak?" tanya Reyna heran


"Aku masih belum mengerti." Reyna masih terlihat bingung dengan penjelasan Sena


"Nana sayang, kau kehilangan sebagian ingatanmu karena trauma yang kau alami. Jadi jangan coba-coba untuk menggalinya kembali, karena itu hanya akan membuatmu terluka." Ucap Sena begitu saja tanpa menyadari bahwa ia sudah kelepasan bicara.


"Trauma? tapi ayahku bilang aku mengalami cidera di kepala karena kecelakaan."


Sena mengusap tengkuknya, ia bingung harus mengatakan apa, pasalnya ia sudah berjanji untuk tidak mengatakan yang sebenarnya.


"Tidak ada luka akibat benturan di kepalamu, tapi aku juga tidak tahu trauma apa yang kau alami." ucap Sena dengan hati-hati


"Kau jangan menyalahkan ayahmu, mungkin dia punya alasan tersendiri kenapa dia sampai berbohong." lanjutnya lagi.


Reyna hanya mengangguk mengiyakan, tapi hatinya benar-benar ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Sepertinya aku harus mencari tahunya sendiri."


Keduanya terdiam dalam pemikirannya masing-masing, sampai suara dering ponsel menyadarkan keduanya.


"Kakakmu yang menelepon?" tanya Sena setelah melihat Reyna menutup telepon nya

__ADS_1


"Heem, dia menyuruhku untuk pulang."


"Kakakmu itu posesif sekali." kata Sena lalu meneguk hot chocolate yang sudah di pesannya tadi


"Oh iya kak, kau tahu tadinya aku ingin menjodohkan kakak dengan kak Reyhan. Tapi sepertinya kak Reyhan sudah punya kekasih."


"Dari mna tau tahu bahwa kakak mu itu punya kekasih?" tanya Sena masih dengan nada biasa


"Tentu saja aku tahu, karena malam nanti kak Rey akan berkencan."


"APA?" ucap Sena dengan nada yang mulai naik satu oktap


Reyna yang mendengar itu jelas kaget, Kak Sena yang biasa anggun dan berwibawa bisa berteriak seperti itu.


"Kanapa ekspresi kakak seperti itu?" apa jangan-jangan kakak punya rasa ya sama kak Rey?" tanya Reyna yang mulai curiga


"Ti..tidak." jawab Sena dengan gugup, rona pipinya berubah menjadi merah


Reyna yang melihat itu pun tersenyum, iya yakin bahwa Sena menyukai kakaknya.


"Baiklah kak, sepertinya aku harus pergi sebelum teror di dalam ponselku berbunyi lagi. Terima kasih untuk konsultasi nya hari ini."


"Jangan lupa bayar biaya konsulnya." canda Sena


"Ok! tapi kakak tidak apa apa kan jika aku pergi duluan?" tanya Reyna, ia benar-benar tak enak hati jika harus pergi begitu saja.


"Tidak apa-apa, kakak juga akan pergi."


"Baiklah kalau begitu aku duluan ya kak, sampai jumpa."


Setelah melihat punggung Reyna yang mulai menjauh, Sena teringat kembali akan kata-kata Reyna yang mengucapkan bahwa kakaknya akan berkencan, tentu saja hal itu membuat gejolak yang ada di dalam dadanya keluar begitu saja.


"Hah berkencan? yang benar saja." ucapnya sambil tersenyum sinis.


"Ini tidak bisa di biarkan..."


Akhirnya Sena pun ikut keluar dengan perasaan yang kesal entah itu cemburu atau apa yang jelas ia harus menggagalkan kencannya Reyhan, pria yang sudah sejak lama ia sukai.


.


.


.


.

__ADS_1


.


See you~~


__ADS_2